Selasa, 16 Februari 2021

Konsep Psikologi di Asia Tenggara,, (psikologi indigenius)

PSIKOANALISIS DALAM PANDANGAN ISLAM

 KATA PENGANTAR

 

Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan segala rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis, sehingga penulis berhasil menyelesaikan makalah ini yang dibuat untuk memenuhi tugas Islam dan Keilmuan. Adapun makalah ini diberi judul “PSIKOANALISIS DALAM PANDANGAN ISLAM”. Makalah ini berisi informasi mengenai teori yang diharapkan dapat memberikan informasi dan menambah pengetahuan kita semua.

Penulis sangat menyadari, bahwa makalah ini tidak dapat terselesaikan tanpa adanya dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Penulis mohon maaf atas kekeliruan dan kesalahan yang terdapat dalam penulisan makalah ini. Penulis mengharapkan kritik dan saran yang sangat membangun untuk menyempurnakan makalah selanjutnya.

 

 

 

Pekanbaru, 06 Desember 2020

 

     


BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang

Sains di dunia Barat berkembang cukup pesat, disertai bermunculannya beragam paradigma, metodologi, dan konsep yang mewarnai kajian-kajian keilmuan, terutama kajian humaniora seperti psikologi, antropologi, sastra, sejarah, dan sebagainya. Sejarah menginformasikan bahwa psikologi sebagai sains dimulai sekitar tahun 1879 ketika Wilhelm Wundt (1832-1920) dari Universitas Leipzig di Jerman mendirikan laboratorium untuk menganalisa tingkah lagu manusia dan binatang melalui metode eksperimen. Lalu bermunculanlah tokoh-tokoh psikolog, seperti Stanley Hall, Alfred Binet, Sigmund Freud, Watson, Erich Fromm, Abraham Maslow, dan lain-lain. Namun, dalam perkembangannya, terdapat tiga mazhab yang paling masyhur dalam dunia Psikologi, yaitu Psikoanalisa yang digagas oleh Sigmund Freud, Behaviorisme oleh James Watson, dan Humanistik oleh Abraham Maslow. Tak hanya itu, mazhab-mazhab psikologi ini bahkan melintasi batas-batas benua, bangsa, dan budaya. Psikologi Barat cukup menghegemoni pemikiran Psikologi Modern. Psikoanalisa Sigmund Freud misalnya, sangat digandrungi dan diterima luas sebagai basis utama dalam mengkaji perilaku dan kejiwaan manusia, bahkan oleh sebagian psikolog Muslim. Pengaruh aliran Freud ini cukup besar, tak hanya meliputi kedokteran dan psikologi, namun juga ilmu-ilmu pengetahuan lain seperti filsafat, agama, seni, sastra, antropologi, politik. Padahal teori-teori Freud tentang konsep manusia sangat dipengaruhi oleh doktrin ateisme yang ia anut, di mana ia terang-terangan menolak agama dan menganggapnya sebagai ilusi semata. Kondisi ini tentu saja sangat memprihatinkan. Sebab, jika diajarkan kepada umat Islam yang awam terhadap masalah tersebut akan membawa dampak yang tidak baik dikarenakan doktrin-doktrin di dalamnya sangat bertolak-belakang dengan akidah Islam. Paradigma Barat yang ateis tentu sangat berseberangan dengan paradigma Islam yang memiliki akidah dan kepercayaan terhadap Tuhan. Sesama ateisme sekalipun, ahli-ahli psikologi Inggris dan Perancis saat ini mulai mengeluhkan kentalnya pengaruh kultur Amerika dalam psikologi kontemporer, karena buku-buku rujukannya kebanyakan karangan psikolog-psikolog Amerika, di mana dasar penelitiannya adalah eksperimen terhadap binatang seperti tikus, monyet, kelinci, atau burung. Tentu saja kesimpulan yang dihasilkan belum tentu berlaku bagi manusia atau konteks budaya di tempat lain. Itulah sebabnya, sejak lama orang Rusia menolak psikologi Amerika dan membangun psikologi Rusia yang lebih sesuai dengan dan untuk orang Rusia. Mereka berupaya membuat teori-teori baru dan eksperimen tersendiri, seperti yang dilakukan Ivan Pavlov pada tahun 1960-an.

Hal di atas menunjukkan bahwa ilmu psikologi untuk satu negara belum tentu sesuai jika diterapkan di negara lain yang berbeda adat, tradisi, agama, kultur, dsb. Tentu tidak rasional kajian terhadap psikologi binatang diterapkan pada psikologi manusia. Jangankan antara binatang dan manusia, psikologi berbasis ateisme belum tentu cocok diterapkan sesama negara-negara Barat, apalagi bangsa-bangsa Timur kental dengan tradisi budaya dan agamanya. Maka, di sinilah umat Islam dituntut benar-benar selektif dan mengedepankan sikap kritis terhadap doktrin-doktrin psikologi modern yang berkembang saat ini. Lantas apakah upaya dari para ilmuwan Muslim untuk melakukan islamisasi terhadap paradigma psikologi Barat yang kini berkembang? Apakah alternatif psikoanalisa yang mereka suguhkan untuk dipelajari oleh kaum Muslim? Upaya-upaya menjawab pertanyaan di atas sebenarnya telah dilakukan oleh beberapa tokoh psikolog Muslim kontemporer, seperti Malik B. Badri, Utsman Najaty, Thariq al-Habib, dan lain-lain. Mereka berupaya melakukan islamisasi terhadap psikologi kontemporer dengan menyisihkan doktrin-doktrin psikologi yang tidak sejalan dengan nafas Islam, mengkritisi dan menggalinya melalui al-Qur’an dan al-Hadits, dalam rangka mengembalikan manusia kepada kedudukan yang sepantasnya sebagai manusia, insan bertauhid, khalifah di atas dunia, bukan berpaham ateistik-materialistik. Tentu saja penemuan-penemuan ilmiah yang dihasilkan oleh psikologi modern melalui kajian-kajian rasional, empiris, dan objektif tak dapat ditolak begitu saja. Yang ditolak adalah doktrin-doktirn prinsipil yang menjadi basisnya, yaitu paham ateisme-sekular. Oleh karena itu makalah ini juga dalam rangka menjawab pertanyaan di atas, berupaya menggali paradigma-paradigma dan konsep-konsep psikologi Islam.

 

B. Rumusan Masalah

1. Apa itu struktur kepribadian dalam Islam?

2. Bagaimana tingkat kepribadian dalam Islam?

 

C. Tujuan Masalah

1. Untuk mengetahui apa itu struktur kepribadian dalam Islam

2. Untuk mengetahui tingkatan kepribadian dalam Islam



BAB II

PEMBAHASAN

 

A. Struktur Kepribadian dalam Islam

Psikoanalisa Freud menguraikan teori-teori kepribadian yang berorientasi psikodinamik sebagaimana yang diuraikan juga oleh Psikologi Ego (Erick Erickson). Teori-teori ini menyatakan bahwa manusia pada dasarnya dilahirkan jahat. Tingkah laku manusia digerakkan oleh daya-daya negatif atau merusak dan tidak disadari, seperti kecemasan dan agresi atau permusuhan. Agar berkembang ke arah yang positif manusia membutuhkan cara-cara pendampingan yang bersifat impersonal dan direktif atau mengarahkan.

Menurut Sigmund Freud kepribadian seseorang terstruktur atas tiga sistem pokok yaitu:

1. Id (das es) adalah system kepribadian biologis yang asli, berisikan sesuatu yang telah ada sejak lahir. Id memiliki prinsip kerja yang serba mengejar kenikmatan (pleasure principle) dan cenderung bersifat rasional, primitif, impulsif, dan agresif.

2. Ego (das ich) adalah aspek psikologis kepribadian yang timbul karena kebutuhan organisme memerlukan transaksi dengan kenyataan obyektif. Ego mengikuti prinsip kenyataan (reality principle) yang bersifat rasional-logis. Tujuan prinsip ini adalah mencegah terjadinya ketegangan sampai ditemukan suatu obyek yang cocok untuk pemuasan kebutuhan. Ego juga disebut eksekutif kepribadian, karena ia mengontrol tindakan, memilih lingkungan untuk memberi respons, memuaskan insting yang dikehendaki dan berperan sebagai pengendali konflik antara id dan super ego.

3. Super ego (das ueber ich) adalah aspek-aspek sosiologis kepribadian yang mengintegrasikan nilai-nilai moral dan cita-cita luhur. Ia mencerminkan yang ideal bukan riil, mengejar kesempurnaan dan bukan kenikmatan. Timbulnya super ego ini bersumber dari suara hati sehingga fungsinya; (1) merintangi impuls-impuls id, terutama impuls-impuls seksual dan agresif yang aktualisasinya sangat ditentang masyarakat, (2) mendorong ego untuk lebih mengejar hal-hal yang moralitas daripada realitas, (3) mengejar kesempurnaan. Jadi super ego menentang ukuran baik-buruk id ataupun ego, dan membuat dunia menurut gambarannya sendiri yang tidak rasional bahkan menunda dan merintangi pemuasan insting. 

Dinamika kepribadian ditentukan oleh cara energi psikis didistribusikan serta digunakan oleh id, ego, dan super ego. Oleh karena jumlah energi itu terbatas maka akan terjadi semacam persaingan diantara ketiga sistem itu dalam menggunakan energi tersebut. Salah satu sistem itu mengontrol energi dengan mengorbankan kedua sistem yang lain.

Dalam Islam ketiga struktur ini telah di jelaskan dalam Al-Qur’an. Struktur kepribadian dalam islam disebut nafs. Nafs dalam khazanah Islam memiliki banyak pengertian. Nafs dapat berarti jiwa (soul), nyawa, konasi yang berdaya syahwat dan ghadab, kepribadian, dan substansi psikofisik manusia. Nafs memiliki natur gabungan antara natur jasad dan ruh. Nafs adalah potensi jasad-ruhani (psikofisik) manusia yang secara inhern telah ada sejak manusia siap menerimanya. Substansi nafs memiliki potensi gharizah. Jika potensi gharizah ini dikaitkan dengan substansi jasad dan ruh, dapat dibagi menjadi tiga bagian;

1. Al-qalb: → (super ego)

Merupakan materi organik yang memiliki sistem kognisi yang berdaya emosi. Ia berada di jantung (al-mudghah). Qalbu memiliki kemampuan untuk memperoleh pengetahuan (al-ma’rifah) melalui cita-rasa (al-zawqiyah). Sesuai firman Allah SWT:

“Dan orang-orang beriman mendapat petunjuk dari Allah melalui hatinya“ (QS. Al-Taghabun, 64: 11).

Ketika mengaktual, potensi qalbu tidak selamanya menjadi tingkah laku yang baik. Baik-buruknya sangat tergantung pada pilihan manusia sendiri. Seperti sabda Nabi SAW:

“Sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila ia baik maka semua tubuh menjadi baik, tetapi apabila ia rusak maka semua tubuh menjadi rusak pula. Ingatlah bahwa ia adalah qalbu.” (HR. Al-Bukhari dari Nu’man ibn Basyir)

Selain kemampuan memperoleh pengetahuan dari Allah, qalbu juga menjadi pusat kesadaran moral. Ia memiliki kemampuan membedakan yang baik dan yang buruk serta mendorong manusia memilih hal-hal yang baik dan meninggalkan yang buruk, karena kemampuan yang emikian, maka Nabi Muhammad SAW menganjurkan manusia meminta fatwa kepada qalbunya. Qalbu memiliki kemampuan untuk memberikan jawaban ketika seseorang harus memutuskan sesuatu yang sangat penting. Seperti dalam hadist:

“Mintalah fatwa kepada qalbumu.” (HR. Ahmad dan al-Darimi).

Al-Ghazali berpendapat bahwa qalbu memiliki insting yang disebut dengan al-nur al-ilahiy (cahaya ketuhanan) dan al-bashira al-albathina (mata batin) yang memancarkan keimanan dan keyakinan. Al-Ghazali juga berpendapat bahwa qalbu diciptakan untuk memperoleh kebahagiaan akhirat. Kebahagiaan qalbu sangat tergantung pada ma’rifah kepada Allah SWT. Hal itu juga dipertegas oleh Al-Zamakhsyariy yang berpendapat bahwa qalbu itu diciptakan oleh Allah SWT. sesuai dengan fitrah asalnya dan berkecenderungan menerima kebenaran dari-Nya.

 

2. Akal: → ego

Secara etimologi, akal memiliki arti al-imsak (menahan), al-ribah (ikatan), al-hajr (menahan), al-nahy (melarang), dan man’u (mencegah). Berdasarkan makna bahasa ini maka yang disebut orang yang berakal adalah orang yang mampu menahan dan mengikat hawa nafsunya. Jika hawa nafsunya terikat jiwa rasionalitasnya mampu bereksistensi. Jadi akal mempunyai kemampuan mengadakan penalaran rasional logis.

Akal diungkap dalam Al-Qur’an tidak seperti qalbu. Akal diungkap hanya dalam bentuk kata kerja (fi’il) dan satu pun tidak disebut kan dalam dalam bentuk kata benda (isim). Hal ini menunjukkan bahwa akal bukanlah suatu susbtansi (jauhar) yang bereksistensi, melainkan aktivitas substansi tertentu. Komponen nafsani yang mampu berakal adalah qalbu. Seperti firman Allah SWT:

“Mereka mempunyai qalbu yang mereka berakal dengannya.” (QS. Al-Hajj, 32:46)

Berdasarkan ayat ini, para mufasir sebagaimana yang diulas oleh Al-Ghazali dan Wahba Al-Zukhailiy berbeda pendapat. Sebagian ada yang berpendapat bahwa qalbu yang berakal, sedang sebagian yang lain menyebutnya “otak“ (al-dimagh) yang berakal. Al-Zukhiliy lebih lanjut menjelaskan bahwa pendapat yang valid adalah pendapat kedua, yakni otak yang berakal bukan qalbu. Adapun maksud dari QS Al-Hajj: 46 tersebut adalah bahwa dalam tradisi kebahasaan, seseorang sering menggunakan qalbu untuk menyebutkan akal, sehingga dalam Al-Qur’an menggunakan qalbu untuk berakal.

 

3. Nafsu: → id

Nafsu adalah daya nafsani yang memiliki dua kekuatan, yaitu kekuatan al-ghadabiyah dan al-syahwaniyah. Al-Ghadab adalah suatu daya yang berpotensi untuk menghindari diri dari segala yang membahayakan. Ghadab dalam terminologi psikoanalisa disebut dengan defense (pertahanan, pembelaan, dan penjagaan), yaitu tingkah laku yang berusaha membela atau melindungi ego terhadap kesalahan, kecemasan,dan rasa malu; perbuatan untuk melindungi diri sendiri; dan memanfaatkan dan merasionalkan perbuatannya sendiri. Al-Syahwat adalah suatu daya yang berpotensi untuk menginduksi diri dari segala yang menyenangkan. Syahwat dalam terminologi psikologi disebut dengan appetite, yaitu suatu hasrat (keinginan, birahi, hawa nafsu), motif atau impuls berdasarkan perubahan keadaan fisiologi.

Prinsip kerja nafsu mengikuti prinsip kenikmatan (pleasure principle) dan berusaha mengumbar impuls-impuls primitifnya. Sehingga ia merupakan tempat dan sumber kejelekan dan tingkah laku yang tercela. Seperti firman Allah SWT:

“Sesungguhnya nafsu itu selalu menyerukan pada perbuatan buruk, kecuali nafsu yang diberi rahmatoleh Tuhanku.” (QS. Yusuf, 12 : 53)

Apabila impuls-impuls ini tidak terpenuhi maka terjadi ketegangan diri. Bila manusia melayani semua dorongan yang dimilikinya, maka dalam dirinya akan menguat yang namanya hawa nafsu. Bila hawa nafsu ini menggumpal dan berkuasa dalam diri seseorang maka ia tumbuh menjadi orang- orang yang zalim, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:

“Tetapi orang-orang yang zalim mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan.” (QS. Ar-Ruum, 30: 29)

 

B. Tingkat Kepribadian dalam Islam

Berdasarkan struktur di atas, kepribadian dalam psikologi islam adalah “integrasi sistem qalbu, akal, dan nafsu manusia yang menimbulkan tingkah laku”. Daya-daya yang terdapat dalam substansi nafs manusia saling berinteraksi satu sama lain dan tidak mungkin dapat dipisahkan. Kepribadian sesungguhnya merupakan produk dari interaksi diantara ketiga komponen tersebut, hanya saja ada salah satu di antaranya yang lebih mendominasi dari komponen yang lain. Sedang Al-Ghazali berpendapat bahwa apabila pikiran itu dilahirkan dari qalbu, syahwatnya berubah menjadi kemauan, sedang ghadabnya berubah menjadi kemampuan yang tinggi derajatnya. Salah satu dominasi struktur kepribadian ini menimbulkan adanya tingkatan-tingkatan kepribadian manusia, yaitu:

1. Kepribadian Amarah (nafs al-amarah)

Kepribadian amarah adalah kepribadian yang cenderung pada tabiat jasad dan mengejar pada prinsip-prinsip kenikmatan, jadi dalam ketiga struktur kepribadian manusia, nafsu yang mendominasi kepribadian amarah ini. Seperti firman Allah SWT:

“Sesungguhnya nafsu itu selalu menyerukan pada perbuatan buruk, kecuali nafsu yang diberi rahmatoleh Tuhanku.” (QS. Yusuf, 12 : 53)

Kepribadian amarah dapat beranjak ke kepribadian yang baik apabila ia telah diberi rahmat oleh Allah SWT. Pendakian kepribadian dapat mencapai satu tingkat dari tingkatan kepribadian yang ada, yaitu kepribadian lawwamah.

2. Kepribadian Lawwamah (nafs al-lawwamah)

Kepribadian lawwamah adalah kepribadian yang telah memperoleh cahaya qalbu, lalu ia bangkit untuk memperbaiki kebimbangannya antara dua hal. Dalam upayanya itu kadang-kadang tumbuh perbuatan yang buruk yang disebabkan oleh watak gelapnya namun kemudian ia diingatkan oleh nur ilahiy, sehingga ia mencela perbuatannya dan selanjutnya ia bertaubat dan beristighfar. Jadi akal mendominasi di antara ketiga struktur kepribadian. Firman Allah SWT:

“Aku bersumpah dengan hari kiamat, dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).” (QS. Al-Qiyamah, 75 : 2)

Akal apabila telah diberi percikan nur qalbu, fungsinya menjadi baik. Ia dapat dijadikan sebagai salah satu media untuk menuju kepada Tuhan. Al-Ghazali sendiri meskipun sangat mengutamakan pendekatan cita-rasa, tapi ia masih mengutamakan kemampuan akal. Sedangkan Ibnu Sina, akal mampu mencapai pemahaman yang abstrak dan akal juga mampu mencapai akal mustafad, yaitu akal yang mapu menerima limpangan pengetahuan dari Tuhan melalui akal fa’al (malaikat jibril).

3. Kepribadian Muthmainnah (nafs al-muthmainnah)

Kepribadian muthmainnah adalah kepribadian yang telah diberi kesempurnaan nur qalbu, sehingga dapat meninggalkan sifat-sifat tercela dan tumbuh sifat-sifat yang baik. Kepribadian ini selalu berorientasi ke komponen qalbu untuk mendapat kesucian dan menghilangkan segala kotoran, sehingga dirinya tenang. Begitu tenangya kepribadian inisehingga ia dipanggil oleh Allah SWT. Seperti firman Allah SWT:
“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al- Fajr, 89 : 27-30)

Al-Ghazali menyatakan bahwa daya qalbu (yang mendominasi kepribadian muthmainnah) mampu mencapai pengetahuan (ma’rifah) melalui daya cita-rasa (dawq) dan kasy (terbukanya tabir misteri yang menghalangi penglihatan bati manusia). Sedangkan Ibnu Khaldun menyatakan dalam Muqaddimat bahwa ruh qalbu itu disinggahi oleh ruh akal. Ruh akal secara substansial mampu mengetahui apa saja di alam amar, sebab ia berpotensi demikian.

 



BAB III

PENUTUP

 

A. Kesimpulan

Dari uraian semua makalah ini dapat kita simpulkan bahwa terdapat beberapa pendapat yang sesuai dengan Al-Quran dan ada pula yang tidak sesuai. Pendapat yang sesuai adalah tentang struktur kepribadian yang diungkapkan oleh Freud adalah id yang mempunyai kesamaan dengan hawa nafsu, ego dengan akal, dan super ego dengan qalbu. Tentang dinamika kepribadian yang diungkapkan oleh Frued, yaitu merupakan integrasi antara ketiga struktur kepribadian id, ego, dan super ego.

Selanjutnya yang tidak sesuai dengan Al-Quran ialah meskipun menurut Freud perilaku itu ditimbulkan karena libido seksual namun dalam fase bayi tidak memiliki keinginan birahi dan distruksi sebagaimana yang diungkapkan oleh freud.

Tidak semua perilaku orang itu semata-mata ditentukan oleh dorongan sex sebagaimana diungkapkan oleh freud, meskipun tidak dipungkiri bahwa nafsu memiliki daya tarik kuat sekali disbanding kedua system nafsani yang lain.


DAFTAR PUSTAKA

 

Anwar, Agus ddk. 2012. Makalah Psikoanalisis dalam Pandangan Islam. Bandung.

Hartati, Netty dkk. 2004. Islam & Psikologi. Jakarta. Raja Grafindo.

Husna, Faiqatul. 2018. Jurnal Aliran Psikoanalisis dalam Perspektif Islam. Jakarta. Diupload 12 Juli 2020.

Hall, Calvin S. Teori-teori psikodinamik (klinis). Yogyakarta: kanisius, 1993

 

KONSEP MENDIDIK ANAK

 


BAB I

PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang

Membesarkan dan mendidik anak bukanlah perkara mudah. Kekeliruan orang tua dalam menerapkan pola asuh dapat memengaruhi perilaku anak di kemudian hari. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk mempelajari prinsip parenting yang benar agar bisa membentuk karakter positif pada anak.

Anak bagaikan kertas putih kosong yang bisa dihiasi dengan coretan atau tulisan. Tulisan tersebut bisa membuat kertas menjadi indah atau sebaliknya. Nah, semua itu tergantung pada pola asuh yang orang tua terapkan kepada anak. Tabula rasa berasal dari bahasa Latin, artinya kertas kosong. Tabula rasa merujuk pada teori yang menyatakan bahwa anak-anak terlahir tanpa isi, dengan kata lain kosong. Teori ini dipengaruhi oleh pemikiran John Locke, dari abad 17. Kita  jadi tahu bahwa teori tabula rasa ini menjadi salah satu asumsi dasar dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah ataupu di rumah kita pada saat ini. Dengan asumsi bahwa anak adalah sebuah kertas kosong, maka tugas utama guru atau orang tua dan proses pendidikan adalah mengisi kertas kosong itu dengan informasi-informasi (pelajaran) yang penting bagi anak-anak.

Dalam pandangan pribadiku, teori yang memandang anak-anak sebagai sebuah kertas kosong adalah sangat reduktif. Hal ini mengakibatkan sentral proses belajar (pendidikan) terletak pada orang dewasa dan anak-anak dikondisikan pasif (karena mereka hanya sebuah kertas kosong yang harus diisi). Pengetahuan tentang teori tabula rasa ini bagiku menjelaskan fenomena anak-anak sekolah yang pasif dan kegiatan utama guru yang fokusnya mengajar (mengisi kertas kosong). Keterlibatan anak tak dianggap terlalu penting, apalagi pendapat dan inisiatif anak. Kalaupun ada, semua itu hanya bersifat suplemen untuk kegiatan utama tadi, yaitu mengisi pada anak-anak.

Menurut Jerome Kagan (dalam Berns, 1997), beliau adalah seorang psikologi perkembangan, yang mendefinisikan pengasuhan sebagai serangkaian keputusan tentang sosialisasi pada anak, yang mencakup apa yang harus dilakukan oleh orangtua agar anak mampu bertanggung jawab dan memberikan konstribusi sebagai anggota masyarakat. Jadi pengasuhan disini bagaimana orangtua harus menjelaskan kepada anak bagaimana anak bisa mempunyai tanggung jawab yang tinggi terhadap semua hal yang dilakukan.keluarga harus selalu mendukung kegiatan yang dilakukan anak selagi itu merupak hal yang baik untuk dilakukan. Banyak program parenting saat ini yang bisa diikuti oleh orangtua. program parenting adalah salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pola asuh orangtua guna membangun karakter positif pada anak.

 

Parenting adalah bagaimana cara mendidik orangtua terhadap anak baik secara langsung maupun tidak langsung. Parenting menyangkut semua perilaku orangtua sehari-hari baik yang berhubungan langsung dengan anak maupun tidak, yang dapat ditangkap maupun dilihat oleh anak-anaknya, dengan harapan apa yang diberikan kepada anak (pengasuhan) akan berdampak positif bagi kehidupannya terutama bagi agama, diri, bangsa, dan juga negaranya. Tugas utama mencerdaskan anak tetaplah ada pada orangtua meskipun anak telah dimasukkan ke sekolah agama. Peran orangtua dalam mendidik dan mengasuh anak sangatlah penting dalam mengembangkan potensi anak.

 

2.      Rumusan Masalah

A. Pendidikan Karakter Teori psikologi dan islam

1. Menjadi panutan yang baik bagi anak

2. Jangan terlalu memanjakan anak

3. Tumbuhkan Sifat kemandirian pada anak

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.  Pendidikan Karakter

Pola asuh yang baik dapat membantu menumbuhkan rasa kepedulian, kejujuran, kemandirian, dan keceriaan pada diri anak. Cara pengasuhan yang baik juga dapat mendukung kecerdasan anak dan melindungi anak dari rasa cemas, depresipergaulan bebas, serta penyalahgunaan alkohol dan narkoba. Pola asuh yang baik juga dapat mengurangi risiko anak mengalami gangguan perilaku.

Prinsip utama pola asuh yang baik adalah membesarkan dan mendidik anak dengan penuh kasih sayang, sekaligus mendukung, membimbing, dan menjadi teman yang menyenangkan.

Berikut ini adalah beberapa prinsip pola asuh atau parenting yang bisa Anda terapkan:

1. Menjadi panutan yang baik bagi anak

Anak cenderung akan meniru apa yang orang tuanya lakukan. Oleh karena itu, menjadi panutan yang baik bagi anak adalah salah satu cara mendidik anak yang penting dilakukan oleh para orang tua. Ketika Anda ingin menanamkan karakter positif pada anak, berilah contoh pada mereka, misalnya dengan selalu berkata jujur, berperilaku baik dan santun terhadap orang lain, serta membantu orang lain tanpa mengharap imbalan.

Dalam pembentukan karakter anak dibahas dalam Teori Behaviorisme salah satunya Albert Bandura yang mengatakan, bahwa prilaku manusia dikendalikan oleh stimulus dan penguatan merupakan penjelasan yang lemah, dan bertentangan dengan kenyataan bahwa manusia memiliki kepribadian yang mempengaruhi manusia secara konsisten dalam berinteraksi dengan lingkungan.

            Fungsi dan tujuan pendidikan karakter memiliki andil yang sangat besar dalam menentukan arah dan sebagai pedoman internalisasi karakter. Dengan fungsi dan tujuan tersebut diikhtiarkan terwujud insan kamil yang mempunyai posisi mulia di sisi Allah SWT. Secara garis besar pendidikan karakter merupakan jalan dalam mewujudkan masyarakat beriman dan bertaqwa yang senantiasa berjalan di atas kebenaran dengan menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan, kebaikan, musyawarah, serta nilai-nilai humanisme yang mulia.

Lalu bagaimana peran agama islam dalam menyikapi fenomena ini?

Sejak 14 abad yang lalu atau sejak pertama Al-Qur’an diturunkan, Islam telah memberikan konsep-konsep tentang pendidikan karakter.

Salah satu ayat yang menerangkan tentang pendidikan karakter adalah Q.S Luqman ayat 12-24, Walaupun terdapat banyak ayat Al-Qur’an yang memiliki keterkaitan dengan pendidikan karakter, namun Q.S Luqman ayat 12-14 karena ayat ini mewakili pembahasan ayat yang memiliki keterkaitan makna paling dekat dengan konsep pendidikan karakter.

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji". Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kelaliman yang besar". Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”

Aspek personal Luqman Jika dilihat dalam perspektif pendidikan yaitu bahwa kualitas manusia tidak dipandang dari sudut keturunan atau ras. Figur Luqman sebagai seorang pendidik memiliki kelebihan dalam kualitas kepribadiannya bukan kelebihan dalam bentuk kepemilikan berupa material maupun keturunan. Kelebihan dalam konteks ini yaitu hikmah. Luqman dipandang sebagai figur pendidik yang memiliki sifat dan perilaku yang menggambarkan hikmah. Dalam tafsir Ath-Thabari, hikmah diartikan sebagai pemahaman dalam agama, kekuatan berfikir, ketepatan dalam berbicara, dan pemahaman dalam Islam meskipun ia bukan nabi dan tidak diwahyukan kepadanya.

Implikasi dari makna hikmah bagi figur pendidik adalah bahwa seorang pendidik selain senantiasa berusaha meningkatkan kemampuan akademiknya, ia pun berupaya menselaraskan dengan amalannya. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam kitabul ‘ilmi bab Al-Igtibat fil ‘ilmi wal hihmah.

Dari segi anak didik, ungkapan “la tusyrik billah innassyirka lazhulmun azhim” (janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar) mengandung arti bahwa sesuatu yang tidak boleh dilakukan oleh anak didik tidak hanya sebatas larangan, tetapi juga diberi argumentasi yang jelas mengapa perbuatan itu dilarang. Anak didik diajak berdialog dengan menggunakan potensi pikirnya agar potensi itu dapat berkembang dengan baik. Komunikasi efektif antara Luqman dan anaknya mengisyaratkan bahwa hendaknya seorang pendidik menempatkan anak didiknya sebagai objek yang memiliki potensi fikir.

Selain itu, tunjukkan kepada anak bagaimana cara hidup sehat, misalnya mengonsumsi sayuran dan buah-buahan setiap hari, menyikat gigi setelah makan dan menjelang tidur, serta membuang sampah pada tempatnya.

2. Jangan terlalu memanjakan anak

Sebagai orang tua, Anda mungkin tidak sadar bahwa selama ini Anda selalu menuruti kemauan si buah hati. Nah, ini saatnya untuk menghentikan kebiasaan tersebut sekaligus memberi pembelajaran pada anak agar ia tidak terlalu manja.

Sebagai contoh, jangan turuti kemauan anak ketika dia menangis atau tantrum karena ingin menonton televisi saat waktunya tidur malam, minta dibelikan sesuatu yang tidak ia butuhkan, atau ketika ia merengek untuk bermain gadget. Mendisiplinkan anak merupakan salah satu bentuk kasih sayang anak yang penting dilakukan orang tua dalam membentuk karakter yang baik pada anak.

Meski demikian, jangan pula memarahinya atau bahkan memukulnya ketika ia berbuat kesalahan. Cobalah menegurnya dengan lembut namun tegas ketika ia berbuat salah dan berikan pemahaman kepadanya. Jangan lupa juga berikan pujian ketika ia melakukan hal yang baik. Ini akan memotivasinya untuk menjadi anak yang baik.

Disiplin dalam psikologi ialah suatu perbuatan menghormati, menghargai, patuh, dan taat pada norma norma yang berlaku, baik yang tertulis maupun tidak tertulis serta sanggup menjalankannya dan tidak mengelak untuk menerima sanksi sanksinya apabila ia melanggar tugas dan wewenang yang diberikan. Menurut Toto Asmara “Disiplin merupakan hasil belajar dan mencakup aspek kognitif, afektif, dan behavioral.

Di antara ajaran mulia yang sangat ditekankan dalam Islam adalah disiplin. Disiplin merupakan salah satu pintu meraih kesuksesan. Kepakaran dalam bidang ilmu pengetahuan tidak akan memiliki makna signifikan tanpa disertai sikap disiplin.

Tidak heran jika Allah memerintahkan kaum beriman untuk membiasakan disiplin. Perintah itu, antara lain, tersirat dalam Al-Qur’an surat Al-Jumuah ayat 9-10.

 

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah untukmengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui.Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kalian di muka bumi, dan carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kalian beruntung.” (QS Al-Jumuah: 9-10).

Disiplin yang dilakukan secara seimbang antara urusan ibadah dan kerja, akhirat dan dunia, itulah yang akan mengantarkan kaum beriman kepada kesuksesan. Perintah untuk menyeimbangkan antara urusan akhirat dan dunia juga dapat ditemukan dalam Al-Qur’an surat Al-Qashash ayat 77.

 

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan jatahmu dari kenikmatan dunia, dan berbuat baiklah kamu kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS Al-Qashash: 77).

Shalat jamaah jelas membutuhkan disiplin. Karena, umumnya shalat jamaah dikerjakan bersama-sama di masjid atau langgar tidak lama setelah azan berkumandang yang diikuti dengan iqamah. Dengan demikian, jika ingin mengikuti shalat jamaah, maka kita harus segera meninggalkan kesibukan setelah mendengar azan. Shalat jamaah di masjid atau langgar itu dikerjakan tepat waktu. Kalau kita masih saja ruwet dengan segala tetek bengek dunia, sementara azan sudah berkumandang, dipastikan kita akan ketinggalan, atau malah tidak mendapati shalat jamaah sama sekali.

 

Belum lagi tradisi i’tikaf atau berdiam diri ketika menunggu shalat jamaah dimulai. Ditambah tradisi berzikir setelah shalat jamaah selesai. Tanpa disiplin waktu yang bagus, mustahil kita dapat melakukan semua itu. Membiasakan disiplin dalam segala urusan secara seimbang itulah yang akan menjadikan hidup kita indah, tertata, dan diliputiberkah. 

3. Tumbuhkan sifat kemandirian pada anak

Sikap mandiri adalah hal yang penting dimiliki setiap orang. Agar terbiasa mandiri, sikap ini perlu dilatih dan dididik sejak masa kanak-kanak. Bila tidak, maka anak bisa saja terus bergantung pada orang tua atau orang di sekitarnya dan sulit beradaptasi dengan lingkungan ketika dewasa.

Melatih anak agar mandiri dapat ditanamkan dengan cara memberikan anak kepercayaan, kesempatan, dan apresiasi. Misalnya, dengan mengajarkan anak untuk merapihkan mainan dan tempat tidurnya sendiri atau sekedar membiasakan anak untuk menyiapkan bekal sekolahnya sendiri.

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk melatih kemandirian anak, yaitu:

v   Mulailah dengan memberi tugas kecil

v  Biarkan anak menentukan pilihannya sendiri

v   Jangan selalu membantu

v  Berikan lingkungan yang ramah anak

v  Hargai setiap usahanya

Hakikat dari keberhasilan seorang anak dalam islam di dunia ini adalah ketika anak tersebut sudah mampu melakukan ibadah sendiri tanpa dipaksa orang tuanya. Contohnya anak sudah bisa sholat sendiri tanpa disuruh. Kewajibannya sebagai hamba Allah Swt sudah tidak perlu diingatkan lagi, tanpa harus dipaksa lagi. Jangan kita beranggapan bahwa anak yang mandiri hanya berpangku pada keberhasilan dunia saja. Jangan kita menuntut kemandirian anak secara dunia, mari kita tuntut anak mandiri secara akhirat agar menjadi anak yang soleh dan solehah.

Al-Quran surat Al- Mudasir ayat 38 menyebutkan: “tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang diperbuatnya”.

 Selanjutnya dalam surat Al-Mukminun ayat 62 disebutkan:

“ kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada sisi kami ada kitab yang berbicara benar, dan mereka telah dianiaya”.

Dari ayat tersebut menjelaskan bahwa individu tidak akan mendapatkan suatu beban diatas kemampuannya sendiri tetapi Allah Maha Tahu dengan tidak memberi beban individu melebihi batas kemampuan individu itu sendiri. Karena itu individu dituntut untuk mandiri dalam menyelesaikan persoalan dan pekerjaannya tanpa banyak tergantung pada orang lain. Abdullah menuturkan beberapa contoh tentang inti pandangan Islam terhadap pendidikan anak dengan didukung oleh berbagai bukti dan argumentasi. Beliau mengatakan bahwa kemandirian dan kebebasan merupakan dua unsur yang menciptakan generasi muda yang mandiri.

 

BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Setiap anak yang tumbuh dan berkembang, sebelum ia mengalami proses pendidikan di sekolah, sejatinya berasal dari rumah tempat ia menjalani hari-harinya bersama keluarga. Karena itu orang tualah yang memegang peran yang sangat penting dalam hal pendidikan anak, walaupun ada beberapa kondisi yang menyebabkan anak tidak bisa mendapatkan pendidikan dari orang tuanya, seperti anak yatim piatu semenjak lahir, anak yang dibuang oleh orang tuanya dan lain-lain. Tetapi dalam kondisi normal, orang tua merupakan pendidik anak yang pertama dan utama. Bahkan dalam Al-Qur’an serta Sunnah banyak sekali ditegaskan tentang pentingnya mendidik anak bagi para orang tua. Anak yang terdidik dengan baik oleh orang tuanya akan tumbuh menjadi anak yang pandai menjaga dirinya dari pengaruh buruk lingkungan, karena ia telah dibekali oleh ilmu tentang hidup dan kehidupan yang di dalamnya terdapat ilmu yang paling bermanfaat yaitu ilmu agama.

 

Banyak sekali sekolah-sekolah yang memfasilitasi kita untuk menjadi seperti apa yang kita cita-citakan walaupun tidak selalu terwujudkan, ingin menjadi dokter ada sekolahnya, ingin menjadi guru juga ada sekolahnya begitupun dengan profesi lain. Tetapi adakah sekolah untuk menjadi orang tua? Padahal setinggi apapun karier kita dalam profesi tertentu, sejatinya kita akan tetap menjalani fitrah yang sama yaitu menjadi orang tua, walaupun tidak semua orang ditakdirkan Allah SWT untuk dapat memiliki anak, maka bersyukurlah bagi kita yang diamanahi Allah SWT anak-anak yang menjadi penyejuk mata dan harapan di masa yang akan datang.

Setiap orang tua harus senantiasa belajar tentang ilmu mendidik anak karena tidak ada sekolah khusus untuk menjadi orang tua. Tetapi banyak sekali yang dapat memfasilitasi hal itu jika kita bersungguh-sungguh ingin belajar menjadi orang tua yang baik, terutama di zaman ini dimana perkembangan ilmu dan teknologi begitu cepat dan mampu menembus ruang dan waktu. Orang tua yang memiliki bekal ilmu dalam mendidik anak akan sadar tentang pentingnya pendidikan anak sejak usia dini bahkan sejak anak masih berada di dalam rahim ibu, bahkan menurut penelitian, kondisi ibu saat hamil sangat mempengaruhi akhlak anak, bila ibu mampu menjaga diri dari makanan-makanan yang tidak halal dan juga perilaku-perilaku yang tidak terpuji insya Allah anak yang lahir akan menjadi anak yang sholeh. Karena tidak ada bayi yang terlahir kecuali suci, namun ia mencontoh dari orang tua, tontonan televisi/media, guru dan lingkungan pergaulannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Alquran Nulkarim, Terjemahan Depag

Nur Aynun “Mendidik anak Pra Aqil Baligh, Kompas media ,jakarta’2018.

Neil J.Salkind” Teori-Teori Perkembangan Manusia”2009

Ida S. Widayanti” mendidik karakter dengan karakter” Jakarta 2012

 

Aktualisasi Filsafat

Jangan lupa Subscribe Bos Q

Jangan lupa Subscribe Bos Q