Selasa, 09 Februari 2021

SYUMULIYATUL ISLAM

 SYUMULIYATUL ISLAM

 

 

 

 

 

 

Syumuliyatul Islam maksudnya adalah kemenyeluruhan dinul Islam. Bahwa sesungguhnya Islam itu menyeluruh  meliputi semua zaman, kehidupan, dan eksistensi manusia. Hasan Al-Banna telah mengungkapkan jangkauan syumul dalam risalah Islam ini seraya berkata:  “Adalah risalah yang panjang terbentang sehingga meliputi semua abad sepanjang zaman, terhampar luas sehingga meliputi semua  cakrawala umat, dan begitu mendalam sehingga memuat  urusan-urusan dunia dan akhirat.”[1]

 

Syumuliyatu Az-Zaman (mencakup seluruh dimensi waktu)

 

Artinya bahwa Islam adalah risalah untuk semua zaman dan generasi, bukan risalah yang terbatas oleh masa tertentu dimana implementasinya berakhir seiring dengan berakhirnya zaman tadi sebagaimana risalah-risalah para nabi sebelum Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para Nabi sebelum beliau, diutus untuk periode tertentu dan zaman yang terbatas. Meskipun begitu, para Nabi hakikatnya memiliki wihdatur risalah (kesatuan risalah) sebagaimana firman Allah Ta’ala,

 

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: ‘Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku’.” (QS. Al-Anbiyaa, 21: 25)

 

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu’.” (QS. An-Nahl, 16: 36)

 

Semua Nabi menyatakan bahwa mereka adalah muslim, dan mengajak kepada risalah Islam: Nabi Nuh (lihat: Yunus, 10: 72), Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail (lihat: Al-Baqarah, 2: 128), Nabi Ibrahim dan Nabi Ya’kub (lihat: Al-Baqarah, 2: 132), Nabi Musa (lihat: Yunus, 10: 84, Al-A’raf, 7: 126), Nabi Sulaiman (lihat: An-Naml, 27: 31), dan Kaum Hawariyyin (lihat: Ali Imran, 3: 52).

 

Jadi secara substansial, Islam adalah risalah bagi seluruh zaman. Adapun Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah khatamul anbiyaa (Nabi terakhir),

 

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab, 33 : 40).

 

وَإِنَّهُ سَيَكُونُ فِي أُمَّتِي كَذَّابُونَ ثَلَاثُونَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لَا نَبِيَّ بَعْدِي

Sesungguhnya akan datang pada umatku tiga puluh pembohong, semuanya mengaku sebagai nabi, padahal akulah penutup para nabi (khaatam an nabiyyin), tak ada lagi nabi setelahku.”  (HR. Abu Daud, Syaikh al Albany mengatakan: Shahih. Lihat Misykah al Mashabih, Juz. 3 hal. 173, No. 5406 )

 

Maka tidak ada syariat lainnya setelah Islam. Tidak ada kitab lagi setelah Al-Qur’an, dan tidak ada Nabi setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

 

Syumuliyatul Minhaj (mencakup berbagai pedoman kehidupan)

 

Al-Asas

 

Islam adalah risalah yang sempurna bagaikan sebuah bangunan yang kokoh. Fondasinya (al-asas) adalah al-aqidah (aqidah). Islam telah menggariskan minhaj yang sempurna dalam aqidah. Ia berbicara tentang ketuhanan, alam semesta, manusia, kenabian, dan akhirat. Minhaj (pedoman) tentang hal ini terangkum dalam rukun iman.

 

أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

(Iman adalah) engkau beriman kepada Allah; malaikat-Nya; kitab-kitab-Nya; para Rasul-Nya; hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk,” (Lihat: Hadits Arbain No. 2)

 

Al-Bina

 

Dinding bangunan Islam (al-bina) adalah al-akhlaq (akhlak) dan al-‘ibadah (ibadah).

 

Islam menggariskan minhaj (pedoman) akhlak yang sempurna. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ صَالِحَ الأَخْلاَقِ

Bahwasanya aku diutus adalah untuk menyempurnakan kebaikan akhlak.” (HR. Ahmad).

 

Islam mengatur akhlak yang berkaitan dengan individu, kehidupan keluarga, dan kemasyarakatan dari seluruh sisinya. Bahkan Islam mengatur akhlak berkaitan dengan makhluk-makhluk yang tidak berakal. Diantaranya disebutkan dalam hadits berikut ini.

 

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

 

بَيْنَا رَجُلٌ يَمْشِي فَاشْتَدَّ عَلَيْهِ الْعَطَشُ فَنَزَلَ بِئْرًا فَشَرِبَ مِنْهَا ثُمَّ خَرَجَ فَإِذَا هُوَ بِكَلْبٍ يَلْهَثُ يَأْكُلُ الثَّرَى مِنْ الْعَطَشِ فَقَالَ لَقَدْ بَلَغَ هَذَا مِثْلُ الَّذِي بَلَغَ بِي فَمَلَأَ خُفَّهُ ثُمَّ أَمْسَكَهُ بِفِيهِ ثُمَّ رَقِيَ فَسَقَى الْكَلْبَ فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَإِنَّ لَنَا فِي الْبَهَائِمِ أَجْرًا قَالَ فِي كُلِّ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ

Ada seorang laki-laki yang sedang berjalan lalu dia merasakan kehausan yang sangat sehingga dia turun ke suatu sumur lalu minum dari air sumur tersebut. Ketika dia keluar dia mendapati seekor anjing yang sedang menjulurkan lidahnya menjilat-jilat tanah karena kehausan. Orang itu berkata, ‘Anjing ini sedang kehausan seperti yang aku alami tadi’. Maka dia (turun kembali ke dalam sumur) dan diisinya sepatunya dengan air, dan sambil menggigit sepatunya dengan mulutnya dia naik keatas lalu memberi anjing itu minum. Karenanya Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuninya”. Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah kita akan dapat pahala dengan berbuat baik terhadap hewan?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Terhadap setiap makhluk bernyawa diberi pahala”. (HR. Al-Bukhari no. 2363 dan Muslim no. 2244)

 

Dan tentu saja, di atas itu semua, Islam telah mengatur akhlak berkaitan dengan hubungan manusia dengan Allah Ta’ala. Pembahasan lebih rinci mengenai Islam sebagai manhaj dalam aspek akhlak, Insya Allah akan kita bahas dalam pembahasan Minhajul Hayah.

 

Selain al-akhlaq, dinding bangunan Islam yang lainnya adalah al-‘ibadah. Hal ini seperti disebutkan dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini,

 

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ

Islam itu dibangun di atas lima perkara: syahadat bahwa tidak ilah melainkan Allah dan sesungguhnya Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji, dan puasa di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari)

 

Islam menggariskan minhaj ibadah. Yang pokok setelah syahadatain adalah shalat, zakat, haji, dan shaum Ramadhan. Masing-masing bentuk peribadatan ini memiliki aturan-aturannya yang rinci meliputi syarat, rukun, maupun sunnahnya. Mereka yang melaksanakan lima rukun ini berarti telah memenuhi syarat sebagai seorang muslim yang harus dijaga dan dibela kehormatan dan hartanya.

 

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ حِينَ بَعَثَهُ إِلَى الْيَمَنِ إِنَّكَ سَتَأْتِي قَوْمًا أَهْلَ كِتَابٍ فَإِذَا جِئْتَهُمْ فَادْعُهُمْ إِلَى أَنْ يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لَكَ بِذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لَكَ بِذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لَكَ بِذَلِكَ فَإِيَّاكَ وَكَرَائِمَ أَمْوَالِهِمْ وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ

Rasulullah bersabda kepada Muadz bin Jabal saat mengutusnya ke penduduk Yaman, “Kamu akan datang kepada kaum ahli kitab. Jika kamu telah sampai kepada mereka, ajaklah mereka agar bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah. Jika mereka mentaatimu dalam hal itu, beritakan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka lima shalat setiap siang dan malam. Jika mereka mentaatimu dalam hal itu beritakan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan sedekah (zakat) yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan dikembalikan kepada orang-orang miskin. Jika mereka mentaatimu dalam hal itu hati-hatilah kamu terhadap kemuliaan harta mereka dan waspadalah terhadap doanya orang yang dizalimi, sebab antaranya dan Allah tidak ada dinding pembatas.” (Bukhari Muslim).

 

Al-Mu’ayyidat

 

Bangunan Islam yang kokoh ini memiliki al-mu’ayyidat (penopang/pelindung), yakni ad-da’wah dan al-jihad. Islam menggariskan minhaj dakwah yang menegaskan bahwa tugas dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar adalah tugas seluruh umat Islam tanpa kecuali disesuaikan dengan kemampuannya masing-masing.

 

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran, 3: 104)

 

Tentang Ayat di atas Ibnu Katsir berkata, “Hendaklah ada di antara kalian sekelompok umat yang menunaikan perintah Allah untuk berdakwah kepada kebaikan dan amar ma’ruf nahi mungkar, sekalipun dakwah itu wajib pula bagi setiap individu Muslim.”

 

Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperjelas hal ini,

 

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ

Siapa yang melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman. “ (HR. Muslim)

 

Dengan dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar, fondasi dan bangunan Islam akan terpelihara. Sementara dengan al-jihad, fondasi dan bangunan Islam ini akan terlindungi. Muadz bin Jabal meriwayatkan hadits bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

 

أَلَا أُخْبِرُكَ بِرَأْسِ الْأَمْرِ كُلِّهِ وَعَمُودِهِ وَذِرْوَةِ سَنَامِهِ قُلْتُ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ رَأْسُ الْأَمْرِ الْإِسْلَامُ وَعَمُودُهُ الصَّلَاةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ.

Sukakah engkau aku kabarkan tentang pokok (kepala) segala urusan (pekerjaan), tiang-tiangnya (penguat-penguatnya) dan puncak ketinggiannya?” Aku (Mu’adz bin Jabbal) berkata: “Baiklah ya Rasulullah.” Sabdanya: “Pokok segala urusan ialah Islam, tiang-tiang penguatnya ialah shalat dan puncak pelindungnya ialah al-Jihad.” (HR. Tirmidzi, hadits hasan shahih).

 

Syumuliyatul Makan (Mencakup Seluruh Dimensi Ruang)

 

Maknanya adalah bahwa Islam merupakan pedoman hidup yang tidak dibatasi oleh batasan-batasan geografis tertentu, seperti hanya disyariatkan untuk suku atau bangsa tertentu. Namun Islam merupakan agama yang disyariatkan untuk seluruh umat manusia, dengan berbagai bangsa dan sukunya yang berbeda-beda. Hal ini adalah sesuatu yang sangat logis, karena ada wihdatul khaliq (kesatuan Pencipta, yakni Allah Ta’ala) dan wihdatul kauni (kesatuan alam semesta yang merupakan ciptaan-Nya). Maka ajaran-Nya, dinul Islam, wajib diserukan dan diberlakukan di seluruh dimensi ruang ciptaan-Nya.

 

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Katakanlah: ‘Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, Yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan, Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang Ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah Dia, supaya kamu mendapat petunjuk.’”. (QS. Al-A’raf, 7: 158)

 

Allah Ta’ala berfirman,

 

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya, 21: 107)

 

Surat-surat lain yang menyebutkan tentang universalitas Islam diantaranya adalah: QS. Saba, 34: 28; QS. Furqan, 25: 1; dan QS. Shaad, 38: 87. Disebutkan pula dalam hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berikut.

 

وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً

Dan Nabi-Nabi dahulu (sebelum-ku) diutus khusus kepada kaumnya, sedangkan aku diutus kepada manusia semuanya…” (Hadits Shahih Riwayat Bukhari, No: 335)

 

Dari ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits di atas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa ajaran Islam tidak hanya diturunkan khusus untuk orang Arab, namun juga untuk orang Eropa, Rusia, Asia, Cina dan lain sebagainya.

 

Syumuliyatul Islam ini menjadi bukti bahwa Islam adalah ajaran yang agung yang layak dan wajib menjadi minhajul hayah (pedoman hidup) bagi seluruh umat manusia di manapun mereka berada, dalam seluruh aspek kehidupannya.

 

Wallahu a’lam.

 

[1] Al-Khashaishul Ammah Lil Islam, Karakteristik Ajaran Islam, Yusuf Al-Qaradhawy

 

 

Kesempurnaan Islam (Syumuliyatul Islam)

Hari  4:03 PM

A.    Tujuan Materi

1.      Memahami gambaran menyeluruh dari Islam sebagai asas (pokok), bina (bangunan), maupun muayyidat (penyangga) dengan hubungan-hubungannya.

2.      Dapat menyebutkan contoh-contoh penyelesaian aktual secara Islam dalam bidang kehidupan bermasyarakat.

3.      Menyadari bahwa Islam merupakan sistem hidup yang lengkap dan sempurna sehingga termotivasi untuk memasukinya secara keseluruhan.

B.     Kisi-kisi Materi

1.      Kesempurnaan Islam (QS. 2:208 )

2.      Sempurna dalam waktu:

·         Risalah yang satu (QS. 21:25 , 34:28 , 21:107 )

·         Penutup para nabi (QS. 33:40 )

3.      Kesempurnaan minhaj:

·         Asas: akidah (syahadat dan rukun iman)

·         Bangunan Islam: ibadah: rukun Islam, shalat, puasa, zakat, haji, akhlak

·         Penyokong /penguat: jihad (QS. 29:6 dan 69 , 47:31 ) atau amar ma'ruf nahi munkar (QS. 3:104 , 7:99 , 9:112 ) da'wah (QS. 16:125 , 41:33 )

4.      Sempurna dalam tempat (QS. 22:40 ):

·         Satunya pencipta (QS. 2:163 , 164 )

·         Satunya alam (QS. 2:29 , 67:15 )

·         Manhaj (pedoman) hidup

C.     Bagan

 

Kesempurnaan Islam (Syumuliyatul Islam)

 

D. Uraian Materi: Islam Agama Sempurna

Sebagai sistem yang diciptakan dan diturunkan Allah Swt. Yang Mahaluas lagi Mahasempurna, Islam memiliki kesempurnaan yang tidak dimiliki oleh sistem-sistem buatan manusia mana pun. Kesempurnaan Islam dapat dilihat dari cakupannya terhadap ruang, waktu, dan muatan sistemnya. Siapapun boleh membandingkan dengan penelitian yang dilakukannya sendiri tentang agama-agama di dunia ini. Jika seorang peneliti tersebut mau benar-benar objektif, maka bisa dipastikan dia akan melihat Islam sebagai agama paling sempurna diantara agama-agama lainnya. Kenapa begitu? Karena hanya Islam-lah satu-satunya agama yang komprehensif. Dia mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Tidak ada satupun, dan sekecil apapun urusan kehidupan manusia dimuka bumi ini yang luput dari Islam. Kesempurnaannya berarti tidak ada sedikitpun cacat yang terdapat di dalam agama ini. Allah Swt berfirman,

”..pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu…” (QS. Al-Maaidah :3)

 

Meyakininya adalah Perintah Allah Swt.

Dan kita sebagai seorang muslim wajib meyakininya. Memprogramnya dalam mindset kita. Sehingga menjadikan agama Islam ini sebagai jalan hidupnya (way of life). Perintah Allah Swt kepada setiap muslim untuk menjalani Islam secara keseluruhan, sempurna, dan mencakup semua aspeknya ada dalam firmanNya,

 

 

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah :208)

Perintah Allah Swt untuk menerima Islam sebagai agama yang sempurna dan harus kita ambil secara keseluruhannya merupakan alasan yang paling kuat bagi seorang muslim. Perintah Allah Swt juga merupakan alasan yang paling asasi/mendasar terhadap segala hal yang kita lakukan. Jika bukan karena perintah Allah Ta’ala, maka tidak wajib kita melaksanakannya.

 

 

Seperti ketika Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim a.s. ketika ditinggal di tengah gurun pasir yang tandus, dan sangat jauh dari air dan makanan, sang istri hanya bertanya,”Apakah ini perintah Allah?”. Lalu Nabi Ibrahim menjawab, “Ya”. Mendengar jawaban bahwa itu adalah perintah Allah Ta’ala, maka Siti Hajar berkata, “Jika memang begitu, maka aku percaya Allah tidak akan menyia-nyiakanku”.

Maka karena hal ini merupakan perintah Allah Swt, sikap kita sebagai seorang muslim adalah menerima dan taat. Seperti yang Allah Swt jelaskan dalam firmanNya,

“Rasul telah beriman kepada Al Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat”…” (QS. Al Baqarah :285)

Islam Sempurna dalam Waktu

Sebagai sistem, Islam diberlakukan Allah sejak awal penciptaan hingga akhir zaman. Tujuannya untuk mengatur kehidupan makhluk-makhluk-Nya agar selaras, harmonis, dan penuh kedamaian, keselamatan, dan kesejahteraan. Oleh karena itu, Islam menjadi inti ajaran setiap nabi dan rasul Allah pada setiap zaman. Ajaran mereka hanya satu, yaitu membebaskan manusia dari penyembahan terhadap makhluk kepada penghambaan kepada Allah. Kesempurnaan ini jelas kita dapatkan pada ajaran yang dibawa nabi terakhir, Muhammad saw. Ajaran terakhir itu menyempurnakan ajaran nabi-nabi sebelumnya. Dengan berakhirnya pensyariatan pada nabi terakhir, risalah ini mencapai kesempurnaannya. Oleh karena itu, tidak ada lagi syariat dan nabi setelah syariat Allah mencapai kesempurnaan.

Islam sempurna karena diturunkan sebagai agama yang berlaku sepanjang jaman. Sejak manusia pertama yaitu Nabi Adam a.s. kemudian seluruh nabi-nabi sesudahnya membawa satu misi yang sama yaitu kalimat tauhid “Laa ilaha illallah”. Allah Swt berfirman,

 

 

“dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan aku”.” (QS. Al-Anbiyaa’ :25)

Dan juga Allah Swt menyebut umat Nabi-nabi terdahulu sebagai muslim dalam firmanNya,

“…(Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang Muslim dari dahulu,…” (QS. Al-Hajj :78)

 

 

Sampai ketika Rasulullah Saw diutus sebagai Nabi sekaligus sebagai penutup para Nabi, ajaran beliau berlaku HINGGA HARI KIAMAT. Nabi-nabi terdahulu ibarat membawa tongkat estafet yang akhirnya dan yang terakhir diberikan kepada Muhammad Rasulullah Saw. Seperti yang dijelaskan Allah Swt dalam firmanNya,

 

 

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu., tetapi Dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab : 40)

Islam tidak akan pernah mengalami pendewasaan lagi dalam perkembangan jaman, karena Islam telah dewasa sejak dilahirkan. Islam juga tidak akan mengalami penyempurnaan lagi mengikuti kemajuan jaman, karena Islam telah sempurna sejak dilahirkan. Jika ada yang menganggap bahwa Islam perlu mengalami perubahan dalam syariatnya, maka sudah dipastikan bahwa itu adalah pemikiran yang sangat menyimpang.

 

Islam Sempurna dalam Tempat

Islam diturunkan Allah Swt. tidak terbatas untuk bangsa Arab saja. Islam berlaku sebagai rahmat untuk seluruh alam. Islam berlaku untuk seluruh bangsa di dunia, tanpa membeda-bedakan warna kulit, ras, maupun keturunan. Tidak ada kelebihan satu orang atas orang yang lain, satu suku atas suku yang lain, satu bangsa atas satu bangsa yang lain. Yang membedakan di antara mereka adalah ketakwaan masing-masing kepada Allah Swt. Setiap orang, dari mana pun asalnya dan dalam kondisi apa pun, berhak mendapat kemuliaan selama ia bertakwa kepada Allah.

Ajaran Islam adalah ajaran yang langsung bersumber dari Allah Swt Yang Menciptakan alam semesta. Maka sebagai Tuhan seluruh makhluk di alam semesta ini, Allah Swt sajalah yang berhak mengaturnya. Tidak ada sedikitpun ruang di alam semesta ini yang tidak terjangkau oleh kekuasaan Allah Swt. (lihat QS. 27: 59-64)

 

59. Katakanlah: "Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya. Apakah Allah yang lebih baik, ataukah apa yang mereka persekutukan dengan Dia?"

60. Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran).

 

 

61. Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengkokohkan)nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka tidak mengetahui.

62. Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya).

63. Atau siapakah yang memimpin kamu dalam kegelapan di dataran dan lautan dan siapa (pula)kah yang mendatangkan angin sebagai kabar gembira sebelum (kedatangan) rahmat-Nya[1105]? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Maha Tinggi Allah terhadap apa yang mereka persekutukan (dengan-Nya).

 

 

64. Atau siapakah yang menciptakan (manusia dari permulaannya), kemudian mengulanginya (lagi), dan siapa (pula) yang memberikan rezki kepadamu dari langit dan bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)?. Katakanlah: "Unjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu memang orang-orang yang benar."

 

 Hal ini berarti Islam bukan din atau agama yang hanya diperuntukkan bagi bangsa tertentu atau wilayah tertentu saja. Namun Islam adalah agama untuk seluruh manusia dimanapun mereka berada.

 

Islam berbeda dengan agama-agama lain. Seperti agama Nasrani misalnya. Umat Nasrani menganggap Nabi Isa a.s. sebagai Tuhan dan mengakui kitab Injil sebagai kitab suci mereka. Padahal Nabi Isa a.s. bukan Tuhan dan Kitab Injil hanya diperuntukkan bagi Bani Israel saja. Bukan untuk kaum yang lainnya. Allah Swt berfirman,

 

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putra Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israel, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun.” (QS. Al-Maaidah : 72)

 

Begitu juga dengan umat Yahudi. Kitab Taurat hanya diperuntukkan bagi kaum Nabi Musa a.s. saja. Bukan untuk manusia diseluruh dunia. Maka ketika Nabi Muhammad Saw diutus sebagai Rasulullah, sekaligus sebagai penutup para Nabi, seluruh umat Yahudi dan Nasrani seharusnya tunduk dan beriman pada ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Saw. Mereka harus beriman kepada Al-Quran dan menjadikannya sebagai Kitab yang sempurna dan menyempurnakan kitab-kitab sebelumnya.

Nabi Muhammad Saw bersabda,

 

“Demi Dzat yang menguasai jiwa Muhammad, tidak ada seorang pun baik Yahudi maupun Nashrani yang mendengar tentang diriku dari Umat Islam ini, kemudian ia mati dan tidak beriman terhadap ajaran yang aku bawa kecuali ia akan menjadi penghuni neraka.” (HR. Muslim)

 

Islam Sempurna dalam Ajaran

Islam adalah sistem yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Islam seperti halnya bangunan utuh, terdiri atas fondasi, badan bangunan, dan seluruh pendukungnya. Fondasinya adalah akidah yang mencakup hal-hal yang berkaitan dengan keimanan. Bangunan utamanya terdiri atas aspek-aspek moral, perilaku kepada sesama, dan sikap terhadap Allah Swt. yang mewujud dalam aktivitas ibadah. Sementara itu, pendukung-pendukungnya adalah berjuang di jalan Allah dan dakwah. Cakupan atas seluruh aspek kehidupan itulah yang menempatkan Islam sebagai satu-satunya sistem dan pedoman hidup yang sempurna. Kesempurnaan ini yang menjadikannya unggul dibanding sistem mana pun.

Islam memiliki ajaran yang sempurna yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Hal-hal kecil dalam keseharian kita sekalipun diatur dalam Islam. Mulai kita bangun tidur di pagi hari sampai kita tidur lagi di malam hari, semuanya tidak lepas dari Islam. Contoh kecil saja, ketika kita masuk ke kamar mandi, Islam mengajarkan untuk berdoa terlebih dahulu, lalu masuk dengan menggunakan kaki kiri terlebih dahulu, lalu bagaimana adab melepas pakaian, ke arah mana ketika buang air, dan masih banyak lagi, sampai bagaimana adab ketika keluar dari kamar mandi tersebut. Semua tidak lepas dari ajaran Islam.

 

Sebagian orang menganggap sudah cukup berislam dengan merasa akidah sudah lurus dan ibadahnya sudah benar sesuai tuntunan Rasulullah Saw. Namun jika Islam hanya dipahami sebatas itu, maka berarti orang-orang tersebut memahami Islam secara sempit. Padahal urusan manusia mencakup peran mereka dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sangat kompleks. Dan semua itu masih dalam lingkup ajaran Islam. Maka jelas Islam bukan hanya dipahami sebatas ajaran tentang memurnikan akidah dan bagaimana cara beribadah yang benar. Ajaran Islam juga mengatur semua bidang-bidang yang kita temui dalam kehidupan.

 

 Seorang ulama legendaris dari Mesir, Syaikh Hasan Al-Banna pernah mendeskripsikan bagaimana kesempurnaan ajaran Islam. Beliau berkata,

 

“Islam adalah bangunan yang utuh yang mencakup seluruh aspek kehidupan. Islam itu negara dan tanah air. Dan dia pemerintah dan rakyat. Dan dia akhlak dan kekuatan. Dan dia rahmat dan keadilan. Dan dia kebudayaan dan undang-undang. Dan dia ilmu dan peradilan. Dan dia materi atau kerja dan kekayaan. Dan dia jihad dan dakwah. Dan dia pasukan dan pemikiran. Sebagaimana Islam adalah aqidah yang murni dan ibadah yang benar.”

 

Begitu luar biasa Islam dengan kesempurnaannya. Tidak ada alasan bagi kita untuk meragukan peran Islam dalam seluruh aspek kehidupan kita. Tidak ada lagi alasan untuk tidak mengambil Islam sebagai jalan hidup kita yang paling sempurna. Buktikan keimanan kita dengan mengesampingkan seluruh pemikiran-pemikiran lain di luar Islam yang dulu pernah membuat kita kagum karena kita anggap pemikiran bahwa itu lebih baik dari ajaran Islam. Serukan dengan lantang: “ISLAM IS MY LIFE, ISLAM IS MY WAY, ISLAM IS MY ATTITUDE!”

 

Dengan begitu, tidak ada lagi umat Islam yang merasa minder dengan agamanya dan tidak ada lagi umat Islam yang tidak bangga menyandang gelar sebagai seorang MUSLIM.

Hey Muslim! You are the greatest ummah created by Allah! So,.. b

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jangan lupa Subscribe Bos Q