Kamis, 18 Februari 2021

Filsafat Islam


PEMBAHASAN

1. Pengertian filsafat islam

 

Filsafat berasal dari kata Yunani yaitu philos dan sophia. Philos yang berarti cinta dan dalam arti luas yang berarti keinginan. Sedangkan sophia yang berarti kebenaran atau kebijaksanaan. Secara etimologi filsafat berarti cinta pada kebijaksanaan atau kebenaran. Hasan Sadzili mengatakan bahwa filsafat adalah cinta akan kebenaran. Jadi, filsafat adalah cinta kepada ilmu pengetahuan atau kebenaran, suka kepada hikmah dan kebijaksanaan.

Menurut Moh. Hatta dan Langeveld, filsafat tidak perlu diberikan karena setiap orang memiliki titik tekan yang berbeda dalam mendefinisikannya. Oleh karena itu, beliau membiarkan seseorang meneliti filsafat terlebih dahulu kemudian menyimpulkannya sendiri.  Plato menyebut Socrates sebagai seorang philosophos (filosof), yakni pecinta kebijaksanaan. Sebelum Socrates, ada suatu kelompok yang menyebut diri mereka sophist (kaum sofis) yang berarti para cendekiawan. Plato mengatakan bahwa filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada. Menurut Aristoteles filsafat adalah menyelidiki sebab dan azas segala benda. Karena itu, Aristoteles menamakan filsafat dengan “teologi” atau “filsafat pertama”. Karena itu Aristoteles menyimpulkan bahwa setiap gerak di alam  ini digerakkan oleh yang lain, dari hasil pemikirannya secara komprehensif sesuatu yang bergerak tentu tidak terlepas dari sesuatu yang bermateri tentulah dua yang berpotensi untuk bergerak.

Filsafat adalah pandangan yang menyuluruh dan sistematis, dikatakan begitu karena filsafat bukan hanya sekedar pengetahuan, melainkan suatu pandangan yang dapat menembus sampai dibalik pengetahuan itu sendiri. Dikatakan sistematis karena filsafat menggunakan  metode berfikir secara sadar, teliti, teratur, serta sesuai dengan hukum-hukum yang ada.

Filsafat Islam ialah hasil pemikiran filosof tentang ke Tuhanan, kenabian, kemanusiaan, dan alam yang disinari ajaran Islam dalam suatu aturan pemikiran yang logis dan sistematis, serta memaparkan secara luas tentang teori ada (ontologi), menunjukan pandangannya tentang ruang, waktu, materi dan kehidupan. Filsafat Islam berupaya memadukan antara wahyu dengan akal, antara aqidah dengan hikmah, antara agama dengan filsafat, dan menjelaskan kepada manusia bahwa wahyu tidak bertentangan dengan akal.

Filsafat Islam adalah pemikiran-pemikiran filsafat yang memberikan kontribusi pada Islam dan sebaliknya Islam menggunakan filsafat untuk memperkuat prinsip-prinsip agama. Salah satu prinsip dalam filsafat adalah berpikir radikal, yang berujung pada pengakuan bahwa alam ini disebabkan oleh suatu zat yang tidak tergantung siapapun. Dalam bahasa agama zat tersebut adalah Tuhan.

 

2. Dorongan Al-Qur’an terhadap akal dan pemikiran filsafat

a. Akal dalam Perspektif Alquran

Dalam Alquran, kata ‘aql (akal) tidak ditemukan dalam bentuk mashdarnya, yang ada hanyalah dalam bentuk kata kerja, masa kini dan masa lampau. Secara bahasa, `aql berarti tali pengikat, penghalang. Alquran sendiri menggunakannya bagi sesuatu yang mengikat atau menghalangi seseorang terjerumus dalam kesalahan atau dosa. Dari konteks ayat-ayat yang menggunakan kata `aql dapat dipahami bahwa ia antara lain mencakup makna, pertama: Daya untuk memahami dan menggambarkan sesuatu,

Kata akal berasal dari bahasa Arab ('aqala-ya'qilu-’aqlun) yang

berarti mengikat, menekan, mengerti, dan membedakan.Dari pengertian ini kita bisa menarik definisi bahwa akal adalah daya yang terdapat dalam diri setiap manusia. Adapun kata akal dalam bahasa Indonesia, diartikan dengan pikiran, namun sebenarnya antara akal dan pikir sangatlah berbeda,akal merupakan potensi (daya), sedang pikir adalah cara kerja dari akal. Akal merupakan potensi batin setiap manusia yang memiliki bagian-bagian, yakni rasio (pikir dan rasa).Maka,dapat dikatakan bahwa akal merupakan paduan dari rasio dan rasa yang merupakan potensi batin manusia untuk memahami sesuatu, sekaligus sebagai sarana untuk berlaku atau berbuat.

Keanekaragaman akal dalam konteks menarik makna menyimpulkannya terlihat juga dari penggunaan istilah-istilah seperti nazhara, tafakkur, tadabbur, dan sebagainya yang semuanya mengandung makna mengantar kepada pengertian dan kemampuan pemahaman. Kedua, Bermakna dorongan moral,sebagaimana firman-Nya yang artinya : ... dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan keji, baik yang nampak atau tersembunyi dan jangan kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan sebab yang benar.

Dalam filsafat Islam, (juga filsafat dakwah) antara Alquran dan akal tidak mungkin dipisahkan karena akal telah memungkinkan aktivitas itu menjadi aktivitas kefilsafatan, sementara Alquran menjadi ciri keislamannya (dakwah).Disini,akal memiliki peranan penuh. Sehingga, dalam hal ini, hubungan keduanya bukan hubungan atas-bawah (struktural).Sebab, jika Alquran mengatasi akal maka dia kehilangan peran sebagai subjek filsafat yang menuntut otonomi penuh sebaliknya,jika akal mengatasi Alquran maka aktivitas kefilsafatan Islam (dakwah) akan menjadi sempit karena objeknya hanya Alquran saja.

Kata intelektual yang artinya sebanding dengan ulu al-bâb adalah orang yang memiliki dan menggunakan daya intelek (pikiran untuk bekerja atau melakukan kegiatannya. Biasanya intelektual adalah orangyang berpendidikan akademis.Secara harfiah, intelektual adalah orang yang memiliki intelek yang kuat atau intelegensi yang tinggi. Intelegensi adalah kemampuan kognitif atau kemampuan memahami yang dimiliki seseorang untuk berfikir dan bertindak rasional atau berdasar nalar. Kemampuan tersebut bisa diperoleh karena keturunan atau bakat yang ada pada seseorang dari faktor biologisnya, tetapi bisa pula diperoleh sebagai hasil pengalaman lingkungan dan sosialisasi berdasarkan penerimaan norma-norma yang baik-buruk dan benar-salah menurut masyarakat.

b. Al-quran dalam filsafat

Alquran sebagai sumber utama dan pertama dalam ajaran Islam. Sebagai ajaran utama dan pertama, Alquran banyak mengajak manusia untuk berpikir, untuk menggunakan akal. Berpikir tentu tidak bisa tidak merupakan wilayah Filsafat. Karena itu, tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa Alquran sesungguhnya inspirator bagi munculnya filsafat.

Di dalam Alquran sendiri memang tidak diketemukan kata filsafat karena Alquran diturunkan dalam bahasa Arab, sedang filsafat berasal dari Yunani. Alquran hanya banyak menyebut kata h}ikmah (ilmu tentang hakikat sesuatu).

Alquran adalah wahyu yang diberikan kepada Nabi dan Rasul, sedangkan hikmah diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya (lihat Q.S. al-Baqarah: 269). Hikmah dapat diperoleh manusia biasa dengan akalnya. Sebagai contoh, hikmah yang terdapat dalam Alquran, ia akan diperoleh seorang manusia biasa jika ia mau menggunakan akalnya dengan cara membaca dan memahaminya.

 Alquran sendiri adalah kitab suci yang diwahyukan kepada Nabi Muhammd sebagai pedoman hidup. Ia hanya memberikan garis besarnya saja; artinya, pedoman yang diberikannya tidak serinci yang dikehendaki manusia. Di sini, seseorang harus menggunakan akalnya untuk memahami isinya.

Istilah Filsafat merupakan istilah asing yang berasal dari bahasa Yunani, karenanya istilah filsafat tidak disebut di dalam Alquran. Jika istilah filsafat diartikan dengan makna cinta pada kebijaksanaan, maka dalam Alquran istilah tersebut dikenal dengan kata al-hikmah.Kata tersebut menjadi ciri khusus dari filsafat Islam dan berakar sama dengan sifat Allah al-Hakim (Maha Bijaksana).

Kata al-Hikmah sccara etimologi mengandung makna yang banyak dan berbeda-beda, di antaranya: al-‘Adl (keadilan), al-H{ilm (kesabaran dan ketabahan), al-Nubuwwah (kenabian), yang dapat mencegah seseorang dari kebodohan, yang mencegah seseorang dari kerusakan dan kehancuran, setiap perkataan yang cocok dengan kebenaran, meletakkan sesuatu pada tempatnya, dan kebenaran perkara. Dari makna-makna tersebut, ada satu makna yang menjadi esnsi dari kata al-hikmah yang mudah dipahami secara akal dan dapat dioperasionalisasikan dalam aktivitas dakwah, yakni meletakkan sesuatu pada tempatnya.

Berbagai motivasi dan dukungan yang kuat dari Alquran terhadap penggunaan segala potensi yang dimiliki oleh manusia, maka kehadiran Alquran telah mengubah pola berfilsafat dalam konteks dunia Islam secara radikal sehingga lahirlah "filsafat profetik". Artinya realitas dan proses meta-historis penyampaian Alquran merupakan perhatian utama para pemikir Islam dalam melakukan kegiatan berfilsafat. Dalam hal ini, para filusuf tidak hanya mengandalkan pada kemampuan yang bersifat rasional dan empiris saja, melainkan juga pada kemampuan yang bersifat intuitif. Pada konteks inilah filsafat yang dikembangkan oleh para filsuf Muslim berbeda dengan filsafat yang dikembangkan oleh para filsuf barat.

 

3. perkembangan filsafat islam,klasik,tengah,modern,dan kontemporer

Filsafat dibagi menjadi 4 babakan yakni Filsafat klasik, filsafat abad pertengahan, filsafat modern dan filsafat kontemporer.Filsafat klasik di dominasi oleh rasionalisme, filsafat abad pertengahan didominasi dengan doktrin-doktrin agama Kristen selanjutnya filsafat modern didominasi oleh rasionalisme sedangkan filsafat kontemporer didominasi oleh kritik terhadap filsafat modern. Berikut pembahasan tentang filsafat-filsafat tersebut:

a. Filsafat Periode Klasik

Filsafat yunani telah mencapai kejayaannya sehingga melahirkan peradaban yunani dan menjadikan titik tolak peradaban manusia di dunia.Filsafat yunani telah menyebar dan mempengaruhi di berbagai bangsa diantaranya adalah bangsa Romawi, karena Romawi merupakan kerajaan terbesar di daratan Eropa pada waktu itu. Bangsa Romawi yang semula beragama kristen dan kemudian kemasukan filsafat merupakan suatu formulasi baru yaitu agama berintegrasi dengan filsafat, sehingga munculah filsafat Eropa yang tak lain penjelmaan dari filsafat Yunani.

sarjana filsafat mengatakan bahwa mempelajari filsafat Yunani berarti menyaksikan kelahiran filsafat. Karena itu tidak ada pengantar filsafat yang lebih ideal dari pada study perkembangan pemikiran filsafat di negeri Yunani. Alfred Whitehead mengatakan tentang Plato: "All Western phylosophy is but a series of footnotes to Plato". Pada Plato dan filsafat Yunani umumnya dijumpai problem filsafat yang masih dipersoalkan sampai hari ini.Tema-tema filsafat Yunani seperti ada, menjadi, substansi, ruang, waktu, kebenaran, jiwa, pengenalan, Allah dan dunia merupakan tema-tema bagi filsafat seluruhnya.

b. Filsafat Abad Pertengahan

Filasafat Yunani yang menelurkan banyak pemikir ulung, memiliki tempat yang cukup berpengaruh pada perkembangan ilmu filsafat di abad pertengahan.Pada masa itu, perkembangan kehidupan di dunia tidak bisa lepas dari dua agama besar yang saat itu saling mempengaruhi, Islam dan Nasrani.Masyarakat tersebut memiliki kontribusi besar dalam perkembangan dunia selanjutnya.

Pada masa pertengahan ini, terdapat periode yang membuat perkembangan filsafat tidak berlanjut, yaitu pada masa skolastik Kristen.Hal inidikarenakanpihak gereja membatasi para filosof dalam berfikir, sehingga ilmu pengetahuan terhambat dan tidak bisa berkembang, karena semuanya diatur oleh doktirn-doktrin gereja yang berdasarkan kenyakinan. Apabila terdapat pemikiran-pemikiran yang bertentangan dari keyakinan para gerejawan, maka filosof tersebut dianggap murtad dan akan dihukum berat samapai pada hukuman mati.

Secara garis besar filsafat abad pertengahan dapat dibagi menjadi dua periode yaitu: periode Scholastik Islam dan periode Scholastik Kristen.

· Scholarsis Islamiah

Para Scholastic Islamlah yang pertama mengenalkan filsafatnya Aristoteles diantaranya adalah Ibnu Rusyd, ia mengenalkan kepada orang-orang barat yang belum mengenal filsafat Aristoteles.

Para ahli fikir Islam (Scholastik Islam) yaitu Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Gazali, Ibnu Rusyd dll.Mereka itulah yang memberi sumbagan sangat besar bagi para filosof eropa yang menganggap bahwa filsafat Aristoteles, Plato, dan Al-Quran adalah benar.Namun dalam kenyataannya bangsa eropa tidak mengakui atas peranan ahli fikir Islam yang mengantarkam kemoderenan bangsa barat.

· Scholastik Kristen

Pada masa ini kekuasaan agama masih begitu berpengaruh terhadap perkembangan kehidupan filasafat, khususnya di kawasan Eropa. Adanya tren perbudakan membuat para pemikir ahli terbatas hanya dari kaum agamis yang berada di gereja saja, karena mereka yang diluar gereja terlalu disibukkan dengan urusan melayani orang lain, daripada memikirkan hal- hal yang tidak mengenyangkan seperti filsafat.

Pada masa ini perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan sangat buruk.Karena pihak gereja membatasi dan melarang para filosof dalam berfikir, sehingga ilmu pengetahuan dan filsafat tidak berkembang.

c. Filsafat Modern

Masa modern menjadi identitas di dalam filsafat Modern.Pada masa ini rasionalisme semakin kuat.Tidak gampang untuk menentukan mulai dari kapan Abad Pertengahan berhenti.Namun, dapat dikatakan bahwa Abad Pertengahan itu berakhir pada abad 15 dan 16 atau pada akhir masa Renaissance.Masa setelah Abad Pertengahan adalah masa Modern.Sekalipun, memang tidak jelas kapan berakhirnya Abad Pertengahan itu. Akan tetapi, ada hal-hal yang jelas menandai masa Modern ini, yaitu berkembang pesat berbagai kehidupan manusia Barat, khususnya dalam bidang kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan ekonomi. Usaha untuk menghidupkan kembali kebudayaan klasik Yunani-Romawi.Kebudayaan ini pulalah yang diresapi oleh suasana kristiani.Di bidang Filsafat, terdapat aliran yang terus mempertahankan masa Klasik.Aliran-aliran dari Plato dan mazhab Stoa menjadi aliran-aliran yang terus dipertahankan.Pada masa Renaissance ini tidak menghasilkan karya-karya yang penting.

Dari sudut pandang sejarah Filsafat Barat melihat bahwa masa modern merupakan periode dimana berbagai aliran pemikiran baru mulai bermunculan dan beradu dalam kancah pemikiran filosofis Barat.Filsafat Barat menjadi penggung perdebatan antar filsuf terkemuka. Setiap filsuf tampil dengan gaya dan argumentasinya yang khas. Argumentasi mereka pun tidak jarang yang bersifat kasar dan sini, kadang tajam dan pragmatis, ada juga yang sentimental. Sejarah filsafat pada masa modern ini dibagi ke dalam tiga zaman atau periode, yaitu: Zaman Renaissanse(Renaissance), zaman Pencerahan Budi (Aufklarung), dan zaman Romantik, khususnya periode Idealisme Jerman.

Ada beberapa tokoh yang menjadi perintis yang membuka jalan baru menuju perkembangan ilmiah yang modern. Mereka adalah Leonardo da Vinci (1452-1519), Nicolaus Copernicus (1473-1543), Johannes Kepler (1571-1630) dan Galileo Galilei (1564-1643).Sedangkan Francis Bacon (1561-1623) merupakan filsuf yang meletakkan dasar filosofisnya untuk perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan. Dia merupakan bangsawan Inggris yang terkenal dengan karyanya yang bermaksud untuk menggantikan teori Aristoteles tentang ilmu pengetahuan dengan teori baru.

Pada masa filsafat modern ini terdapat beberapa aliran yang berkembang pada masa itu, diantaranya yaitu:

a. Idealisme

Idealisme adalah suatu ajaran/faham atau aliran yang menganggap bahwa realitas ini terdiri atas roh-roh (sukma) atau jiwa.ide-ide dan pikiran atau yangsejenis dengan itu.Aliran ini merupakan aliran yang sangat penting dalam perkembangansejarah pikiran manusia.

b. Materialisme

Materialisme merupakan faham atau aliran yang menganggap bahwa dunia ini tidak ada selain materi atau nature (alam) dan dunia fisik adalah satu.Kemajuan aliran ini mendapat tantangan yang keras dan hebat dari kaum agama dimana-mana.Hal ini disebabkan bahwa faham Materialisme ini pada abad ke-19 tidak mengakui adanya Tuhan (atheis) yang sudah diyakini mengatur budi masyarakat.Pada masa ini, kritikpun muncul di kalangan ulama-ulama barat yang menentang Materialisme.

 

 

c. Dualisme

Dualisme adalah ajaran atau aliran/faham yang memandang alam ini terdiri atas dua macam hakekat yaitu hakekat materi dan hakekat rohani. Kedua macam hakekat itu masing-masing bebas berdiri sendiri, sama azazi dan abadi. Perhubungan antara keduanya itu menciptakan kehidupan dalam alam Contoh yang paling jelas tentang adanya kerja sama kedua hakekat ini adalah terdapat dalam dirimanusia.

d.  Empirisme

Dualisme adalah ajaran atau aliran/faham yang memandang alam ini terdiri atas dua macam hakekat yaitu hakekat materi dan hakekat rohani. Kedua macam hakekat itu masing-masing bebas berdiri sendiri, sama azazi dan abadi. Perhubungan antara keduanya itu menciptakan kehidupan dalam alam Contoh yang paling jelas tentang adanya kerja sama kedua hakekat ini adalah terdapat dalam diri manusia.

e. Rasionalisme

Rasionalisme adalah merupakan faham atau aliran atau ajaran yang berdasarkan ratio, ide-ide yang masuk akal.Selain itu, tidak ada sumber kebenaran yang hakiki.

f. Fenomenalisme

Secara harfiah Fenomenalisme adalah aliran atau faham yang menganggapbahwa Fenomenalisme (gejala) adalah sumber pengetahuan dan kebenaran.Seorang Fenomenalisme suka melihat gejala.Dia berbeda dengan seorang ahli ilmupositif yang mengumpulkan data, mencari korelasi dan fungsi, serta membuathukum-hukum dan teori.Fenomenalisme bergerak di bidang yang pasti.Hal yangmenampakkan dirinya dilukiskan tanpa meninggalkan bidang evidensi yanglangsung.Fenomenalisme adalah suatu metode pemikiran, "a way of looking atthings".

g. Intusionalisme

Intusionalisme adalah suatu aliran atau faham yang menganggap bahwa intuisi (naluri/perasaan) adalah sumber pengetahuan dan kebenaran.Intuisi termasuk salah satu kegiatan berfikir yang tidak didasarkan pada penalaran.Jadi Intuisi adalah non-analitik dan tidak didasarkan atau suatu pola berfikir tertentu dan sering bercampur aduk dengan perasaan.

 

d. Filsafat Kontemporer

Filsafat Kontemporer yaitu cara pandang dan berpikir mendalam menyangkut kehidupan pada masa saat ini. Misalnya orang dihadapkan pada tahun 2009, ya inilah zaman kontemporer kita.Tetapi istilah filsafat kontemporer baru saja populer semenjak abad ke-20, ini merupakan tanggapan atas kebingungan penyebutan filsafat masa kini.

Filsafat kontemporer ini sering dikaitkan dengan posmodernisme, Dikarenakan posmodernisme yang berarti “setelah modern” merupakan akibat logis dari zaman kontemporer.Posmodernisme menyaratkan kebebasan, dan tidak selalu harus simetris.Contohnya seni bangunan posmodern tidak terlalu mementingkan aspek keseimbangan dalam bentuk bangunan, melainkan sesuka hati yang membangun atau yang sesuai request. Kembali lagi kepada pemikiran kontemporer yang beranjak dari seni bangunan tadi, sama halnya dengan itu, pemikiran filsafat kontemporer ini bebas. Kebebasan dalam memakai teori, menanggapi, dan mengkritik selama kebebasan tersebut merupakan suatu hal original.

bebas, berbicara tentang filsafat kematian, filsafat waktu, filsafat orang gila, filsafat komputer, filsafat game online, dan lain-lain. Semuanya terbuka lebar untuk dipikirkan dan diperbincangkan.Tidak ada batasan pasti dalam filsafat kontemporer, selama semua masih dinamis dan tidak kaku seperti zaman pra-modern, bisa disebut sebagai kontemporer.

Masalah aktual dan faktual diperbincangkan dan ditanggapi, lalu diberi solusi.Dengan filsafat akan bisa ditemukan solusi terbaik terhadap masalah tersebut karena filsafat juga menguji solusi yang akan diambil dan yang dianggap baik. Hal ini dilakukan karena pada saat tertentu solusi bisa menjadi sangat baik, dan pada saat tertentu pula suatu solusi bisa dianggap kuno dan terbilang idiot.

Berbicara tentang saat demi saat, inilah letak kontemporernya.Penyesuaian terhadap sesuatu yang kita ketahui sebagai zaman.Berpikir sesuai zaman tanpa kehilangan identitas dan originalitas pemikiran personal.Memiliki kepribadian dan cara berpikir yang unik merupakan hal yang dibanggakan dalam filsafat kontemporer. Oleh karenanya filsafat kontemporer merupakan ekstensifikasi dari pemikiran manusia dari hal-hal yang umum menjadi yang sangat khusus dan terkait dengan hal khusus lainnya.

 

BAB 3

PENUTUP

 

1. kesimpulan

Pendidikan merupakan suatu proses menanamkan sesuatu ke manusia. Dalam hal ini ‘suatu proses dari menanamkan 'mengarahkan pada teknik dan sistem yang dengannya disebut 'pendidikan' secara bertahap diberikan; 'Sesuatu' mengacu padaisi dari apa yang ditanamkan; dan 'manusia' mengacu padapenerima baik metode maupun isikontennya. Teori pendidikan adalah pondasi dan langkah pertama dalam mengembangkan pendiidkan, contohnya pengembangan materi atau kurikulum, ke manejemenan sekolahan serta metode dalam proses pembelajaran.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa akal merupakan salah satu potensi yang dianugerahkan Allah kepada manusia yang digunakan sebagai daya untuk berfikir. Akal merupakan salah satu keistimewaan yang dimiliki oleh manusia yang tidak dimiliki oleh makhluk lain sehingga menjadikannya pantas menjadi khalifah. Dari sejumlah ayat Alquran dapat dipahami bahwa, akal memiliki beberapa makna, antara lain daya untuk memahami dan menggambarkan sesuatu, dorongan moral dan daya untuk mengambil pelajaran dan kesimpulan serta hikmah. Sementara dari dari sudut pandang filsafat, terdapat beberapa klasifikasi terhadap akal,yaitu : Al-Uqul alHayyulaniyyah, atau akal material, Al-Uqul bi al-Malakah, yaitu akal dalam kapasitas, AlUqul bi al-fi’l yaitu akal dalam aktualitas dan Al-‘Aql al-Mustafad atau akal perolehan.

2. Daftar pustaka

Hsyimsyah Nasution, Filsafat Islam (Jakarta : Gaya Media Pratama, 1999) h. 9.

Muhammad Baqir As-Shadr, Falsaftuna terj. Nur Mufid bin Ali (Bandung : Mizan, 1991) h.

Harun Nasution, Akal dan Wahyu dalam Islam (Jakarta : UI-Press, 1986 ), h. 1

Harun Nasution, Muhammad Abduh dan Teologi Rasional Mu’tazilah (Jakarta : UI-Press, 1987) h. 4

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jangan lupa Subscribe Bos Q