Kamis, 18 Februari 2021

Ilmu, Filsafat, dan Agama

    Kedudukan Ilmu, Filsafat, dan Agama

    Antara filsafat dan ilmu mempunyai persamaan, dalam hal bahwa keduanya merupakan hasil ciptaan kegiatan pikiran manusia, yaitu berfikir filosofis, spkulatif dan empiris ilmiah. Namun ke-eksakan pengetahuan filsafat tidak mungkin diuji seperti pengetahuan ilmu. Yang pertama tersusun dari hasil riset dan eksperimen antara ilmu dan filsafat juga mempunyai perbedaan, terutama untuk filsafat menuntukan tujuan hidup sedangkan ilmu menentukan sarana untuk hidup.

a.       Persamaan

    Antara ilmu, filsafat dan agama ketiganya mempunyai tujuan yang sama yaitu memperoleh kebenaran. Walaupun dalam mencari kebenaran tersebut baik ilmu, filsafat maupun agama mempunyai caranya sendiri-sendiri.

    Ilmu dengan metodenya mencari kebenaran tentang alam, termasuk manusia dan makhluk hidup yang ada di dalamnya. Filsafat dengan wataknya menghampiri kebenaran, baik tentang alam maupun manusia yang tidak dapat dijawab oleh ilmu. Sedangkan agama dengan kepribadiannya memberikan persoalan atas segala persoalan yang dipertanyakan manusia, baik tentang alam, manusia maupun tentang tuhan.

b.      Perbedaan

Ilmu pengetahuan mencari kebenaran dangan cara penyelidikan (riset), pengalaman (empiri), dan percobaan (eksperimen). Filsafat menemukan kebenaran atau kebijakan dengan cara penggunaan akal budi atau rasio yang dilakukan secara mendalam, menyeluruh, dan universal. Kebenaran yang diperoleh atau ditemukan oleh filsafat adalah murni hasil pemikiran (logika) manusia, dengan cara perenungan (berpikir) yang mendalam (radikal) tentang hakikat segala sesuatu (metafisika). Sedangkan agama mengajarkan kebenaran atau memberi jawaban tentang berbagai masalah asasi melalui wahyu atau kitab suci yang berupa firman Tuhan.

Filsafat adalah induk pengetahuan, filsafat adalah teori tentang kebenaran. Filsafat mengedepankan rasionalitas, pondasi dari segala macam disiplin ilmu yang ada. Filsafat juga bisa diartikan sebagai ilmu pengetahuan yang menyelidiki dan memikirkan segala sesuatunya secara mendalam dan sungguh-sungguh, serta radikal. Filsafat menghampiri kebenaran dengan cara menualangkan (mengelanakan atau mengembarakan) akal-budi secara radikal dan integral serta universal.

Agama lahir sebagai pedoman dan panduan. Agama lahir tidak didasari dengan riset, rasis atau uji coba. Melainkan lahir dari proses peciptaan zat yang berada diluar jangkauan manusia. Kebenaran agama bersifat mutlak, karena agama diturunkan Dzat yang maha besar, maha mutlak, dan maha sempurna yaitu Allah.

Ilmu pengetahuan adalah suatu hal yang dipelopori oleh akal sehat, ilmiah, empiris dan logis. Ilmu adalah cabang pengetahuan yang bekembang pesat dari waktu kewaktu. Segala sesuatu yang berawal dari pemikiran logis dengan aksi yang ilmiah serta dapat dipertanggung jawabkan dengan bukti yang konkret.

Ilmu dan filsafat, kedua-duanya dimulai dengan sikap sangsi atau tidak percaya. Sedangkan agama dimulai dengan sikap percaya dan iman.

 

 

 

 

 

Terdapat beberapa asumsi terkait dengan jalinan filsafat dengan agama. Asumsi tersebut didasarkan pada anggapan manusia sebagai makhluk sosial. Saifullah dalam Nurratu (2012) memberikan ikhtisar dalam bagan yang lebih terperinci mengenai perbandingan jalinan agama dan filsafat yang dapat dilihat pada Tabel 1.

 

Tabel 1. Perbandingan antara agama dan filsafat

 

Agama

Filsafat

a.         Agama adalah unsur mutlak dan sumber kebudayaan.

b.        Agama adalah ciptaan Tuhan.

c.         Agama adalah sumber-sumber asumsi dari filsafat dan ilmu pengetahuan (science).

d.        Agama mendahulukan kepercayan dari pada pemikiran.

e.         Agama mempercayai akan adanya kebenaran dan khayalan dogma-dogma agama.

a.       Filsafat adalah salah satu unsur kebudayaan.

b.      Filsafat adalah hasil spekulasi manusia.

c.       Filsafat menguji asumsi-asumsi science, dan science mulai dari asumsi tertentu.

d.      Filsafat mempercayakan sepenuhnya kekuatan daya pemikiran.

e.       Filsafat tidak mengakui dogma-dogma agama sebagai kenyataan tentang kebenaran.

 

Dengan demikian terlihat bahwa peran agama dalam meluruskan filsafat yang spekulatif terhadap kebenaran mutlak yang terdapat dalam agama. Sedangkan peran filsafat terhadap agama adalah membantu keyakinan manusia terhadap kebenaran mutlak itu dengan pemikiran yang kritis dan logis.

 

 

 

c. Titik singgung

Baik ilmu, filsafat, dan agama ketiganya saling melengkapi. Karena tidak semua masalah yang ada didunia ini dapat diselesaikan oleh ilmu. Karena ilmu terbatas, oleh subjeknya, oleh objeknya maupun metodologinya. Sehingga masalah tersebut diselesaikan oleh filsafat karena filsafat bersifat spekulatif dan juga alternatif. Agama memberi jawaban tentang banyak soal asasi yang sama sekali tidak terjawab oleh ilmu, yang dipertanyakan namun tidak terjawab bulat oleh filsafat. Namun ada juga masalah yang tidak dapat dijawab oleh agama melainkan dijawab oleh ilmu.

Dengan demikian terlihat bahwa peran agama adalah meluruskan filsafat yang spekulatif terhadap kebenaran mutlak yang terdapat dalam agama. Sedangkan peran filsafat terhadap agama adalah membantu keyakinan manusia terhadap kebenaran mutlak itu dengan pemikiran yang kritis dan logis.

Pada prinsipnya antara ilmu, filsafat, dan agama mempunyai hubungan yang erat dan saling terkait antara satu dan lainnya. Di mana ketiganya memiliki kekuatan daya gerak dan refleksi yang berasal dari manusia. Dalam diri manusia terdapat daya yang menggerakkan ilmu, filsafat, dan agama yaitu melalui akal pikir, rasa, dan keyakinan.

Akal pikiran manusia sebagai daya gerak dan berkembangnya ilmu dan filsafat. Sedangkan keyakinan menjadi daya gerak agama. Ilmu diperoleh melalui akal pikiran manusia dari pengalaman (empiris) dan indera (riset). Filsafat mendasarkan pada otoritas akal murni secara bebas, sedangkan agama mendasarkan diri pada otoritas wahyu.

Nasrun dalam Faizah (2011) mengemukakan bahwa filsafat yang sejati haruslah berdasarkan agama. Apabila filsafat hanya semata-mata berdasarkan akal pikiran saja, filsafat tersebut tidak akan memuat kebenaran objektif karena akal pikiran mempunyai keterbatasan.

D. Jalinan Filsafat dan Ilmu

Antara filsafat dan ilmu mempunyai persamaan, dalam hal bahwa keduanya merupakan hasil ciptaan kegiatan pikiran manusia, yaitu berfikir filosofis, spkulatif dan empiris ilmiah. Namun ke-eksakan pengetahuan filsafat tidak mungkin diuji seperti pengetahuan ilmu. Yang pertama tersusun dari hasil riset dan eksperimen antara ilmu dan filsafat juga mempunyai perbedaan, terutama untuk filsafat menuntukan tujuan hidup sedangkan ilmu menentukan sarana untuk hidup.

 Filsafat disebut sebagai induk dari ilmu pengetahuan. Hal ini didasarkan pada perbedaan berikut ini:

Ø  Mengenai lapangan pembahasan

Ø  Mengenai tujuannya

Ø  Mengenai cara pembahasannya

Ø  Mengenai kesimpulannya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

 

Secara etimologis filsafat berasal dari kata yunani philia love, cinta dan Sophia wisdom, kebijaksanaan. Jadi ditinjau dari pada arti etimologis istilah ini berarti cinta pada kebjaksanaan.

Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang berasal dari pengamatan, studi dan pengalaman yang disusun dalam satu system untuk menentukan hakikat dan prinsip tentang hal yang sedang dipelajari.

Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.

Baik ilmu, filsafat, maupun agama juga mempunyai hubungan lain. Yaitu ketiganya dapat digunakan untuk memecahkan masalah pada manusia. Karena setiap masalah yang di hadapi hadapi oleh manusia sangat bermcam-macam. Ada persoalan yang tidak dapat diselesaikan dengan agama seperti contohnya cara kerja mesin yang dapat dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Ilmu dan filsafat, kedua-duanya dimulai dengan sikap sangsi atau tidak percaya. Sedangkan agama dimulai dengan sikap percaya dan iman.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Abidin, Zainal. Filsafat Barat. 2011. Jakarta: Rajawali Pers

Anshari, Endang Saifuddin. Ilmu, Filsafat, dan Agama. 1979. Jakarta: Bulan Bintang

Susanto, A. Filsafat Ilmu: Suatu Kajian Dalam Dimensi. 2011. Jakarta: PT. Bumi Aksara

Surajiyo, Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia. 2010. Jakarta : PT. Bumi Aksara

 

 

 

Teori Classical Conditioning

                                                                             BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang

Pendekatan pembelajaran dapat dikategorikan sebagai perilaku atau kognitif. Perilaku merupakan segala sesuatu yang kita lakukan, baik verbal maupun nonverbal yang dapat langsung dilihat atau didengar. Behavorisme adalah pandangan bahwa perilaku harus dijelaskan oleh pengalaman yang dapat diamati, bukan oleh proses mental.

Pendekatan pembelajaran yang akan dibahas dalam makalah ini adalah pendekatan. Perilaku pendekatan menekankan pentingnya anak-anak membuat hubungan antara pengalaman dan perilaku. Salah satunya adalah pengondisian klasik. Pandangan ini menekankan pada pembelajaran asosiatif, yaitu pembelajaran bahwa dua peristiwa terhubung atau berhubungan.

 

B. Rumusan Masalah

1. Apakah yang dimaksud dengan teori Classical Conditioning?

2. Apakah yang dimaksud generalisasi, diskriminasi, dan kepunahan dalam teori Classical Conditioning?

3. Apakah yang dimaksud desensitisasi sistematis dalam teori Classical Conditioning?

4. Bagaimana contoh teori Classical Conditioning terhadap guru dan siswa?

 

C. Tujuan Masalah

1. Untuk mengetahui pengertian teori Classical Conditioning.

2. Untuk mengetahui pengertian dan aplikasi dari generalisasi, diskriminasi, dan kepunahan dalam teori Classical Conditioning.

3. Untuk mengetahui pengertian dan aplikasi dari desensitisasi sistematis dalam teori Classical Conditioning.

4. Untuk mengetahui contoh teori Classical Conditioning terhadap guru dan siswa.

 



BAB II

PEMBAHASAN

 

A. Pengertian Teori Classical Conditioning (Pengondisian Klasik)

Pengondisian klasik (Classical Conditioning) adalah jenis pembelajaran di mana sebuah organisme belajar untuk menghubungkan, atau asosiasi rangsangan netral (seperti melihat seseorang) menjadi terkait dengan rangsangan bermakna (seperti makanan) dan memperoleh kemampuan untuk memperoleh respons yang sama. Pengondisian klasik merupakan gagasan dari Ivan Pavlov (1927). Untuk sepenuhnya memahami teori Pavlov mengenai pengondisian klasik, kita perlu memahami dua jenis rangsangan dan dua jenis tanggapan:

1. Rangsangan Tidak Terkondisi (Unconditioned Stimulus-UCS)

2. Respons Tidak Terkondisi (Unconditioned Response-UCR)

3. Rangsangan Terkondisi (Conditioned Stimulus-CS)

4. Respons Terkondisi (Conditioned Respons-CR)

 

Perhatikan gambar berikut:

 

Gambar di atas merupakan ringkasan bagaimana teori pengondisian klasik bekerja. Unconditioned Stimulus adalah stimulus yang secara otomatis menghasilkan respons tanpa harus belajar sebelumnya. Makanan adalah Unconditioned Stimulus dalam percobaan Pavlov. Unconditioned Response adalah respons tanpa belajar yang secara otomatis ditimbulkan oleh Unconditioned Stimulus. Air liur anjing berperan dalam menanggapi makanan Unconditioned Response.

Conditioned Stimulus adalah stimulus yang sebelumnya netral yang akhirnya memunculkan respons terkondisi setelah dikaitkan dengan Unconditioned Stimulus. Diantara rangsangan yang dikondisikan dalam percobaan Pavlov ada berbagai pemandangan dan suara yang terjadi sebelum anjing benar-benar memakan makanannya, seperti suara pintu ditutup sebelum makanan ditempatkan di piring anjing. Conditional Response adalah respons yang dipelajari terhadap stimulus terkondisi yang terjadi setelah Unconditioned Stimulus dan Conditioned Stimulus dipasangkan.

 

B. Generalisasi, Diskriminasi, dan Kepunahan

Dalam mempelajari respons anjing terhadap berbagai rangsangan, Pavlov membunyikan bel sebelum memberikan daging kepada anjing dengan dipasangkan dengan Unconditioned Stimulus (daging) lonceng menjadi Conditioned Stimulus dan menimbulkan air liur anjing. Setelah beberapa waktu, Pavlov menemukan bahwa anjing juga menanggapi suara lain, seperti peluit. Semakin lonceng menimbulkan kebisingan, semakin kuat respons anjing. Generalisasi dalam pengondisian klasik melibatkan kecenderungan rangsangan baru yang mirip dengan rangsangan yang dikondisikan asli untuk menghasilkan respons yang sama (Pearce & Hall, 2009).

Contoh saat di kelas, seorang siswa dikritik karena kemampuannya yang kurang baik dalam ujian biologi. Ketika siswa tersebut mempersiapkan diri untuk ujian kimia ia juga menjadi sangat gugup karena kedua materi pelajaran tersebut sangat erat kaitannya dalam sains. Dengan demikian, kecemasan siswa menggeneralisasikan dari mengambil tes dalam satu mata pelajaran untuk mengambil tes di tempat lain.

Diskriminasi dalam pengondisian klasik terjadi ketika organisme merespons rangsangan tertentu, tetapi tidak yang lain. Untuk menghasilkan diskriminasi, Pavlov memberikan makanan untuk anjing hanya setelah dering lonceng, tidak setelah ada suara lain. Selanjutnya, anjing hanya merespons bel. Dalam kasus siswa yang melakukan ujian dalam kelas yang berbeda, ia tidak menjadi gugup ketika melakukan ujian bahasa Inggris atau ujian sejarah karena mereka bidang studi yang sangat berbeda.

Kepunahan dalam pengondisian klasik melibatkan melemahnya respons terkondisi (Conditioned Response) tanpa adanya rangsangan tidak terkondisi (Unconditioned Response). Dalam satu sesi, Pavlov membunyikan bel berulang kali, namun tidak memberikan makanan pada anjing. Akhirnya air liur anjing berhenti saat mendengar suara lonceng. Dengan demikian, jika seorang siswa merasa gugup saat ujian kemudian ia mencoba untuk berusaha lebih baik lagi, kecemasannya akan memudar.

 

C. Desentisasi Sistematis

Terkadang kecemasan dan stres yang berhubungan dengan peristiwa negative dapat dihilangkan dengan pengondisian klasik (Maier & Seligman, 2009). Desentisasi sistematis adalah metode yang didasarkan pada pengondisian klasik yang mengurangi kecemasan dengan mendapatkan individu untuk mengasosiasikan relaksasi dengan visualisasi dari situasi berturut yang semakin memproduksi kecemasan. Misalnya, jika ada seorang siswa di kelas yang sangat gugup bicara di depan kelas. Tujuan dari desentisasi sistematis adalah untuk mendapatkan siswa agar dapat mengasosiasikan bicara kepada publik dengan relaksasi, seperti berjalan di pantai yang tenang, bukan kecemasan. Melibatkan visualisasi secara berturut-turut, mungkin saja siswa berlatih desentisasi sistematis jauh-jauh hari sebelum ia melakukan pembicaraan di depan publik.

Desentisasi melibatkan jenis pengondisian cacah (counterconditioning), perasaan snatai bahwa siswa membayangkan (Unconditioned Stimulus) menghasilkan relaksasi (Unconditioned Response). Siswa tersebut kemudian mengasosiasikan isyarat memproduksi kecemasan (Conditioned Stimulus) dengan perasaan santai. Yang pada awalnya siswa tersebut merasa cemas, dengan relaksasi secara bertahap yang ia lakukan jauh-jauh hari sebelum ia melakukan pembicaraan, pada akhirnya ia akan menajadi rileks (Conditoned Response).

 

D. Contoh teori Classical Conditioning terhadap guru dan siswa

Pengondisian klasik dapat terlibat dalam kedua pengalaman positif dan negatif anak-anak di dalam kelas. Di antara hal-hal sekolah anak yang menghasilkan kesenangan karena mereka telah mendapatkan pengondisian klasik adalah lagu-lagu favorit dan perasaan bahwa kelas adalah tempat yang aman dan menyenangkan. Sebagai contoh, sebuah lagu dapat menjadi netral untuk anak sampai ia bergabung dengan teman sekelas lain untuk menyanyikannya dengan disertai perasaan positif.

Anak-anak dapat mengembangkan perasaan takut di kelas jika mereka mengasosiasikan kelas dengan kritik, sehingga kritik menjadi Conditioned Stimulus karena takut. Pengondisian klasik juga terlibat dalam tes kecemasan. Misalnya, seorang anak gagal dan dikritik, yang menghasilkan kecemasan,setelah itu ia mengasosiasikan tes dengan kecemasan, sehingga mereka kemudian dapat menjadi Conditioned Stimulus untuk kecemasan.

 

Beberapa masalah kesehatan anak-anak juga mungkin melibatkan pengondisian klasik. Keluhan fisik atau asma tertentu, sakit kepala, dan tekanan darah tinggi juga mungkin sebagian karena pengondisian klasik. Seringkali yang terjadi adalah, rangsangan tertentu seperti orangtua atau kritik berat dari guru merupakan rangsangan terkondisi untuk respon fisiologis. Seiring waktu, frekuensi respon fisiologis dapat menyebabkan masalah kesehatan. Kritik terus menerus seorang guru terhadap siswa dapat menyebabkan siswa merasakan ketegangan, sakit kepala, ketegangan otot, dan sebagainya. Apapun yang berhubungan dnegan guru, seperti latihan kelas belajar dan pekerjaan rumah, mungkin saja memicu stres pada siswa dan kemudian dihubungkan dengan sakit kepala atau respons fisiologis lainnya.

 



BAB III

PENUTUP

 

A. Kesimpulan

Pengondisian klasik membantu kita memahami beberapa aspek pembelajaran yang lebih baik daripada yang lain. Pengondisian ini unggul dalam menjelaskan bagaimana rangsangan netral menjadi terkait dengan yang tidak dipelajari. Hal ini sangat efektif membantu dan memahami kecemasan dan ketakutan siswa.

 

B. Saran

 



DAFTAR PUSTAKA

 

Santrock, John.W. 2011. Psikologi Pendidikan Educational Psychology. Jakarta. Salemba Humanika.

FILSAFAT BARAT

                                                                             BAB 1

PENDAHULUAN

 

 A. Latar Belakang

Dalam menghadapi seluruh kenyataan dalam hidupnya, manusia senatiasa terkagum atas apa yang dilihatnya. Manusia ragu-ragu apakah ia tidak ditipu oleh panca-inderanya, dan mulai menyadari keterbatasannya. Dalam situasi itu banyak yang berpaling kepada agama atau kepercayaan Ilahiah.

Tetapi sudah sejak awal sejarah, ternyata sikap iman penuh taqwa itu tidak menahan manusia menggunakan akal budi dan fikirannya untuk mencari tahu apa sebenarnya yang ada dibalik segala kenyataan (realitas) itu. Proses itu mencari tahu dan ahirnya menghasilkan kesadaran, yang disebut pencerahan. Jika proses itu memiliki ciri-ciri metodis, sistematis dan koheren, dan cara mendapatkannya dapat dipertanggung-jawabkan, maka lahirlah ilmu pengetahuan.

B. Rumusan Masalah

Agar pembahasan didalam makalah kami mudah dipahami, maka kami akan membatasi pembahasan dalam makalah kami, yaitu :

1.  Apa yang dimaksud dengan filsafat barat?

2. Siapa saja tokoh-tokoh filsafat barat?

3. awal terjadin ya periode awal,tengah dan akhir?

c. Tujuan Pembahasan

1.    Untuk menjelaskan pengertian dari filsafat barat.

2.    Menjelaskan tokoh-tokoh filsafat barat

3.     menjelaskan periode awal,periode tengah,periode akhir.

 

 

Bab 2

Pembahasan

Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan dalam konsep mendasar.filsafat didalami dengan melakukan eksperimen dan percobaan,tapi juga mengutarakan masalah secara persis,dan memberi solusi serta memberikan argumentasi dan alas an yang tepat untuk solusi tertentu.untuk studi filsafat mutlak diperlukanlogika berpikir dan logika bahasa.

A.FILSAFAT BARAT

      Filsafat barat  adalah sebutan yang digunakan untuk pemikiran pemikiran filsafat dalam dunia  barat atau occidental.pada umumnya filsafat terbagi menjadi dua bagian yaitu filsafat barat dan filsafat timur.dan filsafat barat beda dnegan filsafat timur atau oriental.

Permulaan dari sebutan filsafat barat ini dari keinginan untuk mengarah ke pada pemikiran atau filsafah peradabaan barat.

Tokoh utama filsafat barat antara lain plato,Thomas Aquinas,tene fescartes, Immanuel kant,Arthur Schopenhauer,karl heinrich marx,friedrich Nietzsche,jean-paul Sartre.

Dalam tradisi filsafat barat di Indonesia sendiri yang notabenenya adalah bekas jajahan bangsa eropa-belanda,dikenal dengan adanya pembidangan filsafat yang menyangkut tema tertentu.tema -tema tersebut adalah ontology,epistemology,dan aksiologi.

a. Tema ontology

Ontology membahas tentang masalah”keberadaan” sesuatu yang dapat dilihat  dan di bedakan secara empiris misalnya tentang keberadaan alam semesta,makhluk hidup,atau tata surya.

 

b. Tema epistemology

Berasal dari kata yunani yaitu episteme yang berarti pengetahuan dan logos yang berarti kata/pembicaraan/ilmu.ilmu ini termasuk salah satu yang paling sering diperdebatkan dan dibahas dalam bidang filsafat,contoh tentang apa itu pengetahuan,bagaimana karakteristiknya,macamnya serta hubungan kebenaran dan keyakinan.

Epistemologi atau Teori Pengetahuan yang berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia. Pengetahuan tersebut diperoleh manusia melalui akal dan panca indera dengan berbagai metode, diantaranya; metode induktif, metode deduktif, metode positivisme, metode kontemplatis dan metode dialektis.

 

 

 

 

c. Tema aksiologi

Merupakan cabang filsafat ilmu yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya,aksiologi berasal dari bahasa yunani yaitu axion yang berarti nilai dan logos yang berarti teori tentang nilai.

 

B. Tokoh - Tokoh filsafat barat

   

1.        Plato

Plato lahir sekitar 427 SM - meninggal sekitar 347 SM, dia adalah seorang filsuf dan matematikawan Yunani, dan pendiri dari Akademi Platonik di Athena, sekolah tingkat tinggi pertama di dunia barat. Ia adalah murid Socrates. Pemikiran Plato pun banyak dipengaruhi oleh Socrates. Plato adalah guru dari Aristoteles. Karyanya yang paling terkenal ialah Republik (dalam bahasa Yunani Πολιτεία atau Politeia, "negeri") yang di dalamnya berisi uraian garis besar pandangannya pada keadaan "ideal". Dia juga menulis 'Hukum' dan banyak dialog di mana Socrates adalah peserta utama. Salah satu perumpamaan Plato yang termasyhur adalah perumpaan tentang orang di gua.  Cicero mengatakan Plato scribend est mortuus (Plato meninggal ketika sedang menulis).

2.        Thomas Aquinas

Aquinas dilahirkan di Roccasecca dekat Napoli, Italia dalam keluarga bangsawan Aquino. Ayahnya ialah Pangeran Landulf dari Aquino dan ibunya bernama Countess Teodora Carracciolo. Kedua orang tuanya adalah orang Kristen Katolik yang saleh. Thomas, pada umur lima tahun diserahkan ke biara Benedictus di Monte Cassino agar dibina untuk menjadi seorang biarawan. Setelah sepuluh tahun Thomas berada di Monte Cassino, ia dipindahkan ke Naples. Di sana ia belajar mengenai kesenian dan filsafat (1239-1244).

Selama di sana , ia mulai tertarik pada pekerjaan kerasulan gereja , dan berusaha untuk pindah ke ordo dominikan , suatu ordo yg sangat berperan pada abat itu .

Keinginan nya tidak direstui orang tua nya sehingga ia harus tinggal di Roccasecca

Setahun lebih lamanya . namun , karena tekadnya pada tahun 1245 , Thomas resmi

Menjadi anggota ordo dominikan . sebagai anggota dominika , Thomas dikirim belajar pada universitas paris , sebuah universitas yg sangat terkemuka pada masa itu . ia belajar disana selama tiga tahun (1245-1248 ). Disinilah ia berkenalan dengan albertus magnus yg memperkenalkan filsafat aristoteles kepadanya . ia menemani albertus magnus memberikan kuliah di stadium generale di cologne , perancis , pada tahun 1248-1252 , pada tahun 1252 , ia kembali ke paris dan mulai memberi kuliah biblika ( 1252-1254 ) dan sentences , karangan petrus abelardus (1254-1256 ) di konven st.jacques ,paris .

 

Thomas ditugaskan untuk memberikan kuliah-kuliah dalam bidang filsafat dan teologia di beberapa kota di Italia, seperti di Anagni, Orvieto, Roma, dan Viterbo, selama sepuluh tahun lamanya. Pada tahun 1269, Thomas dipanggil kembali ke Paris untuk tiga tahun karena pada tahun 1272 ia ditugaskan untuk membuka sebuah sekolah Dominikan di Naples. Dalam perjalanan menuju ke Konsili Lyons, tiba-tiba Thomas sakit dan meninggal di biara Fossanuova, 7 Maret 1274. Paus Yohanes XXII mengangkat Thomas sebagai orang kudus pada tahun 1323.

3.        René Descartes

lahir di La Haye, Perancis, 31 Maret 1596–meninggal di Stockholm, Swedia, 11 Februari 1650 pada umur 53 tahun), juga dikenal sebagai Renatus Cartesius dalam literatur berbahasa Latin, merupakan seorang filsuf dan matematikawan Perancis. Karyanya yang terpenting ialah Discours de la méthode (1637) dan Meditationes de prima Philosophia (1641).Descartes, kadang dipanggil "Penemu Filsafat Modern" dan "Bapak Matematika Modern", adalah salah satu pemikir paling penting dan berpengaruh dalam sejarah barat modern. Dia menginspirasi generasi filsuf kontemporer dan setelahnya, membawa mereka untuk membentuk apa yang sekarang kita kenal sebagai rasionalisme kontinental, sebuah posisi filosofikal pada Eropa abad ke-17 dan 18. Pemikirannya membuat sebuah revolusi falsafi di Eropa karena pendapatnya yang revolusioner bahwa semuanya tidak ada yang pasti, kecuali kenyataan bahwa seseorang bisa berpikir. Dalam bahasa Latin kalimat ini adalah: cogito ergo sum sedangkan dalam bahasa Perancis adalah: Je pense donc je suis. Keduanya artinya adalah: "Aku berpikir maka aku ada". (I think, therefore I am). Meski paling dikenal karena karya-karya filosofinya, dia juga telah terkenal sebagai pencipta sistem koordinat Kartesius, yang memengaruhi perkembangan kalkulus modern. Ia juga pernah menulis buku berjudul Rules for the Direction of the Mind.

             4.        Immanuel Kant

Dia lahir di Königsberg, 22 April 1724 – meninggal di Königsberg, 12 Februari 1804 pada umur 79 tahun, dia adalah seorang filsuf Jerman. Karya yang terpenting adalah “Kritik der Reinen Vernunft”, 1781.  Dalam bukunya ini ia “membatasi pengetahuan manusia”. Atau dengan kata lain “apa yang bisa diketahui manusia.” Ia menyatakan ini dengan memberikan tiga pertanyaan: (1). Apakah yang bisa kuketahui? (2). Apakah yang harus kulakukan? (3). Apakah yang bisa kuharapkan? Pertanyaan ini dijawab sebagai berikut: (1). Apa-apa yang bisa diketahui manusia hanyalah yang dipersepsi dengan panca indria. Lain daripada itu merupakan “ilusi” saja, hanyalah ide. (2). Semua yang harus dilakukan manusia harus bisa diangkat menjadi sebuah peraturan umum. Hal ini disebut dengan istilah “imperatif kategoris”. Contoh:  orang sebaiknya jangan mencuri, sebab apabila hal ini diangkat menjadi peraturan umum, maka apabila semua orang mencuri, masyarakat tidak akan jalan. (3). Yang bisa diharapkan manusia ditentukan oleh akal budinya. Inilah yang memutuskan pengharapan manusia.

5.        Arthur Schopenhauer

Dia adalah seorang filsuf Jerman Schopenhauer lahir di Danzig pada tahun 1788. Ia menempuh pendidikan di Jerman, Perancis, dan Inggris. Ia mempelajari filsafat di Universitas Berlin dan mendapat gelar doktor di Universitas Jena pada tahun 1813. Ia menghabiskan sebagian besar hidupnya di Frankfurt, dan meninggal dunia di sana pada tahun 1860.

Dalam perkembangan filsafat Schopenhauer, ia dipengaruhi dengan kuat oleh Immanuel Kant dan juga pandangan Buddha. Pemikiran Kant nampak di dalam pandangan Schopenhauer tentang dunia sebagai ide dan kehendak. Kant menyatakan bahwa pengetahuan manusia terbatas pada bidang penampakan atau fenomena, sehingga benda pada dirinya sendiri (das Ding an sich) tidak pernah bisa diketahui manusia. Misalnya, apa yang manusia ketahui tentang pohon bukanlah pohon itu sendiri, melainkan gagasan orang itu tentang pohon. Schopenhauer mengembangkan pemikiran Kant tersebut dengan menyatakan bahwa benda-pada-dirinya-sendiri itu bisa diketahui, yakni "kehendak".

              6.        Karl Heinrich Marx

Lahir di Trier, Jerman, 5 Mei 1818 – meninggal di London, 14 Maret 1883 pada umur 64 tahun. Dia adalah seorang filsuf, pakar ekonomi politik dan teori kemasyarakatan dari Prusia. Walaupun Marx menulis tentang banyak hal semasa hidupnya, ia paling terkenal atas analisisnya terhadap sejarah, terutama mengenai pertentangan kelas, yang dapat diringkas sebagai "Sejarah dari berbagai masyarakat hingga saat ini pada dasarnya adalah sejarah pertentangan kelas", sebagaimana yang tertulis dalam kalimat pembuka dari Manifesto Komunis.

               7.        Friedrich Wilhelm Nietzsche

Lahir di Rocken dekat Lutzen, 15 Oktober 1844 – meninggal di Weimar, 25 Agustus 1900 pada umur 55 tahun. Dia adalah seorang filsuf Jerman dan seorang ahli ilmu filologi yang meneliti teks-teks kuno. Ia merupakan salah seorang tokoh pertama dari eksistensialisme modern yang ateistis.

8.        Jean-Paul Sartre

       Dia lahir di Paris, Perancis, 21 Juni 1905 – meninggal di Paris, 15 April 1980 pada  

      umur 74 tahun. Dia adalah seorang filsuf dan penulis Perancis. Ialah yang dianggap

      mengembangkan aliran eksistensialisme. Sartre menytakan , eksistensi lebih dulu

      ada disbanding esensi . manusia tidak memiliki apa – apa saat dilahirkan dan selama

      hidupnya ia tidak lebih hasil kalkulasi dari komitmen – komitmen nya dimasa lalu .

Karena itu, menurut Sartre selanjutnya, satu-satunya landasan nilai adalah kebebasan manusia (L'homme est condamné à être libre). Pada tahun 1964 ia diberi Hadiah Nobel Sastra, namun Jean-Paul Sartre menolak. Ia meninggal dunia pada 15 April 1980 di sebuah rumah sakit di Broussais (Paris). Upacara pemakamannya dihadiri kurang lebih 50.000 orang. Pasangannya adalah seorang filsuf wanita bernama Simone de Beauvoir. Sartre banyak meninggalkan karya penulisan diantaranya berjudul Being and Nothingness atau Ada dan Ketiadaan.

 

C. Periode-periode dalam filsafat barat

 

Filsafat barat dibagi menjadi 5 periodisasi yaitu :

 

1. Zaman yunani kuno (600 M – 400 M)

     Periode yunani kuno ini lazim disebut periode filsafat alam.periode ini ditandai dengan munculnya para ahli pikir alam seperti thales menyimpulkan air sebagai arche,Anaximander menyimpulkan bahwa sesuatu yang tidak terbatas sebagai asas mula kemudian anaximenes bahwa udara adalah asas mula,dan phytagoras menyatakan bahwa asas mula tersebut dapat diterangkan dengan menggunakan angka-angka,yang kemudian terkenal dengan dalilnya tentang segitiga siku-siku.puncak zaman yunani dicapai pada pemikiran filsafati sokrates,plato dan aristoteles.dimana arah dan perhatian pemikiranya kepada apa yang diamati di sekitarnya.mereka mencari asas yang pertama dari alam semesta yang sifatnya mutlak,yang berada di belakang segala sesuatu yang serba berubah.

       Pengertian filsafat pada saat itu masih berwujud ilmu pengetahuan yang sifatnya masih sempit.orang orang yunani memilki system kepercayaan,bahwa segala sesuatu harus diterima sebagai suatu kebenaran yang bersumber pada mitos atau dongeng.atau berarti juga suatu kebenaran lewat akal piker tidak berlaku,yang berlaku hanya sesuatu kebenaran yang bersumber pada mitos.

 

2. Abad pertengahan (300 m – 1500 m)

 

  Filsafat barat,pada abad pertengahan juga dapat dikatakan sebagai “ the dark age” atau abad yang gelap.karena pada saat itu manusia tidak lagi memilki kebiasaan untuk mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya,karena pada saat itu tindakan gereja sangat membelenggu kehidupan manusia.para ahli pada saat itu juga tidak memilki kebebasan berpikir.ketika terdapat pemikiran pemikiran yang bertentangan dengan ajaran gereja,orang yang menemukakan akan dihukum berat.

 

     Pada abad ini terbagi menjadi tiga masa,yaitu :

1. Masa patristic

 Yang artinya para pemimpin gereja,pada saat itu terdapat dua golongan dari ahli berpikir,yaitu ahli pikir yang menolak dan ahli pikir yang menerima filsafat yunani.bagi mereka yang menolak berasalan karena telah memilliki sumber kebenaran yaitu firman tuhan,sedangkan mereka yang menerima berasalan karena tidak ada salahnya mengambil keduanya asal tidak bertentangan dengan agama.

2. Masa skolastik

Berasal dari kata sifat school yang berarti sekolah,jadi  skolatis berarti aliran yang berkaitan dengan sekolah.filsafat skolastik merupakan suatu system yang termasuk jajaran pengetahuan alam kodrat,yang akan dimasukkan kedalam bentuk sintesis yang lebih tinggi antara kepercayaan dan akal.

3. Masa peralihan

Masa yang berada dipenghujung abad pertengahan,yang mana pada masa ini terjadi peralihan yang diisi dengan gerakan kerohanian yang bersifat pembaharuan.pada masa ini ditandai dengan munculnya renaissance,humanism dan reformasi.

 

 

4. Abad modern (1500 m -1800 m )

  Abad ini dimulai sejak adanya krisi pada abad pertengahan selama dua abad yang ditandai dengan munculnya gerakan renaissance yang tujuanya ditekankan pada bidang keagamaan,yakni merealisasikan kesempurnaan pandangan hidup kristiani dengan mengkaitkan filsafat yunani dengan ajaran agama Kristen.

   Dalam era filsafat modern ini kemudian diteruskan dengan era filsafat abad ke 20 ditandai dengan munculnya berbagai aliran pemikiran seperti rasionalisme,empirisme,kritisisme,idealism,positivism,evolusionisme,materialism,dan lain sebagainya.

 

5. Abad kotemporer (setelah 1800 m)

 Pada abad ini terdapat dua aliran pemikiran filsafat yang dapat dikatakan masih baru,walaupun baru tapi pemikiran filsafat ini memilki pengaruh cukup besar bagi kehidupan masyarakat pada abadnya.ciri ciri pada abad ini yaitu desentralisasi manusia.

Desentralisasi adalah perhatian khusus terhadap bahasa sebagai subjek kenyataan kita sehingga pemikiran filsafat sekarang disebut logosentris.kedua aliran yang dimaksud adalah aliran filsafat analistis dan filsafat strukturalis,

1. Filsafat analistis

Dipelopori oleh Ludwig josef dan johan Wittgenstein(1989-1951).sumbangan terbesarnya yaitu filsafat adalah pemikiran tentang pentingnya bahasa.ia mencita citakan suatu bahasa yang ideal,yang lengkap dan dapat diberikan kemungkinan bagi penyelesaian masalah masalah kefilsafatan

2. Filsafat strukturalisme

j.lacan merupakan pelopor dari filsafat ini.menurut pemikiranya bahsa terdiri dari sebuah cermin yang ditentukan oleh posisi posisinya satu terhadap yang lain.

 

BAB 3

PENUTUP

                                                                   KESIMPULAN :    

  Filsafat barat  adalah sebutan yang digunakan untuk pemikiran pemikiran filsafat dalam dunia  barat atau occidental.pada umumnya filsafat terbagi menjadi dua bagian yaitu filsafat barat dan filsafat timur.dan filsafat barat beda dnegan filsafat timur atau oriental.

Permulaan dari sebutan filsafat barat ini dari keinginan untuk mengarah ke pada pemikiran atau filsafah peradabaan barat.

Tokoh utama filsafat barat antara lain plato,Thomas Aquinas,tene fescartes, Immanuel kant,Arthur Schopenhauer,karl heinrich marx,friedrich Nietzsche,jean-paul Sartre.

 

                                                                        DAFTAR PUSTAKA

Irmayanti Meliono, dkk. 2007. MPKT Modul 1. Jakarta: Lembaga Penerbitan         FEUI P. A. Van Der Weij. 1991. Filsuf-filsuf Besar tentang Manusia. Jakarta: PT.            Gramedia Pustaka Utama Vardiansyah, Dani. 2008. Filsafat Ilmu Komunikasi. Jakarta : Suatu Pengantar,      Indeks, Tjahjadi, Simon Petrus L. 2004, Petualangan Intelektual. Yogyakarta: Kanisius. Mudji Sutrisno dan F. Budi Hardiman. 2005. Para Filsuf Penentu Gerak Zaman.   Jakarta: BPK Gunung Mulia

 

 

 

 

Jangan lupa Subscribe Bos Q