Kamis, 18 Februari 2021

Teori Classical Conditioning

                                                                             BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang

Pendekatan pembelajaran dapat dikategorikan sebagai perilaku atau kognitif. Perilaku merupakan segala sesuatu yang kita lakukan, baik verbal maupun nonverbal yang dapat langsung dilihat atau didengar. Behavorisme adalah pandangan bahwa perilaku harus dijelaskan oleh pengalaman yang dapat diamati, bukan oleh proses mental.

Pendekatan pembelajaran yang akan dibahas dalam makalah ini adalah pendekatan. Perilaku pendekatan menekankan pentingnya anak-anak membuat hubungan antara pengalaman dan perilaku. Salah satunya adalah pengondisian klasik. Pandangan ini menekankan pada pembelajaran asosiatif, yaitu pembelajaran bahwa dua peristiwa terhubung atau berhubungan.

 

B. Rumusan Masalah

1. Apakah yang dimaksud dengan teori Classical Conditioning?

2. Apakah yang dimaksud generalisasi, diskriminasi, dan kepunahan dalam teori Classical Conditioning?

3. Apakah yang dimaksud desensitisasi sistematis dalam teori Classical Conditioning?

4. Bagaimana contoh teori Classical Conditioning terhadap guru dan siswa?

 

C. Tujuan Masalah

1. Untuk mengetahui pengertian teori Classical Conditioning.

2. Untuk mengetahui pengertian dan aplikasi dari generalisasi, diskriminasi, dan kepunahan dalam teori Classical Conditioning.

3. Untuk mengetahui pengertian dan aplikasi dari desensitisasi sistematis dalam teori Classical Conditioning.

4. Untuk mengetahui contoh teori Classical Conditioning terhadap guru dan siswa.

 



BAB II

PEMBAHASAN

 

A. Pengertian Teori Classical Conditioning (Pengondisian Klasik)

Pengondisian klasik (Classical Conditioning) adalah jenis pembelajaran di mana sebuah organisme belajar untuk menghubungkan, atau asosiasi rangsangan netral (seperti melihat seseorang) menjadi terkait dengan rangsangan bermakna (seperti makanan) dan memperoleh kemampuan untuk memperoleh respons yang sama. Pengondisian klasik merupakan gagasan dari Ivan Pavlov (1927). Untuk sepenuhnya memahami teori Pavlov mengenai pengondisian klasik, kita perlu memahami dua jenis rangsangan dan dua jenis tanggapan:

1. Rangsangan Tidak Terkondisi (Unconditioned Stimulus-UCS)

2. Respons Tidak Terkondisi (Unconditioned Response-UCR)

3. Rangsangan Terkondisi (Conditioned Stimulus-CS)

4. Respons Terkondisi (Conditioned Respons-CR)

 

Perhatikan gambar berikut:

 

Gambar di atas merupakan ringkasan bagaimana teori pengondisian klasik bekerja. Unconditioned Stimulus adalah stimulus yang secara otomatis menghasilkan respons tanpa harus belajar sebelumnya. Makanan adalah Unconditioned Stimulus dalam percobaan Pavlov. Unconditioned Response adalah respons tanpa belajar yang secara otomatis ditimbulkan oleh Unconditioned Stimulus. Air liur anjing berperan dalam menanggapi makanan Unconditioned Response.

Conditioned Stimulus adalah stimulus yang sebelumnya netral yang akhirnya memunculkan respons terkondisi setelah dikaitkan dengan Unconditioned Stimulus. Diantara rangsangan yang dikondisikan dalam percobaan Pavlov ada berbagai pemandangan dan suara yang terjadi sebelum anjing benar-benar memakan makanannya, seperti suara pintu ditutup sebelum makanan ditempatkan di piring anjing. Conditional Response adalah respons yang dipelajari terhadap stimulus terkondisi yang terjadi setelah Unconditioned Stimulus dan Conditioned Stimulus dipasangkan.

 

B. Generalisasi, Diskriminasi, dan Kepunahan

Dalam mempelajari respons anjing terhadap berbagai rangsangan, Pavlov membunyikan bel sebelum memberikan daging kepada anjing dengan dipasangkan dengan Unconditioned Stimulus (daging) lonceng menjadi Conditioned Stimulus dan menimbulkan air liur anjing. Setelah beberapa waktu, Pavlov menemukan bahwa anjing juga menanggapi suara lain, seperti peluit. Semakin lonceng menimbulkan kebisingan, semakin kuat respons anjing. Generalisasi dalam pengondisian klasik melibatkan kecenderungan rangsangan baru yang mirip dengan rangsangan yang dikondisikan asli untuk menghasilkan respons yang sama (Pearce & Hall, 2009).

Contoh saat di kelas, seorang siswa dikritik karena kemampuannya yang kurang baik dalam ujian biologi. Ketika siswa tersebut mempersiapkan diri untuk ujian kimia ia juga menjadi sangat gugup karena kedua materi pelajaran tersebut sangat erat kaitannya dalam sains. Dengan demikian, kecemasan siswa menggeneralisasikan dari mengambil tes dalam satu mata pelajaran untuk mengambil tes di tempat lain.

Diskriminasi dalam pengondisian klasik terjadi ketika organisme merespons rangsangan tertentu, tetapi tidak yang lain. Untuk menghasilkan diskriminasi, Pavlov memberikan makanan untuk anjing hanya setelah dering lonceng, tidak setelah ada suara lain. Selanjutnya, anjing hanya merespons bel. Dalam kasus siswa yang melakukan ujian dalam kelas yang berbeda, ia tidak menjadi gugup ketika melakukan ujian bahasa Inggris atau ujian sejarah karena mereka bidang studi yang sangat berbeda.

Kepunahan dalam pengondisian klasik melibatkan melemahnya respons terkondisi (Conditioned Response) tanpa adanya rangsangan tidak terkondisi (Unconditioned Response). Dalam satu sesi, Pavlov membunyikan bel berulang kali, namun tidak memberikan makanan pada anjing. Akhirnya air liur anjing berhenti saat mendengar suara lonceng. Dengan demikian, jika seorang siswa merasa gugup saat ujian kemudian ia mencoba untuk berusaha lebih baik lagi, kecemasannya akan memudar.

 

C. Desentisasi Sistematis

Terkadang kecemasan dan stres yang berhubungan dengan peristiwa negative dapat dihilangkan dengan pengondisian klasik (Maier & Seligman, 2009). Desentisasi sistematis adalah metode yang didasarkan pada pengondisian klasik yang mengurangi kecemasan dengan mendapatkan individu untuk mengasosiasikan relaksasi dengan visualisasi dari situasi berturut yang semakin memproduksi kecemasan. Misalnya, jika ada seorang siswa di kelas yang sangat gugup bicara di depan kelas. Tujuan dari desentisasi sistematis adalah untuk mendapatkan siswa agar dapat mengasosiasikan bicara kepada publik dengan relaksasi, seperti berjalan di pantai yang tenang, bukan kecemasan. Melibatkan visualisasi secara berturut-turut, mungkin saja siswa berlatih desentisasi sistematis jauh-jauh hari sebelum ia melakukan pembicaraan di depan publik.

Desentisasi melibatkan jenis pengondisian cacah (counterconditioning), perasaan snatai bahwa siswa membayangkan (Unconditioned Stimulus) menghasilkan relaksasi (Unconditioned Response). Siswa tersebut kemudian mengasosiasikan isyarat memproduksi kecemasan (Conditioned Stimulus) dengan perasaan santai. Yang pada awalnya siswa tersebut merasa cemas, dengan relaksasi secara bertahap yang ia lakukan jauh-jauh hari sebelum ia melakukan pembicaraan, pada akhirnya ia akan menajadi rileks (Conditoned Response).

 

D. Contoh teori Classical Conditioning terhadap guru dan siswa

Pengondisian klasik dapat terlibat dalam kedua pengalaman positif dan negatif anak-anak di dalam kelas. Di antara hal-hal sekolah anak yang menghasilkan kesenangan karena mereka telah mendapatkan pengondisian klasik adalah lagu-lagu favorit dan perasaan bahwa kelas adalah tempat yang aman dan menyenangkan. Sebagai contoh, sebuah lagu dapat menjadi netral untuk anak sampai ia bergabung dengan teman sekelas lain untuk menyanyikannya dengan disertai perasaan positif.

Anak-anak dapat mengembangkan perasaan takut di kelas jika mereka mengasosiasikan kelas dengan kritik, sehingga kritik menjadi Conditioned Stimulus karena takut. Pengondisian klasik juga terlibat dalam tes kecemasan. Misalnya, seorang anak gagal dan dikritik, yang menghasilkan kecemasan,setelah itu ia mengasosiasikan tes dengan kecemasan, sehingga mereka kemudian dapat menjadi Conditioned Stimulus untuk kecemasan.

 

Beberapa masalah kesehatan anak-anak juga mungkin melibatkan pengondisian klasik. Keluhan fisik atau asma tertentu, sakit kepala, dan tekanan darah tinggi juga mungkin sebagian karena pengondisian klasik. Seringkali yang terjadi adalah, rangsangan tertentu seperti orangtua atau kritik berat dari guru merupakan rangsangan terkondisi untuk respon fisiologis. Seiring waktu, frekuensi respon fisiologis dapat menyebabkan masalah kesehatan. Kritik terus menerus seorang guru terhadap siswa dapat menyebabkan siswa merasakan ketegangan, sakit kepala, ketegangan otot, dan sebagainya. Apapun yang berhubungan dnegan guru, seperti latihan kelas belajar dan pekerjaan rumah, mungkin saja memicu stres pada siswa dan kemudian dihubungkan dengan sakit kepala atau respons fisiologis lainnya.

 



BAB III

PENUTUP

 

A. Kesimpulan

Pengondisian klasik membantu kita memahami beberapa aspek pembelajaran yang lebih baik daripada yang lain. Pengondisian ini unggul dalam menjelaskan bagaimana rangsangan netral menjadi terkait dengan yang tidak dipelajari. Hal ini sangat efektif membantu dan memahami kecemasan dan ketakutan siswa.

 

B. Saran

 



DAFTAR PUSTAKA

 

Santrock, John.W. 2011. Psikologi Pendidikan Educational Psychology. Jakarta. Salemba Humanika.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jangan lupa Subscribe Bos Q