BAB I
PENDAHULUAN
- LATAR BELAKANG
Kewirausahaan pertama
kali muncul pada abad 18 diawali dengan penemuan-penemuan baru seperti mesin uap, mesin pemintal, dll. Tujuan
utama mereka adalah pertumbuhan dan
perluasan organisasi melalui inovasi dan kreativitas. Keuntungan dan kekayaan bukan tujuan utama. Secara sederhana arti wirausahawan (entrepreneur)
adalah orang yang berjiwa berani mengambil
resiko untuk membuka usaha dalam berbagai kesempatan. Berjiwa berani mengambil resiko artinya bermental mandiri dan berani
memulai usaha, tanpa diliputi rasa
takut atau cemas sekalipun dalam kondisi tidak pasti (Kasmir, 2007 :18)
Pengertian
kewirausahaan relatif berbeda-beda antar para ahli / sumber acuan dengan titik berat perhatian atau penekanan yang
berbeda-beda, diantaranya adalah penciptaan
organisasi baru (Gartner, 1988), menjalankan kombinasi (kegiatan) yang baru (Schumpeter, 1934), ekplorasi berbagai peluang
(Kirzner, 1973), menghadapi ketidakpastian
(Knight, 1921), dan mendapatkan secara bersama faktor-faktor produksi(Say,
1803).
Kewirausahaan dipandang
sebagai fungsi yang mencakup eksploitasi peluang - peluang yang muncul di pasar. Eksploitasi tersebut
sebagian besar berhubungan dengan pengarahan
dan atau kombinasi input yang produktif. Seorang wirausahawan selalu diharuskan menghadapi resiko atau peluang yang
muncul, serta sering dikaitkan dengan tindakan
yang kreatif dan innovatif. Wirausahawan adalah orang yang merubah nilai sumber daya, tenaga kerja, bahan dan faktor produksi
lainnya menjadi lebih besar daripada
sebelumnya dan juga orang yang melakukan perubahan, inovasi dan cara-cara baru.
Selain itu, seorang
wirausahawan menjalankan peranan manajerial dalam kegiatannya, tetapi manajemen rutin pada operasi
yang sedang berjalan tidak digolongkan
sebagai kewirausahaan. Seorang individu mungkin menunjukkan fungsi kewirausahaan ketika membentuk sebuah organisasi,
tetapi selanjutnya menjalankan fungsi
manajerial tanpa menjalankan fungsi kewirausahaannya. Jadi kewirausahaan bisa
bersifat sementara atau kondisional.
Kesimpulan lain dari
kewirausahaan adalah proses penciptaan sesuatu yang berbeda nilainya dengan menggunakan usaha dan waktu
yang diperlukan, memikul resiko
finansial, psikologi dan sosial yang menyertainya, serta menerima balas jasa moneter dan kepuasan pribadi. Istilah wirausaha muncul kemudian setelah dan
sebagai padanan wiraswasta yang sejak
awal sebagian orang masih kurang cocok dengan kata swasta. Persepsi
tentangwirausaha sama dengan wiraswasta sebagai padanan entrepreneur.
Perbedaannya adalah penekanan pada kemandirian (swasta), pada wiraswasta, dan pada usaha (bisnis) pada wirausaha. Istilah wirausaha kini makin banyak
digunakan orang terutama karena memang
penekanan pada segi bisnisnya. Walaupun demikian mengingat tantangan yang dihadapi oleh generasi muda pada saat ini banyak
pada bidang lapangan kerja, maka pendidikan
wiraswasta mengarah untuk survival dan kemandirian seharusnya lebih ditonjolkan.
Sedikit perbedaan
persepsi wirausaha dan wiraswasta harus dipahami, terutama oleh para pengajar agar arah dan tujuan pendidikan
yang diberikan tidak salah. Jika yang diharapkan
dari pendidikan yang diberikan adalah sosok atau individu yang lebih bermental baja atau dengan kata lain lebih memiliki
kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasarn
advirsity (AQ) yang berperan untuk hidup (menghadapi tantangan hidup dan kehidupan) maka pendidikan wiraswasta yang lebih
tepat. Sebaliknya jika arah dan tujuan
pendidikan adalah untuk menghasilkan sosok individu yang lebih lihai dalam bisnis atau uang, atau agar lebih memiliki
kecerdasan finansial (FQ) maka yang lebih tepat
adalah pendidikan wirausaha. Karena kedua aspek itu sama pentingnya, maka pendidikan yang diberikan sekarang lebih cenderung
kedua aspek itu dengan menggunakan
kata wirausaha. Persepsi wirausaha kini mencakup baik aspek finansial maupun personal, sosial, dan profesional
(Soesarsono, 2002 : 48)
Pengembangan kewirausahaan yang
dimasyarakatkan secara menyeluruh ke semua lapisan termasuk ke semua instansi
baik pemerintah maupun swasta telah berlangsung hingga sekarang. Pelaksanaan
program tersebut secara resmi tertuang dalam Instruksi Presiden No.IV Tahun
1995
Mengacu pada program tersebut, sebagaoi
generasi muda perlu kiranya untuk menyambut dan melaksanakannya. Hal ini juga
termotivasi dengan keadaan bangsa Indonesia sejak berbagai krisis (khususnya
bidang ekonomi) sejak tahun 1997 hingga kini kita masih dihadapkan berbagai
masalah. Pasar global yang kini telah berlangsung dengan penerapan AFTA ( Asian
Free Trade Area ) 2003 juga menjadi perhatian kita bersama, karena mau atau
tidak mau, siap atau tidak siap kita harus mengikuti era tersebut.
Kenyataan menunjukkan bahwa sejak krisis
ekonomi melanda bangsa Indonesia hingga kini belum menunjukkan perubahan yang
berarti, dampaknya pada bertambahnya PHK ( Pemutusan Hubungan Kerja ).
Di sisi lain lulusan Perguruan Tinggi
hingga kini belum sepenuhnya terserap dalam lapangan kerja, hal ini berdampak
pada banyaknya jumlah pengangguran. Lulusan Perguruan Tinggi sekarang ini harus
bersedia bersaing mencari pekerjaan sendiri atau menciptakan peluang kerja bagi
dirinya ataupun untuk orang lain.
Kesenjangan status ekonomi masyarakat di
Indonesia masih terasa artinya yang kaya
semakin kaya yang miskin semakin miskin.
Berdasarkan kenyataan tersebut, maka
pengembangan kewirausahaan perlu ditanamkan kepada generasi muda, karena dengan
pengembangan jiwa kewirausahaan ini mereka diharapkan berperan sebagai :
1. Pendukung
lajunya pembangunan bangsa baik secara fisik maupun non fisik
2. Insan
yang berpendidikan, diharapkan sebagai penggerak / motivator dan bertanggung
jawab terhadap kemajuan suatu pengetahuan, teknologi dan seni khususnya
pengetahuan di bidang kewirausahaan / kemandirian
3. Suri
tauladan sebagai praktisi di bidang kewirausahaan yang memiliki pendidikan
tinggi, karena selama ini masyarakat kita yang menjadi praktisi di bidang
kewirausahaan pada umumnya memiliki pendidikan yang rendah.
4. Sebagai
lulusan perguruan tinggi diharapkan tidak sebagai insan pencari kerja, tetapi
menciptakan lapangan pekerjaan.
- RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan
uraian di atas maka penulis dapat mengambil kesimpulan berupa permasalahan yang
akan dibahas. Permasalahan itu sebagai berikut :
1. Bagaimana pemahaman penulis tentang konsep dasar dari kewirausahaan ?
2. Bagaimana kiat menjadi seorang
wirausahawan yang berhasil ?
- TUJUAN
Adapun tujuan
yang inigin dicapai dalam penyusunan makalah ini, adalah sebagai berikut :
1.
Menambah
pengetahuan penulis tentang konsep dasar dari kewirausahaan.
2.
Menambah
wawasan tentang kewirausahaan, kewiraswastaan, entrepreneurship.
3.
Mengetahui
ciri – ciri dan kiat menjadi seorang wirausahawan yang berhasil.
4.
Meningkatkan
rasa tanggung jawab penulis dengan itikad terhadap tugas yang dibebankan kepada
mahasiswa.
5.
Memenuhi
salah satu tugas mata kuliah kewirausahaan.
- MANFAAT
Adapun manfaat
yang diharapkan penulis dari penyusunan makalah ini yaitu :
1.
Dapat
menambah wawasan penulis mengenai kewirausahaan, kewiraswastaan, dan
entrepreneurship
2.
Sebagai
wahana untuk melatih penulis dalam membuat makalah tentang kewirausahaan
3.
Sebagai
wahana mahasiswa dalam kegiatan literasi terutama tentang kewirausahaan
BAB II
PEMBAHASAN
A. URGENSI
PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN DAN PENDIDIKAN KEWIRAUSAHAAN
1.
Urgensi Pengembangan
Kewirausahaan dan Pendidikan Kewirausahaan bagi Bangsa Indonesia
Melihat pengertian dan teori kewirausahaan dikaitkan dengan
keadaan dan masalah yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini dan saat-saat
mendatang dalam rangka mensukseskan tujuan nasional mencerdaskan dan
mensejahterakan kehidupan yang saat ini jumlahnya melebihi 200 juta penduduk
dengan lokasi yang tersebar lebih dari seribu pulau ini, pastilah merupakan
tantangan yang tidak kecil dan harus dihadapi secara tepat dan sistematis.
Bagaimana pentingnya pengembangan kewirausahaan dan pendidikan
kewirausahaan bagi bangsa Indonesia kiranya dapat dijelaskan sebagai berikut:
a.
Indonesia di awal abad 21
dilihat dari segi jumlah penduduk telah menjadi negara terbesar kelima di
dunia, dengan sebagian besar penduduknya adalah angkatan kerja, dan sebagian
dari jumlah itu adalah tenaga muda alumni Perguruan Tinggi. Jumlah penduduk
yang besar tersebut bisa saja merupakan potensi apabila berkualitas baik,
tetapi apabila tidak jumlah penduduk yang besar itu akan menambah bertanya
beban pembangunan.
b.
Menurut penelitian,
tampaknya ada korelasi antara jumlah penduduk yang berkewirausahaan dan tingkat
kemakmuran suatu masyarakat. Negara yang maju memiliki wirausahawan lebih dari
6% jumlah penduduk, sedang jumlah wirausahawan Indonesia menurut penelitian
tahun 1982 belum mencapai 0,5%.
c.
Telah terbukti tingkat
kemajuan dan keterbelakangan suatu negara tidak terletak pada jumlah penduduk,
kekayaan alam, luas wilayah, warna kulit atau suku bangsa, atau lamanya
kemerdekaan yang telah dialami, tetapi adalah terletak pada kualitas
manusianya.
Selain
itu, terdapat uraian bahwa bangsa Indonesia menilai pengembangan entrepreneurship (kewirausahaan) adalah kunci
kemajuan. Hal
itu dinilai karena itulah cara mengurangi jumlah
pengangguran, menciptakan lapangan kerja, mengentaskan masyarakat dari
kemiskinan dan keterpurukan ekonomis, serta meningkatkan harkat sebagai bangsa yang
mandiri dan bermartabat. Dengan kecilnya jumlah entrepreneur, kewirausahaan
menjadi keharusan. Dialah kunci kemajuan. Dunia membutuhkan solusi masalah yang
bisa mewujudkan impian jadi kenyataan, dilandasi ambisi dan keberanian
mengambil risiko secara cerdas.
2.
Urgensi Pengembangan
Kewirausahaan di Perguruan Tinggi
Program pengembangan jiwa kewirausahaan telah dicanangkan oleh Presiden Republik
Indonesiapada bulan Juli 1995. Setelah itu diluncurkan berbagai program rintisan pengembangan jiwa kewirausahaan di kalangan mahasiswa. Program Kreativitas Mahasiswa
(PKM), KKN-Usaha dan Cooperative
Education (Co-op) yang diluncurkan
beberapa saat setelah pencanangan Presiden tersebut, telah banyak menghasilkan alumni yang terbukti lebih kompetitif
di dunia kerja. Hasil-hasil karya invosi mahasiswa melalui PKM potensial tersebut ditindaklanjuti
secara komersial menjadi sebuah embrio bisnis berbasis
IlmuPengetahuan, Teknologi dan Seni (Ipteks).
Program rintisan yang telah di uji cobakan
di beberapa perguruan tinggi antara lain sebagai
berikut :
a. Kuliah Kewirausahaan Secara Terstruktur
Kuliah kewirausahaan umumnya hanya bagi fakultas / jurusan tertentu saja. Tidak semua jurusan mempunyai cara pandang yang sama untuk mengalokasikan
SKS guna menyajikan mata kuliah ini. Perlu dicari suatu kesepakatan dan kesamaan pandang tentang perlunya disajikan kuliah kewirausahaan di semua jurusan / prodi yang ada. Komitmen dan dukungan top
leader di PT sangat dibutuhkan
untuk mewujudkan hal ini.
b. Kuliah Kerja Nyata Usaha
Mahasiswa sebagai calon wirausahawan masih perlu dibekali kemampuan, keterampilan,
keahlianmanajemen, adopsi inovasi teknotogi, keahlian mengelola keuangan /
modal maupun keahlian pemasaran melalui
pengalaman langsung dalam dunia usaha. KKN
yang diaplikasi pada kegiatan usaha UKM ini, akan sangat bermanfaat bagi mahasiswa untuk lebih mengenal praktik kewirausahaan secara langsung. Sayangnya uji coba
program ini tidak berlanjut pada desiminasi
konsep penyelenggaraannya.
c. Klinik Konsultasi Bisnis dan Penempatan Kerja (Job-Placement
Center )
Program yang sudah berjalan melalui bantuan US-AID dan HEDS di Wilayah Indonesia Barat akan terus dikembangkan ke perguruan tinggi lain. Konsultasi Bisnis dan Penempatan Kerja (KBPK) yang dikembangkan dari Pusat Konsultasi bagi pengusaha kecil dan menengah merupakan salah satu kegiatan yang dapat memberikan pelayanan kepada alumni Perguruan Tinggi yang beminat menjadi pengusaha baru, atau pengusaha kecil yang telah berkecimpung dalam dunia usaha. KBPK mendidik staf pengajar memperoleh pengalaman praktis dalam dunia usaha dengan cara memberikan konsultasi kepada pengusaha kecil dan menengah. KBKP juga
membuka akses untuk sumberdaya bahan baku, pasar,sumber daya keuangan, sumber
daya informasi, serta membangun
jaringan kerja untuk meningkatkan sinergi antar
pengusaha kecil dan menengah. Program ini tidak
sepenuhnya berlanjut karena alasan sumber daya
manusia yang relatif terbatas.
d. Magang
Kewirausahaan
Melalui Program Penerapan Iptek / Vucer bagi pengusaha
kecil/industri kecil dan koperasi yang telah berjalan selama ini. Program
Magang Kewirausahaan merupakan kegiatan mahasiswa untuk memperoleh pengalaman
kerja praktis pada usaha kecil dan menengah termasuk melakukan identifikasi
permasalahan, analisis dan penyelesaian permasalahan dan manajemen, pemasaran,
serta teknologi. Magang Kewirausahaan adalah kegiatan di mana mahasiswa
benar-benar bekerja sebagai tenaga kerja di usaha kecil atau menengah. Magang
juga menciptakan keterkaitan dan kesepadanan (link and match) antara
Perguruan Tinggi dengan usaha kecil menengah. Di samping itu, Staf pengajar
yang menjadi pembimbing mahasiswa memperoleh manfaat dalam hal pengalaman
praktis wirausaha dan akses kepada kalangan usaha kecil dan menengah. Sayangnya
program ini tidak berlanjut. Dana dan komitmen Ketua Jurusan sebagai salah satu
penyebabnya.
e. Karya Alternatif
Mahasiswa atau Program Kreativitas Mahasiswa
Dalam berwirausaha produk / komoditi yang diperdagangkan adalah
inti dari denyut perdagangan itu sendiri. Setiap produk sejenis akan bersaing
dalam kualitas yang meliputi unjuk kerja, keandalan (reliability) dan
kekuatan (robustness) serta kemudahan pengoperasiannya (user friendly).
Persaingan tersebut pada hakekatnya adalah persaingan teknologi yang diterapkan
dalam kemasan yang menarik serta harga yang lebih murah sebagai hasil
penelitian dan pengembangan. Melalui kegiatan Karya Alternatif Mahasiswa (KAM)
para mahasiswa yang telah mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi dilatih
dan didorong untuk menghasilkan suatu komoditi yang diperlukan masyarakat.
Prinsip yang perlu ditekankan dalam hal ini adalah bahwa keterampilan
menghasilkan produk harus dipadukan dengan pemahaman bisnis yang minimal
telah dimiliki mahasiswa pesertanya. KAM diprioritaskan untuk diisi dengan aktivitas
produktif mahasiswa yang berpola khusus, sebagai bagian integral dari kegiatan intra atau ekstra kurikuler
mahasiswa dalam usaha untuk membekalinya dengan keterampilan menghasilkan produk dan pengetahuan tentang bisnis rintisan.
f. Inkubator Wirausaha
Baru
Program inkubator di beberapa perguruan tinggi negeri dan
perguruan tinggi swasta yang bekerjasama dengan Kantor Menteri Koperasi dan
Pembinaan Pengusaha kecil, akan dikembangkan tidak hanya bagi pengusaha kecil,
industri kecil atau koperasi, tetapi juga mengikut sertakan mahasiswa /alumni dalam penciptaan wirausaha baru.
Inkubator Wirausaha Baru adalah suatu fasilitas yang dikelola oleh
sejumlah staf terbatas dan menawarkan suatu paket terpadu kepada pengusaha atau
mahasiswa dan alumni dengan biaya terjangkau selama jangka waktu tertentu (2–3
tahun). Paket terpadu tersebut meliputi :
1)
Sarana fisik atau gedung,
dan fasilitas kantor yang dapat dipakai Bersama
2)
Kesempatan akses dan
pembentukan jaringan kerja dengan jasa pendukung teknologi dan bisnis : sumber
daya teknologi dan informasi, sumber daya bahan baku, sumber daya keuangan
3) Pelayanan konsultasi yang meliputi aspek teknologi, manajemen, dan
pemasaran
4) Pembentukan jaringan kerja antar pengusaha
5) Pengembangan produk penelitian untuk dapat diproduksi secara
komersial.
Keterlanjutan
program ini terkendala oleh kompleksitas permasalahan yang tidak didukung oleh
SDM dan fasilitas yang memadai. Dengan latar belakang program rintisan tersebut
di atas, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi tahun 2009 ini mengembangkan
sebuah Program Mahasiswa Wirausaha (Student Entrepreneur Program) yang
merupakan kelanjutan dari program-program sebelumnya (PKM, Co-op, dan
sejenisnya), untuk menjembatani para mahasiswa memasuki dunia bisnis rill
melalui fasilitasi start-up bussines. Program Mahasiswa Wirausaha (PMW)
dimaksudkan untuk memfasilitasi para mahasiswa yang mempunyai minat dan bakat entrepreneurship
untukmemulai
berwirausaha dengan basis ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang sedang
dipelajarinya. Tujuannya
membentuk softskill agar mahasiswa berperilaku sesuai karakter
wirausaha.
Fasilitas yang diberikan meliputi pendidikan dan pelatihan kewirausahaan magang, penyusunan rencana
bisnis, dukungan permodalan dan pendampingan usaha. Program ini diharapkan
mampu mendukung pencapaian visi-misi pemerintah dalam mewujudkan kemandirian
bangsa melalui penciptaan lapangan kerja dan pemberdayaan UKM.
Prosedur operasional standar dari Program Mahasiswa Wirausaha meliputi persiapan program,
pembekalan dalam bentuk Diklat kewirausahaan,magang ke UKM, dan penyusunan
business plan, pendampingan dalam hal star-up
business dan business establishmen, dan Monev

Gambar 1. Model Program Mahasiswa Wirausaha
Mencermati program-program sebagaimana diurai di atas, pemerintah dan pimpinan PT mempunyai
peran penting dalam menumbuhkan jiwa kewirausahaan
mahasiswa. Namun secara operasional terdapat terdapat 3 (tiga) unsur penting
yang menjadi kunci keberhasilan pengembangan jiwa kewirausahaan di perguruan
tinggi adalah mahasiswa, kurikulum, dosen pembina kewirausahaan.
Agar sistem budaya kewirausahaan ini
dapat dibumikan di perguruan tinggi, maka perlu dilakukan mapping potensi dan permasalahan di sekitar ketiga unsur tersebut.
a.
Unsur Mahasiswa
Di perguruan tinggi, dunia kewirausahaan masih dipandang sebelah mata oleh sebagian mahasiswa dan juga dosen. Banyak potensi dan peluang yang semestinya bisa dimanfaat mahasiswa untuk
kepentingan pembelajaran dan pembumian sistem budaya kewirausahaan ini, namun sayangnya belum dimanfaatkan
sepenuhnya. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah melalui Depdiknas untuk menanamkam
jiwa kewirausahaan pada mahasiswa.
Hasil penelitian mengatakan bahwa ada 3 faktor dominan dalam memotivasi sarjana menjadi
wirausahawan yaitu faktor kesempatan, faktor kebebasan,dan faktor kepuasan
hidup (Sutabri, 2008). Ketiga faktor
itulah yang membuat mereka menjadi wirausahawan. Penelitian ini sangat membantu
pihak perguruan tinggi dalam memberikan informasi kepada para mahasiswanya, bahwa menjadi wirausahawan akan mendapatkan beberapa kesempatan, kebebasan dan kepuasan hidup.
Proses penyampaian ini harus sering dilakukan sehingga mahasiswa semakin termotivasi untuk memulai berwirausaha. Sebab banyak mahasiswa merasa takut menghadapi resiko bisnis yang mungkin muncul yang membuat mereka membatalkan rencana bisnis sejak dini.
Motivasi yang cukup, memicu keberanian mahasiswa
untuk mulai mencoba berpengalaman di bidang kewirausahaan. Dengan semakin banyaknya mahasiswa
memulai usaha sejak masa kuliah, maka besar kemungkinan setelah lulus akan melanjutkan usaha
yang sudah dirintisnya. Sehingga bisa membuka lapangan kerja
dan diharapkan dapat ikut mengurangi jumlah pengangguran.
Beberapa program rintisan pengembangan jiwa kewirausahaan bagi mahasiswa yang saat ini perlu dilanjutkan dengan modifikasi tertentu antara lain Sebagai berikut :
1) Mahasiswa wajib mengikuti kuliah kewirausahaan
secara terstruktur, yang dilakukan secara menyeluruh
di setiap jurusan atau Prodi. Kendala pembina
mata kuliah Kewirausahaan dapat diatasi
dengan membentuk Team Teaching.
2) Pada tahap awal, separuh dari mahasiswa yang memprogramkan KKN diberi kesempatan untuk mengambil program KKN-Magang Usaha. Pada tahap selanjutnya, jumlah dapat ditingkatkan sesuai dengan hasil evaluasi. KKN-Magang Usaha ini merupakan perpaduan antara KKN dan magang kewirausahaan. Untuk itu program dirancang dengan baik, dilakukan pembekalan (Diklat, pengenalan kasus usaha), pendampingan,dan
Monev).
3) Mahasiswa diberi kesempatan membantu Klinik Konsultasi Bisnis dan Penempatan Kerja (JobPlacement Center) untuk media belajar bagi mahasiswa.
4) Workshop-Role models dapat dilakukan dengan melakukan workshop kewirausahaan dengan target tersusunnya business plan. Worshop ini didampingi oleh orang yang diidolakan (wirausahawan
sukses dan berpengalaman) guna memberikan
wawasan, semangat membuka suatu
usaha, memberi dorongan, dan bantuan. Orang
yang diidolakan tersebut bisa juga berupa asosiasi
berbagai badan asosiasi bisnis, instruktur, dosen atau guru bisnis, biro konsultan bisnis, dan sejenisnya.
5) Mengembangkan koperasi mahasiswa. Model yang
dikelola dengan menggunakan pendekatan profesionalisme
yang sekaligus berfungsi sebagai tempat
pembelajaran kewirausahaan.
6) Mahasiswa mengembangkan berbagai kerjasama dengan
pihak eksternal dan alumni yang berhasil
dalam bidang kewirausahaan.
7) Perguruan Tinggi mendirikan Inkubator Wirausaha yang
pengelolaannya dilakukan oleh orang profesional yang berfungsi pula sebagai
laboratorium / pusat kajian bisnis. Mahasiswa dapat memanfaatkan fasilitas pusat bisnis ini untuk pembelajaran kewirausahaan.
b. Unsur Kurikulum
Unsur kedua yang menjadi kunci keberhasilan pengembangan kewirausahaan adalah kurikulum yang diberlakukan di suatu Perguruan Tinggi. Kurikulum di desain
sedemikian rupa untuk dijadikan acuan dalam penyelenggaraan perkuliahan mahasiswa.
Di negara maju pertumbuhan wirausaha membawa
peningkatan ekonomi yang luar biasa.Pengusaha pengusaha baru ini telah
memperkaya pasar dengan produk-produk baru yang inovatif. Tahun 1980-an di Amerika telah lahir sebanyak 20 juta wirausahawan baru, mereka menciptakan lapangan
pekerjaan baru. Demikian pula di Eropa Timur,wirausaha ini mulai bermunculan.
Bahkan, di negeri China, yang menganut
paham komunis, mulai membuka diri terhadap lahirnya wirausahawan. Universitas
Beijing, menghapuskan mata kuliah Marxis, dan menggantinya dengan mata kuliah kewirausahaan.
Diluar negeri, banyak universitas yang kewalahan memenuhi permintaan mahasiswa pada mata kuliah kewirausahaan
yang terus meningkat.
Pada umumnya di perguruan tinggi yang ada di tanah air menyelenggarakan mata kuliah kewirausahaan, walaupun intensitas dan
proporsinya mungkin berbeda
satu dengan lainnya. Berdasarkan pengamatan di beberapa PTN didapati suatu
kesimpulan bahwa tidak semua jurusan
menyajikan mata kuliah atau pendidikan kewirausahaan sebagai mata kuliah yang berdiri
sendiri. Fakta lain, jurusan-jurusan yang menyajikan
mata kuliah/pendidikan kewirausahaan,substansi materi
yang disajikan dalam mata kuliah kewirausahaan
relatif telah memadai (Siswoyo, 2008).
Beberapa ketua jurusan yang tidak menyajikan mata
kuliah Kewirausahaan baik sebagai mata kuliah yang berdiri sendiri maupun ditempelkan pada beberapa mata kuliah
yang relevan, diperoleh alasan sebagai
berikut :
1)
Jumlah
SKS yang tersedia dirasakan tidak memadai
lagi untuk ditambahkan mata kuliah diluar target kurikulum.
2)
Belum
diperoleh dukungan dari dewan dosen dengan
alasan yang belum jelas, untuk memasukkan mata kuliah kewirausahaan. Namun
sebagai wacana, banyak di antara ketua jurusan yang ingin menyajikan mata kuliah kewirausahaan di masa mendatang.
3)
Penyajian
mata kuliah Kewirausahaan dititipkan pada
mata kuliah yang relevan, namun porsi substansi content-nya
masih relatif kecil/terbatas.
4)
Mata
kuliah kewirausahaan tidak match
dengan bidang ilmu yang diemban oleh jurusan. Hanya sebagian kecil jurusan yang menyatakan bahwa mata kuliah kewirausahaan relevan dengan bidang keilmuan yang ada di jurusan.
5)
Terkendala
oleh staf pengajar yang tidak atau kurang
mempunyai kompetensi yang memadai untuk
mengajarkan atau membina mata kuliah kewirausahaan.
Berdasarkan alasan para
Kajur di atas, dapat disimpulkan
bahwa tidak semua jurusan sepakat memasukkan
kewirausahaan dalam kurikulumnya. Kewirausahaan
dianggap bukan sebagai sesuatu yang perlu
dibekalkan pada mahasiswa. Selain tidak sejalan dengan kompetensi bidang ilmu yang
ditargetkan,kendala kompetensi dosen pengajar atau Pembina kewirausahaan menjadi alasan yang utama.
Untuk itu, perlu
dilakukan berbagai upaya yang sungguh-sungguh
untuk menelaah kembali kebijakan pencantuman
mata kuliah kewirausahaan ini dalam kurikulum jurusan yang ada di PT, dan
mengesampingkan pemikiran ”relevansi latar keilmuan”. Artinya, pencatuman mata kuliah kewirausahaan tidak perlu mempermasalahkan koherensi substansi mata kuliah kewirausahaan
dengan bidang ilmu utama yang diemban
jurusan.
Pimpinan perguruan
tinggi diharapkan ikut memotivasi
jajarannya, agar pengetahuan, wawasan dan
ketrampilan mahasiswa di bidang kewirausahaan dapat ditingkatkan tanpa mempermasalahkan keselarasannya dengan kompetensi keilmuan yang diampu mahasiswa. Hal ini menjadi penting ketika daya serap lulusan PT terhadap kompetensi yang diampu relatif kecil, dan ke depan diprediksi akan semakin kecil.
c. Unsur Dosen Pembina Kewirausahaan
Dosen pembina kewirausahaan menempati peran strategis dalam upaya pembekalan kewirausahaan
pada mahasiswa. Permasalahan yang
muncul di sekitar penyajian mata
kuliah kewirausahaan adalah keterbatasan kompetensi dosen pembina.
Kewirausahaan membutuhkan penekanan ranah ketrampilan dan sikap yang lebih dibandingkan dengan ranah pengetahuan. Untuk mewujudkannya, biasanya terkendala oleh keberadaan
kompetensi dosen yang menguasai praktik kewirausahaan.
Pengembangan jiwa kewirausahaan seorang dosen, hakikatnya berlangsung secara alamiah. Dalam kehidupan sehari-hari, setiap individu akan bertindak rasional. Tindakan rasional ini diwujudkan dalam bentuk pilihan alternatif yang berujung pada perhitungan untung rugi. Perhitungan untung rugi merupakan tindakan ekonomi yang berorientasi pada penerapan prinsip ekonomi. Jadi, setiap individu
pada dasarnya telah mengembangkan jiwa kewirausahaan. Namun, jika ingin memerankan dirinya sebagai pembina
kewirausahaan, tidak cukup dengan mengandalkan perilaku alamiah tersebut. Namun
seorang dosen harus membekali dirinya dengan berbagai pengetahunan
dan ketrampilan bi bidang
kewirausahaan.
Pengembangan jiwa kewirausahaan dosen dapat dilakukan melalui hal-hal sebagai berikut :
1)
Kewirausahaan
dosen dibangun di atas keilmuan atau
disiplin yang diampunya selama ini. Latar keilmuan
yang diampu tidak dimarginalkan,bahkan keduanya merupakan satu kesatuan yang saling bersinergi. Diperlukan pemahaman yang sungguh-sungguh agar keduanya dapat saling diintegrasikan. Misalnya, seorang ahli biologi dapat memanfaatkan keilmuannya untuk mencari peluang-peluang bisnis yang dapat memberikan value bidang
biologi pada konsumen yang dibidiknya
2)
Dosen
memerlukan penguatan dalam bentuk pendidikan,
pelatihan, dan pemagangan yang membekali
dirinya untuk lebih memahami ketrampilan
berfikir dan bertindak ekonomis,berprinsip dan berperilaku ekonomis. Penguatan semacam ini, saat ini telah dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas yang bekerjasama dengan Universitas Ciputra Entrepeneurship Centre (UCEC) guna menciptakan tamatan Perguruan Tinggi yang siap memasuki lapangan kerja.
3)
Unsur
instrumen yang terdiri dari fakultas / jurusan,Lemlit dan LPM senantiasa
menciptakan suatu tatanan dan arahan agar
dosen dalam melaksanakan tridarma perguruan tinggi senantiasa memanfaatkan peluang usaha berdasar aktivitas tridarma yang dilaksanakan. Misalnya, karya penelitian tidak berakhir dengan dibuatnya laporan,
namun selalu memikirkan pemanfaatan karya tersebut
untuk kepentingan pemenuhan kebutuhan orang lain. Sehingga karya penelitian tersebut dapat menghasilkan peluang memperoleh
pendapatan. Demikian juga, untuk kegiatan pendidikan
dan pengajaran, maupun pengabdian pada
masyarakat yang dapat memanfaatkan hasil temuannya
untuk kepentingan pemenuhan kebutuhan.
4)
Unsur
lingkungan seperti DU/DI, Business centre, mempunyai daya pengaruh yang besar terhadap kematangan dosen kewirausahaan. Banyak pembelajaran kewirausahaan yang dapat dilakukan melalui pemanfaatan pelaku usaha yang ada di lingkungan, mulai yang terdekat sampai yang terjauh.

Gambar 2. Model Pengembangan Jiwa
Kewirausahaan
3. Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (
PKMK )
a.
Pengertian Latar Belakang dan Hasil yang
Diharapkan
Telah diketahui
bahwa DIKTI pada beberapa tahun yang lalu hingga kini melancarkan berbagai
program pengembangan penalaran dan keilmuan untuk merangsang pertumbuhan
mahasiswa dalam persiapan menjadi sarjana yang mandiri, profesional dan
bermanfaat bagi nusa dan bangsa. Beberapa program tersebut antara lain adalah
LKIP ( Lomba Karya Inovatif Produktif ), LKTI ( Lomba Karya Tulis Ilmiah ),
Karya Alternatif Mahasiswa (KAM)
PKM Kewirausahaan (PKMK) merupakan kreativitas penciptaan
ketrampilan berwirausaha dan berorientasi pada profit, umumnya didahului
oleh survai pasar, karena relevansinya yang tinggi terhadap terbukanya peluang perolehan profit bagi mahasiswa.
Perlu ditegaskan di sini bahwa penciptaan ketrampilan berusaha yang dimaksud
adalah untuk mahasiswa pengusul PKMK, begitu juga pelaku aktivitas
usaha/bisnis yang didanai dalam PKMK adalah kelompok mahasiswa pengusul PKMK.
Kelompok mahasiswa pengusul sebagai wirausahawan baru bisa menjalin kerja sama dengan
kelompok masyarakat produktif, namun dana PKMK tidak dimaksudkan
untuk membantu peningkatan ekonomi kelompok masyarakat tertentu. Dalam PKMK sama sekali tidak diijinkan dilakukannya
penelitian/percobaan untuk mencari temuan.
Tentang latar belakang penyelenggaraan
program Kreativitas Mahasiswa merupakan kegiatan akademik mahasiswa baik yang
berhubungan dengan kurikulum maupun bukan dan merupakan program pengembangan
kemahasiswaan dalam rangka meningkatkan mutu produktif dan bernalar ilmiah.
Dengan demikian, diharapkan dapat dihasilkan produk yang menjadi landasan
selanjutnya bagi para mahasiswa untuk berkarya kreatif di masyarakat setelah
lulus sebagai sarjana. Oleh karena itu, hasil Program Kreativitas Mahasiswa
inilah dimungkinkan dapat diusulkan ke Program studi atau Fakultas masing
masing sebagai pelaksana sebagai karya tugas akhir.
Tujuan penyelenggaraan Program Kreativitas
Mahasiswa untuk meningkatkan iklim akademik yang kreatif,
inovatif,
visioner, solutif dan mandiri. Meningkatkan mutu peserta didik (mahasiswa) di Perguruan Tinggi agar kelak dapat menjadi
anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademis danatau profesional yang
dapat menerapkan, mengembangkan dan meyebarluaskan
ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian serta memperkaya budaya nasional. PKM mencakup 7
(tujuh) bidang yang masing -masing memiliki tujuan spesifik.
Hasil yang diharapkan dari program ini antara lain :
1) Kegiatan kreatif yang dilakukan oleh mahasiswa yang
sesuai dengan minat dan bakat masing masing, baik terkait dengan bidang profesi
maupun yang lain.
2) Temuan kreatif dari para mahasiswa yang dapat menunjang
pelaksanaan pembangunan di lingkungan kampus, perkotaan dan pedesaan
3) Calon pemimpin bangsa yang kreatif
b. Sistematika dan Penjelasan Usulan Program
Sistematika dan penjelasan penulisan usulan program
Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKMK) sebagai berikut :
1) Judul Program
Judul
kegiatan PKMK
hendaklah singkat dan spesifik, tetapi
cukup jelas memberi gambaran mengenai kegiatan PKMK yang
diusulkan.
2) Latar Belakang Masalah
Khusus
PKMK, uraikan proses dalam mengidentifikasi peluang
usaha. Gambarkan secara kuantitatif potret,
profil dan kondisi khalayak sasaran yang
akan dilibatkan dalam
kegiatan PKMK. Gambarkan pula kondisi
yang mengarah pada kebutuhan komoditas atau dasar
penetapan komoditas. Perlu dijelaskan situasi dan motivasi mahasiswa untuk
melaksanakan program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan. Jika perlu lakukan
sebelum merencanakan PKMK dengan penelitian awal atau survei pasar tentang
kebutuhan pasar secara kuantitatif. Uraikan pula pola penetapan dosen
pembimbing dan institusi pelaksana.
3) Perumusan Masalah
Rumusan masalah mengacu pada usaha yang prospektif, tidak
banyak saingan dan diterima di pasar
4) Tujuan Program
Nyatakan tujuan secara spesifik yang ingin diraih melalui
kegiatan PKMK khususnya terkait pada ketrampilan berwirausaha mahasiswa
berbasis sains, seni , dan teknologi
5) Luaran yang Diharapkan
Serasikan target luaran kegiatan PKMK dengan pilihan
jenis produk yang akan dihasilkan, dan uraikan dengan baik mengapa pilihan
target luaran ditetapkan seperti itu.
6) Kegunaan program
Jelaskan manfaat kegiatan secara luas, tunjukkan bahwa
produk komoditas memberikan dampak ekonomis yang signifikan dan memberikan
nilai tambah dari sisi IPTEK.
7) Metodologi Pelaksanaan Program
Uraikan secara rinci dan jelas, teknik implementasi atau
metode kegiatan PKMK sehingga seluruh target luaran dapat diperkirakan
terpenuhi. Jelaskan pula rancangan evaluasi pelaksanaan kegiatan dan evaluasi
peningkatan ketrampilan pembuatan produk dan kewirausahaan peserta PKMK
Jelaskan pola pendistribusian jenis ketrampilan yang
dilatihkan, apakah setiap mahasiswa atau kelompok akan dibekali ketrampilan
spesifik ataukah jenis ketrampilan yang sama diberikan kepada seluruh mahasiswa
pelaksana PKMK.
Serasikan seluruh jenis kegiatan yang akan dilakukan
dengan batasan waktu pelaksanaan yang diijinkan.
8) Jadwal Kegiatan Program
Jelaskan secara rinci mengenai rencana persiapan
pelaksanaan (termasuk pelaksanaan seleksi calon peserta), pelaksanaan dan
evaluasi PKMK serta jadwal keseluruhan (tentative).
9) Nama dan Biodata
Tunjukkan masing – masing biodata ini antara lain berisi
:
a) Nama
b) NIM
c) Program studi / jurusan
d) Jenjang Pendidikan : Diploma / Strata 1
e) Tempat / tanggal lahir
f) Kualifikasi bidang keilmuan
g) Riwayat singkat yang bersangkut paut dengan aktivitas
wirausaha dari keluarga pelaksana PKMK, jika tidak ada sejarah wirausaha yang
dituliskan, silahkan dikosongkan (berlaku untuk Ketua dan anggota calon peserta
PKMK)
10) Biaya
Jumlah dana untuk 1 kegiatan Program Kreativitas
Mahasiswa Kewirausahaan ini maksimal Rp. 6.000.000,00 yang alokasi
penggunaannya sebagai berikut :
a) Pengadaan bahan habis pakai
b) Peralatan penunjang
c) Perjalanan
d) Dokumentasi
e) Lain lain : konsumsi, pembuatan laporan, sewa tempat,
pameran, dan sebagainya
11) Lampiran
Berisi antara lain : gambar produk ( foto ), rencana
kerja sama dengan mitra usaha, mitra sumber dana dan sebagainya.
B. ISTILAH
KEWIRAUSAHAAN, KEWIRASWASTAAN , DAN ENTREPRENEURSHIP
Istilah kewirausahaan mulai dipopulerkan
tahun 1990-an. Saat-saat sebelumnya yang banyak digunakan adalah istilah
kewiraswastaan dan entrepreneurship. Istilah kewirausahaan dianggap lebih
cenderung untuk dipadankan dengan istilah entrepreneurship daripada istilah
kewiraswastaan yang lebih cenderung diartikan bersangkutan dengan kepengusahaan
bisnis serta segala aktivitas yang non pemerintah. Namun demikian dalam
praktek sampai saat ini ketiga istilah itu sering dipakai secara bergantian,
yang satu seolah-olah sebagai padanan bagi yang lain.
1.
Pengertian Harafiah
Kewirausahaan berasal dari kata
wirausaha diberi awalan ke dan akhiran an yang
bersifat membuat kata benda wirausaha mempunyai pengertian abstrak, yaitu
hal-hal yang bersangkutan dengan wirausaha. Lebih lanjut bila wira diartikan sebagai berani dan usaha diartikan sebagai kegiatan bisnis yang komersial maupun non
bisnis dan non komersial, maka kewirausahaan dapat diartikan sebagai hal-hal yang bersangkutan
dengan keberanian seseorang untuk melaksanakan sesuatu kegiatan bisnis/non
bisnis (cara mandiri).
2.
Menurut
Frank Knight (1921)
Wirausahawan
mencoba untuk memprediksi dan
menyikapi perubahan pasar. Definisi ini menekankan pada peranan wirausahawan dalam
menghadapi ketidakpastian pada dinamika
pasar. Seorang wirausahawan disyaratkan untuk melaksanakan fungsi-fungsi manajerial
mendasar seperti pengarahan dan pengawasan.
3.
Penrose
(1963)
Mengidentifikasi kegiatan kewirausahaan yang mencakup
indentifikasi peluang-peluang di dalam sistem ekonomi. Kapasitas atau
kemampuan manajerial berbeda dengan kapasitas kewirausahaan.
4.
Harvey
Leibenstein (1968, 1979)
Kewirausahaan mencakup kegiatan kegiatann yang dibutuhkan untuk
menciptakan atau melaksanakan perusahaan
pada saat semua pasar belum terbentuk atau belum teridentifikasi
dengan jelas, atau komponen fungsi produksinya belum diketahui sepenuhnya.
5.
Menurut hasil Simposium
Nasional Kewirausahaan 7-8 Februari 1995 di Jakarta
Kewirausahaan adalah kesatuan terpadu
dari semangat, nialai-nilai dan prinsip serta sikap, kiat, seni, dan tindakan
nyata yang sangat perlu, tepat dan unggul dalam menangani dan mengembangkan
perusahaan atau kegiatan lain yang mengarah pada pelayanan terbaik kepada
pelanggan dan pihak-pihak lain yang berkepentingan termasuk masyarakat, bangsa,
dan negara.
Pengertian ini kemudian diakomodasi dan
dimantapkan dalam Inpres No.4 Tahun 1995 tentang Gerakan Nasional
Memasyarakatkan dan Membudayakan Kewirausahaan, dengan kalimat sebagai berikut:
Kewirausahaan adalah semangat, sikap,
perilaku, dan kemampuan seseorang dalam menangani usaha dan atau kegiatan yang
mengarah pada upaya mencari, menciptakan, menerapkan cara kerja, teknologi dan
produk baru dengan meningkatkan efisiensi dalam rangka memberikan pelayanan
yang lebih baik dan atau memperoleh keuntungan yang lebih besar.
Yang menarik dari definisi ini adalah
bahwa kewirausahaan tidak hanya menyangkut kegiatan yang bersifat komersial
(mencari untung semata) tapi juga kegiatan yang tidak komersial sejauh
dilakukan dengan semangat, sikap atau perilaku yang tepat dan unggul untuk
meningkatkan efisiensi dalam arti seluas-luasnya dalam rangka memberikan
pelayanan yang lebih baik kepada semua pihak yang berkepentingan (langganan
dalam arti luas, termasuk masyarakat, bangsa, dan negara).
6.
Pengertian entrepreneur dan entrepreneurship
Dalam lingkungan bisnis yang sangat
kompetitif kesuksesan sangat bergantung dari entrepreneurship. Entrepreneurship
menurut Edvarson, 1994 (dalam Makalah Wahid Ciptono,1999) adalah sebuah kata
yang digunakan untuk menjelaskan perilaku-perilaku pemikiran strategis dan
berani mengambil resiko yang akan memberikan hasil peluang bagi individu dan
organisasi.
(Entrepreneurship
is behavior that is dynamic, risk taking, reactive and growth oriented,
entrepreneurship is a person who is willing to take action to pursue
opportunities in situations other view as problem or threats).
Ciri-ciri seorang entrepreneur menurut
Edvardson adalah sebagai berikut:
a)
Internal locus of control
(memiliki sikap/ketetapan hati)
b)
High energy level
(bersemangat tinggi)
c)
High need for achievemant
(motivasi berprestasi tinggi)
d)
Tolerance for ambiguity
(dapat memahami perbedaan pendapat)
e)
Self confidence (percaya
diri)
f)
Action oriented
(berorientasi tindakan)
Pandangan umum tentang seorang
entrepreneur adalah seorang penemu bisnis yang sama sekali baru dan mampu
mengembangkannya menjadi perusahaan yang mencapai sukses secara luas (nasional
maupun internasional). Microsoft, Walt-Mart dan Aqua Golden Mississipi Adalah
contoh dari pandangan di atas. Entrepreneur tidak terbatas hanya pada
perusahaan besar, tetapi juga pada perusahaan-perusahaan kecil. Seorang yang
berani mengambil resiko membeli franchise Mc Donald (lokal), membuka toko kelontong, atau bisnis yang dijalankan
oleh dirinya sendiri juga merupakan seorang entrepreneur.
Entrepreneurship adalah pengembangan
perilaku kewirausahaan dalam lingkup internal organisasi yang lebih besar dalam
bentuk perusahaan korporat). Entrepreneurship muncul karena kebutuhan perusahaan untuk
mengembengakan Strategy Busines Unit (SBU) dalam rangka meningkatkan
Competitive advantage-nya. Apabila masing-masing SBU berhasil meningkatkan competitive
advantage-nya, maka secara otomatis perusahaan korporasi akan mampu
meningkatkan parenting advantage.
C. CIRI
CIRI WIRAUSAHAWAN YANG BERHASIL
1. Memiliki visi dan tujuan yang jelas. Hal ini berfungsi untuk
menebak ke mana langkah dan arah yang dituju sehingga dapat diketahui langkah
yang harus dilakukan oleh pengusaha tersebut.
2. Inisiatif dan selalu proaktif. Ini merupakan ciri mendasar di
mana pengusaha tidak hanya menunggu sesuatu terjadi, tetapi terlebih dahulu
memulai dan mencari peluang sebagai pelopor dalam berbagai kegiatan.
3. Berorientasi pada prestasi. Pengusaha yang sukses selalu mengejar
prestasi yang lebih baik daripada prestasi sebelumnya. Mutu produk, pelayanan
yang diberikan, serta kepuasan pelanggan menjadi perhatian utama. Setiap waktu
segala aktifitas usaha yang dijalankan selalu dievaluasi dan harus lebih baik
dibanding sebelumnya.
4. Berani mengambil risiko. Hal ini merupakan sifat yang harus
dimiliki seorang pengusaha kapanpun dan dimanapun, baik dalam bentuk uang
maupun waktu.
5. Kerja keras. Jam kerja pengusaha tidak terbatas pada waktu, di
mana ada peluang di situ dia datang. Kadang-kadang seorang pengusaha sulit
untuk mengatur waktu kerjanya. Benaknya selalu memikirkan kemajuan usahanya.
Ide-ide baru selalu mendorongnya untuk bekerja kerjas merealisasikannya. Tidak
ada kata sulit dan tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan.
6. Bertanggung jawab terhadap segala aktivitas yang dijalankannya, baik
sekarang maupun yang akan datang. Tanggung jawab seorang pengusaha tidak hanya
pada segi material, tetapi juga moral kepada berbagai pihak.
7. Komitmen pada berbagai pihak.
8. Mengembangkan dan memelihara hubungan baik dengan berbagai
pihak, baik yang berhubungan langsung dengan usaha yang dijalankan maupun
tidak. Hubungan baik yang perlu dijalankan, antara lain kepada: para pelanggan,
pemerintah, pemasok, serta masyarakat luas.
D. TEORI
KEWIRAUSAHAAN
Menurut A.
Pakerti, berwirausaha senantiasa melibatkan dua unsur pokok, yaitu soal peluang
dan soal kemampuan menggapi peluang. Hal ini dituangkan dalam teori:
1.
Teori
Ekonomi
Menyatakan
bahwa wirausaha itu akan muncul dan berkembang kalau ada peluang ekonomi.
Misalnya ketidakpastian tentang apa yang akan terjadi dimasa depan merupakan
peluang usaha. Disamping kebutuhan ekonomi, kemajuan teknologi juga membuka
peluang usaha.
2.
Teori
Sosiologi
Para
ahli sosiologi mencoba menerangkan mengapa berbagai kelompok sosial (kelompok
ras, suku, agama, dan kelas sosial) menunjukkan tanggapan yang berbeda-beda
atas peluang usaha. Mereka meneliti faktor-faktor sosial budaya yang
menerangkan perbedaan kewirausahaan antara berbagai kelompok itu. Hagen
mengemukakan teori bahwa dalam kelompok
itu orang didorong menjadi wirausaha karena sebagai kelompok mereka
dipandang rendah oleh kelompok elit dalam masyarakatnya. Kelompok yang makin
direndahkan kedudukan sosialnya makin besar kecenderungan kewirausahaannya.
3.
Teori
psikologis
Perintis
teori psikologi adalah David Mc Cleland, ia menalarkan adanya hubungan antara
perilaku kewirausahaan dengan kebutuhan untuk berprestasi (need for achievement
atau nAch). Selanjutnya secara empiris ia menemukan korelasi positif antara kuatnya
nAch dan perilaku wirausaha yang berhasil. nAch terbentuk pada masa kanak-kanak
dan antaranya ditentukan oleh bacaan untuk Sekolah Dasar. Ini berarti itu harus
ditanamkan sejak dini. Namun motif berprestasi bisa ditingkatkan melalui
latihan pada orang dewasa.
4.
Teori
Perilaku
Wesper
memandang perilaku wirausaha sebagai kerja. Ia menyimpulkan bahwa keberhasilan
seseorang wirausaha tergantung dari :
a.
Pilihan tempat kerjanya sebelum mulai
sebagai wira usaha
b.
Pilihan bidang usahanya, kerjasama
dengan orang lain
c.
Kepiawaian dalam mengamalkan manajemen
yang tepat
Ducker
memandang kewirausahaan sebagai perilaku, bukan sebagai sifat kepribadian.
Kewirausahaan adalah praktek kerja yang bertumpu pada konsep dan teori, bukan
intuisi. Karena itu kewirausahaan dapat dipelajari dan dikuasai secara
sistematik dan terencana. Ia menyarankan tiga macam unsur perilaku untuk
mendukung berhasilnya praktek kewirausahaan :
a.
Inovasi bertujuan
b.
Manajemen-wirausaha
c.
Strategi-wirausaha
Menurut Ducker dasar pengetahuan
kewirausahaan adalah inovasi, artinya cara baru memanfaatkan sumber daya untuk
menciptakan kekayaan. Untuk membuahkan inovasi kita memperhatikan perubahan
perubahan yang terjadi disekitar kita secara sistematis. Ini menyangkut
kepekaan dan ketrampilan diagnostik, dua macam kemampuan yang bisa dipelajari
lewat latihan.
Orang yang mendirikan perusahaan harus
tahu manajemen dan cara mengamalkannya. Manajemen kewirausahaan mengutamakan
empat hal :
a.
Fokus dasar
b.
Antisipasi kebutuhan keuangan
c.
Menyiapkan dan menyusun tim manajemen
puncak, jauh sebelum diperlukan
d.
Penentuan peran di pendiri dalam
hubungannya dengan orang lain.
Strategi
wirausaha yang diperlukan untuk menempatkan diri dalam pasar :
a.
Pemimpin yang dominan dalam pasar
b.
Imitasi kreatif
c.
Monopoli dengan produk atau jasa yang
sangat khusus
d.
Menciptakan konsumen baru dengan
menciptakan produk dan jasa baru.
BAB
III
PENUTUP
- KESIMPULAN
Setelah memperhatikan uraian tersebut maka penulis dapat
menyimpulkan bahwa kewirausahaan adalah
proses menciptakan sesuatu yang lain dengan menggunakan waktu dan kegiatan
disertai modal dan resiko serta menerima balas jasa dan kepuasan serta
kebebasan pribadi.
Kewirausahaan adalah
suatu sikap mental, pandangan, wawasan serta pola pikir dan pola tindak
seseorang terhadap tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya
dan selalu berorientasi kepada pelanggan atau dapat juga
diartikan sebagai semua tindakan dari seseorang yang mampu memberikan nilai
terhadap tugas dan tanggung jawabnya.
Selain itu, terdapat pula ciri - ciri seorang wirausahawan yang berhasil
dalam menjalankan usahanya. Adapun ciri - ciri tersebut antara lain adalah memiliki
visi dan tujuan yang jelas, inisiatif dan selalu
proaktif, berorientasi pada prestasi, berani mengambil risiko, kerja keras, bertanggung jawab, komitmen pada berbagai pihak, serta mengembangkan
dan memelihara hubungan baik dengan berbagai pihak.
- SARAN
1.
Saran
bagi penulis
Sebaiknya penulis lebih meningkatkan wawasan
mengenai kewirausahaan. Sehingga, penulis sebagai generasi muda sekarang ini,
setelah lulus dari ranah perkuliahan, tidak hanya menjalankan profesi sesuai
jurusan yang diampu saja, namun juga dapat menciptakan usaha dan lapangan
pekerjaan bagi orang lain.
2.
Saran
bagi masyarakat
Sebaiknya, di lingkungan masyarakat umum pun bisa
diadakan sosialisasi mengenai dunia kewirausahaan. Sehingga, masyarakat bisa
paham bagaimana cara untuk berwirausaha. Jika masyarakat bisa membuka usahanya
sendiri, otomatis orang tersebut juga membuka lapangan pekerjaan bagi orang
lain yang masih berstatus pengangguran. Sehingga, hal itu juga bisa menjadikan
sebuah keuntungan dalam mengurangi jumlah pengangguran.
DAFTAR PUSTAKA
http://edukasi.kompas.com/read/2010/04/09/11340991/urgensi.pendidikan.kewirausahaan
(11:34 WIB)
Panduan Pengelolaan Program Hibah DP2M Ditjen Dikti – Edisi VII
Siswoyo, B.B. 2009. Kewirausahaan dalam Kajian Dunia
Akademik. FE UM.
https://anangfirmansyahblog.files.wordpress.com/2012/09/teori-kewirausahaan.pdf ( September 2012 )
Riani, Asri Laksmi. 2005. Dasar Dasar Kewirausahaan.
Surakarta : UPT Penerbitan dan Percetakan UNS (UNS Press)