KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan segala rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis, sehingga penulis berhasil menyelesaikan makalah ini yang dibuat untuk memenuhi tugas Islam dan Keilmuan. Adapun makalah ini diberi judul “PSIKOANALISIS DALAM PANDANGAN ISLAM”. Makalah ini berisi informasi mengenai teori yang diharapkan dapat memberikan informasi dan menambah pengetahuan kita semua.
Penulis sangat menyadari, bahwa makalah ini tidak dapat terselesaikan tanpa adanya dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Penulis mohon maaf atas kekeliruan dan kesalahan yang terdapat dalam penulisan makalah ini. Penulis mengharapkan kritik dan saran yang sangat membangun untuk menyempurnakan makalah selanjutnya.
Pekanbaru, 06 Desember 2020
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sains di dunia Barat berkembang cukup pesat, disertai bermunculannya beragam paradigma, metodologi, dan konsep yang mewarnai kajian-kajian keilmuan, terutama kajian humaniora seperti psikologi, antropologi, sastra, sejarah, dan sebagainya. Sejarah menginformasikan bahwa psikologi sebagai sains dimulai sekitar tahun 1879 ketika Wilhelm Wundt (1832-1920) dari Universitas Leipzig di Jerman mendirikan laboratorium untuk menganalisa tingkah lagu manusia dan binatang melalui metode eksperimen. Lalu bermunculanlah tokoh-tokoh psikolog, seperti Stanley Hall, Alfred Binet, Sigmund Freud, Watson, Erich Fromm, Abraham Maslow, dan lain-lain. Namun, dalam perkembangannya, terdapat tiga mazhab yang paling masyhur dalam dunia Psikologi, yaitu Psikoanalisa yang digagas oleh Sigmund Freud, Behaviorisme oleh James Watson, dan Humanistik oleh Abraham Maslow. Tak hanya itu, mazhab-mazhab psikologi ini bahkan melintasi batas-batas benua, bangsa, dan budaya. Psikologi Barat cukup menghegemoni pemikiran Psikologi Modern. Psikoanalisa Sigmund Freud misalnya, sangat digandrungi dan diterima luas sebagai basis utama dalam mengkaji perilaku dan kejiwaan manusia, bahkan oleh sebagian psikolog Muslim. Pengaruh aliran Freud ini cukup besar, tak hanya meliputi kedokteran dan psikologi, namun juga ilmu-ilmu pengetahuan lain seperti filsafat, agama, seni, sastra, antropologi, politik. Padahal teori-teori Freud tentang konsep manusia sangat dipengaruhi oleh doktrin ateisme yang ia anut, di mana ia terang-terangan menolak agama dan menganggapnya sebagai ilusi semata. Kondisi ini tentu saja sangat memprihatinkan. Sebab, jika diajarkan kepada umat Islam yang awam terhadap masalah tersebut akan membawa dampak yang tidak baik dikarenakan doktrin-doktrin di dalamnya sangat bertolak-belakang dengan akidah Islam. Paradigma Barat yang ateis tentu sangat berseberangan dengan paradigma Islam yang memiliki akidah dan kepercayaan terhadap Tuhan. Sesama ateisme sekalipun, ahli-ahli psikologi Inggris dan Perancis saat ini mulai mengeluhkan kentalnya pengaruh kultur Amerika dalam psikologi kontemporer, karena buku-buku rujukannya kebanyakan karangan psikolog-psikolog Amerika, di mana dasar penelitiannya adalah eksperimen terhadap binatang seperti tikus, monyet, kelinci, atau burung. Tentu saja kesimpulan yang dihasilkan belum tentu berlaku bagi manusia atau konteks budaya di tempat lain. Itulah sebabnya, sejak lama orang Rusia menolak psikologi Amerika dan membangun psikologi Rusia yang lebih sesuai dengan dan untuk orang Rusia. Mereka berupaya membuat teori-teori baru dan eksperimen tersendiri, seperti yang dilakukan Ivan Pavlov pada tahun 1960-an.
Hal di atas menunjukkan bahwa ilmu psikologi untuk satu negara belum tentu sesuai jika diterapkan di negara lain yang berbeda adat, tradisi, agama, kultur, dsb. Tentu tidak rasional kajian terhadap psikologi binatang diterapkan pada psikologi manusia. Jangankan antara binatang dan manusia, psikologi berbasis ateisme belum tentu cocok diterapkan sesama negara-negara Barat, apalagi bangsa-bangsa Timur kental dengan tradisi budaya dan agamanya. Maka, di sinilah umat Islam dituntut benar-benar selektif dan mengedepankan sikap kritis terhadap doktrin-doktrin psikologi modern yang berkembang saat ini. Lantas apakah upaya dari para ilmuwan Muslim untuk melakukan islamisasi terhadap paradigma psikologi Barat yang kini berkembang? Apakah alternatif psikoanalisa yang mereka suguhkan untuk dipelajari oleh kaum Muslim? Upaya-upaya menjawab pertanyaan di atas sebenarnya telah dilakukan oleh beberapa tokoh psikolog Muslim kontemporer, seperti Malik B. Badri, Utsman Najaty, Thariq al-Habib, dan lain-lain. Mereka berupaya melakukan islamisasi terhadap psikologi kontemporer dengan menyisihkan doktrin-doktrin psikologi yang tidak sejalan dengan nafas Islam, mengkritisi dan menggalinya melalui al-Qur’an dan al-Hadits, dalam rangka mengembalikan manusia kepada kedudukan yang sepantasnya sebagai manusia, insan bertauhid, khalifah di atas dunia, bukan berpaham ateistik-materialistik. Tentu saja penemuan-penemuan ilmiah yang dihasilkan oleh psikologi modern melalui kajian-kajian rasional, empiris, dan objektif tak dapat ditolak begitu saja. Yang ditolak adalah doktrin-doktirn prinsipil yang menjadi basisnya, yaitu paham ateisme-sekular. Oleh karena itu makalah ini juga dalam rangka menjawab pertanyaan di atas, berupaya menggali paradigma-paradigma dan konsep-konsep psikologi Islam.
B. Rumusan Masalah
1. Apa itu struktur kepribadian dalam Islam?
2. Bagaimana tingkat kepribadian dalam Islam?
C. Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui apa itu struktur kepribadian dalam Islam
2. Untuk mengetahui tingkatan kepribadian dalam Islam
BAB II
PEMBAHASAN
A. Struktur Kepribadian dalam Islam
Psikoanalisa Freud menguraikan teori-teori kepribadian yang berorientasi psikodinamik sebagaimana yang diuraikan juga oleh Psikologi Ego (Erick Erickson). Teori-teori ini menyatakan bahwa manusia pada dasarnya dilahirkan jahat. Tingkah laku manusia digerakkan oleh daya-daya negatif atau merusak dan tidak disadari, seperti kecemasan dan agresi atau permusuhan. Agar berkembang ke arah yang positif manusia membutuhkan cara-cara pendampingan yang bersifat impersonal dan direktif atau mengarahkan.
Menurut Sigmund Freud kepribadian seseorang terstruktur atas tiga sistem pokok yaitu:
1. Id (das es) adalah system kepribadian biologis yang asli, berisikan sesuatu yang telah ada sejak lahir. Id memiliki prinsip kerja yang serba mengejar kenikmatan (pleasure principle) dan cenderung bersifat rasional, primitif, impulsif, dan agresif.
2. Ego (das ich) adalah aspek psikologis kepribadian yang timbul karena kebutuhan organisme memerlukan transaksi dengan kenyataan obyektif. Ego mengikuti prinsip kenyataan (reality principle) yang bersifat rasional-logis. Tujuan prinsip ini adalah mencegah terjadinya ketegangan sampai ditemukan suatu obyek yang cocok untuk pemuasan kebutuhan. Ego juga disebut eksekutif kepribadian, karena ia mengontrol tindakan, memilih lingkungan untuk memberi respons, memuaskan insting yang dikehendaki dan berperan sebagai pengendali konflik antara id dan super ego.
3. Super ego (das ueber ich) adalah aspek-aspek sosiologis kepribadian yang mengintegrasikan nilai-nilai moral dan cita-cita luhur. Ia mencerminkan yang ideal bukan riil, mengejar kesempurnaan dan bukan kenikmatan. Timbulnya super ego ini bersumber dari suara hati sehingga fungsinya; (1) merintangi impuls-impuls id, terutama impuls-impuls seksual dan agresif yang aktualisasinya sangat ditentang masyarakat, (2) mendorong ego untuk lebih mengejar hal-hal yang moralitas daripada realitas, (3) mengejar kesempurnaan. Jadi super ego menentang ukuran baik-buruk id ataupun ego, dan membuat dunia menurut gambarannya sendiri yang tidak rasional bahkan menunda dan merintangi pemuasan insting.
Dinamika kepribadian ditentukan oleh cara energi psikis didistribusikan serta digunakan oleh id, ego, dan super ego. Oleh karena jumlah energi itu terbatas maka akan terjadi semacam persaingan diantara ketiga sistem itu dalam menggunakan energi tersebut. Salah satu sistem itu mengontrol energi dengan mengorbankan kedua sistem yang lain.
Dalam Islam ketiga struktur ini telah di jelaskan dalam Al-Qur’an. Struktur kepribadian dalam islam disebut nafs. Nafs dalam khazanah Islam memiliki banyak pengertian. Nafs dapat berarti jiwa (soul), nyawa, konasi yang berdaya syahwat dan ghadab, kepribadian, dan substansi psikofisik manusia. Nafs memiliki natur gabungan antara natur jasad dan ruh. Nafs adalah potensi jasad-ruhani (psikofisik) manusia yang secara inhern telah ada sejak manusia siap menerimanya. Substansi nafs memiliki potensi gharizah. Jika potensi gharizah ini dikaitkan dengan substansi jasad dan ruh, dapat dibagi menjadi tiga bagian;
1. Al-qalb: → (super ego)
Merupakan materi organik yang memiliki sistem kognisi yang berdaya emosi. Ia berada di jantung (al-mudghah). Qalbu memiliki kemampuan untuk memperoleh pengetahuan (al-ma’rifah) melalui cita-rasa (al-zawqiyah). Sesuai firman Allah SWT:
“Dan orang-orang beriman mendapat petunjuk dari Allah melalui hatinya“ (QS. Al-Taghabun, 64: 11).
Ketika mengaktual, potensi qalbu tidak selamanya menjadi tingkah laku yang baik. Baik-buruknya sangat tergantung pada pilihan manusia sendiri. Seperti sabda Nabi SAW:
“Sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila ia baik maka semua tubuh menjadi baik, tetapi apabila ia rusak maka semua tubuh menjadi rusak pula. Ingatlah bahwa ia adalah qalbu.” (HR. Al-Bukhari dari Nu’man ibn Basyir)
Selain kemampuan memperoleh pengetahuan dari Allah, qalbu juga menjadi pusat kesadaran moral. Ia memiliki kemampuan membedakan yang baik dan yang buruk serta mendorong manusia memilih hal-hal yang baik dan meninggalkan yang buruk, karena kemampuan yang emikian, maka Nabi Muhammad SAW menganjurkan manusia meminta fatwa kepada qalbunya. Qalbu memiliki kemampuan untuk memberikan jawaban ketika seseorang harus memutuskan sesuatu yang sangat penting. Seperti dalam hadist:
“Mintalah fatwa kepada qalbumu.” (HR. Ahmad dan al-Darimi).
Al-Ghazali berpendapat bahwa qalbu memiliki insting yang disebut dengan al-nur al-ilahiy (cahaya ketuhanan) dan al-bashira al-albathina (mata batin) yang memancarkan keimanan dan keyakinan. Al-Ghazali juga berpendapat bahwa qalbu diciptakan untuk memperoleh kebahagiaan akhirat. Kebahagiaan qalbu sangat tergantung pada ma’rifah kepada Allah SWT. Hal itu juga dipertegas oleh Al-Zamakhsyariy yang berpendapat bahwa qalbu itu diciptakan oleh Allah SWT. sesuai dengan fitrah asalnya dan berkecenderungan menerima kebenaran dari-Nya.
2. Akal: → ego
Secara etimologi, akal memiliki arti al-imsak (menahan), al-ribah (ikatan), al-hajr (menahan), al-nahy (melarang), dan man’u (mencegah). Berdasarkan makna bahasa ini maka yang disebut orang yang berakal adalah orang yang mampu menahan dan mengikat hawa nafsunya. Jika hawa nafsunya terikat jiwa rasionalitasnya mampu bereksistensi. Jadi akal mempunyai kemampuan mengadakan penalaran rasional logis.
Akal diungkap dalam Al-Qur’an tidak seperti qalbu. Akal diungkap hanya dalam bentuk kata kerja (fi’il) dan satu pun tidak disebut kan dalam dalam bentuk kata benda (isim). Hal ini menunjukkan bahwa akal bukanlah suatu susbtansi (jauhar) yang bereksistensi, melainkan aktivitas substansi tertentu. Komponen nafsani yang mampu berakal adalah qalbu. Seperti firman Allah SWT:
“Mereka mempunyai qalbu yang mereka berakal dengannya.” (QS. Al-Hajj, 32:46)
Berdasarkan ayat ini, para mufasir sebagaimana yang diulas oleh Al-Ghazali dan Wahba Al-Zukhailiy berbeda pendapat. Sebagian ada yang berpendapat bahwa qalbu yang berakal, sedang sebagian yang lain menyebutnya “otak“ (al-dimagh) yang berakal. Al-Zukhiliy lebih lanjut menjelaskan bahwa pendapat yang valid adalah pendapat kedua, yakni otak yang berakal bukan qalbu. Adapun maksud dari QS Al-Hajj: 46 tersebut adalah bahwa dalam tradisi kebahasaan, seseorang sering menggunakan qalbu untuk menyebutkan akal, sehingga dalam Al-Qur’an menggunakan qalbu untuk berakal.
3. Nafsu: → id
Nafsu adalah daya nafsani yang memiliki dua kekuatan, yaitu kekuatan al-ghadabiyah dan al-syahwaniyah. Al-Ghadab adalah suatu daya yang berpotensi untuk menghindari diri dari segala yang membahayakan. Ghadab dalam terminologi psikoanalisa disebut dengan defense (pertahanan, pembelaan, dan penjagaan), yaitu tingkah laku yang berusaha membela atau melindungi ego terhadap kesalahan, kecemasan,dan rasa malu; perbuatan untuk melindungi diri sendiri; dan memanfaatkan dan merasionalkan perbuatannya sendiri. Al-Syahwat adalah suatu daya yang berpotensi untuk menginduksi diri dari segala yang menyenangkan. Syahwat dalam terminologi psikologi disebut dengan appetite, yaitu suatu hasrat (keinginan, birahi, hawa nafsu), motif atau impuls berdasarkan perubahan keadaan fisiologi.
Prinsip kerja nafsu mengikuti prinsip kenikmatan (pleasure principle) dan berusaha mengumbar impuls-impuls primitifnya. Sehingga ia merupakan tempat dan sumber kejelekan dan tingkah laku yang tercela. Seperti firman Allah SWT:
“Sesungguhnya nafsu itu selalu menyerukan pada perbuatan buruk, kecuali nafsu yang diberi rahmatoleh Tuhanku.” (QS. Yusuf, 12 : 53)
Apabila impuls-impuls ini tidak terpenuhi maka terjadi ketegangan diri. Bila manusia melayani semua dorongan yang dimilikinya, maka dalam dirinya akan menguat yang namanya hawa nafsu. Bila hawa nafsu ini menggumpal dan berkuasa dalam diri seseorang maka ia tumbuh menjadi orang- orang yang zalim, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:
“Tetapi orang-orang yang zalim mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan.” (QS. Ar-Ruum, 30: 29)
B. Tingkat Kepribadian dalam Islam
Berdasarkan struktur di atas, kepribadian dalam psikologi islam adalah “integrasi sistem qalbu, akal, dan nafsu manusia yang menimbulkan tingkah laku”. Daya-daya yang terdapat dalam substansi nafs manusia saling berinteraksi satu sama lain dan tidak mungkin dapat dipisahkan. Kepribadian sesungguhnya merupakan produk dari interaksi diantara ketiga komponen tersebut, hanya saja ada salah satu di antaranya yang lebih mendominasi dari komponen yang lain. Sedang Al-Ghazali berpendapat bahwa apabila pikiran itu dilahirkan dari qalbu, syahwatnya berubah menjadi kemauan, sedang ghadabnya berubah menjadi kemampuan yang tinggi derajatnya. Salah satu dominasi struktur kepribadian ini menimbulkan adanya tingkatan-tingkatan kepribadian manusia, yaitu:
1. Kepribadian Amarah (nafs al-amarah)
Kepribadian amarah adalah kepribadian yang cenderung pada tabiat jasad dan mengejar pada prinsip-prinsip kenikmatan, jadi dalam ketiga struktur kepribadian manusia, nafsu yang mendominasi kepribadian amarah ini. Seperti firman Allah SWT:
“Sesungguhnya nafsu itu selalu menyerukan pada perbuatan buruk, kecuali nafsu yang diberi rahmatoleh Tuhanku.” (QS. Yusuf, 12 : 53)
Kepribadian amarah dapat beranjak ke kepribadian yang baik apabila ia telah diberi rahmat oleh Allah SWT. Pendakian kepribadian dapat mencapai satu tingkat dari tingkatan kepribadian yang ada, yaitu kepribadian lawwamah.
2. Kepribadian Lawwamah (nafs al-lawwamah)
Kepribadian lawwamah adalah kepribadian yang telah memperoleh cahaya qalbu, lalu ia bangkit untuk memperbaiki kebimbangannya antara dua hal. Dalam upayanya itu kadang-kadang tumbuh perbuatan yang buruk yang disebabkan oleh watak gelapnya namun kemudian ia diingatkan oleh nur ilahiy, sehingga ia mencela perbuatannya dan selanjutnya ia bertaubat dan beristighfar. Jadi akal mendominasi di antara ketiga struktur kepribadian. Firman Allah SWT:
“Aku bersumpah dengan hari kiamat, dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).” (QS. Al-Qiyamah, 75 : 2)
Akal apabila telah diberi percikan nur qalbu, fungsinya menjadi baik. Ia dapat dijadikan sebagai salah satu media untuk menuju kepada Tuhan. Al-Ghazali sendiri meskipun sangat mengutamakan pendekatan cita-rasa, tapi ia masih mengutamakan kemampuan akal. Sedangkan Ibnu Sina, akal mampu mencapai pemahaman yang abstrak dan akal juga mampu mencapai akal mustafad, yaitu akal yang mapu menerima limpangan pengetahuan dari Tuhan melalui akal fa’al (malaikat jibril).
3. Kepribadian Muthmainnah (nafs al-muthmainnah)
Kepribadian muthmainnah adalah kepribadian yang telah diberi kesempurnaan nur qalbu, sehingga dapat meninggalkan sifat-sifat tercela dan tumbuh sifat-sifat yang baik. Kepribadian ini selalu berorientasi ke komponen qalbu untuk mendapat kesucian dan menghilangkan segala kotoran, sehingga dirinya tenang. Begitu tenangya kepribadian inisehingga ia dipanggil oleh Allah SWT. Seperti firman Allah SWT:
“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al- Fajr, 89 : 27-30)
Al-Ghazali menyatakan bahwa daya qalbu (yang mendominasi kepribadian muthmainnah) mampu mencapai pengetahuan (ma’rifah) melalui daya cita-rasa (dawq) dan kasy (terbukanya tabir misteri yang menghalangi penglihatan bati manusia). Sedangkan Ibnu Khaldun menyatakan dalam Muqaddimat bahwa ruh qalbu itu disinggahi oleh ruh akal. Ruh akal secara substansial mampu mengetahui apa saja di alam amar, sebab ia berpotensi demikian.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari uraian semua makalah ini dapat kita simpulkan bahwa terdapat beberapa pendapat yang sesuai dengan Al-Quran dan ada pula yang tidak sesuai. Pendapat yang sesuai adalah tentang struktur kepribadian yang diungkapkan oleh Freud adalah id yang mempunyai kesamaan dengan hawa nafsu, ego dengan akal, dan super ego dengan qalbu. Tentang dinamika kepribadian yang diungkapkan oleh Frued, yaitu merupakan integrasi antara ketiga struktur kepribadian id, ego, dan super ego.
Selanjutnya yang tidak sesuai dengan Al-Quran ialah meskipun menurut Freud perilaku itu ditimbulkan karena libido seksual namun dalam fase bayi tidak memiliki keinginan birahi dan distruksi sebagaimana yang diungkapkan oleh freud.
Tidak semua perilaku orang itu semata-mata ditentukan oleh dorongan sex sebagaimana diungkapkan oleh freud, meskipun tidak dipungkiri bahwa nafsu memiliki daya tarik kuat sekali disbanding kedua system nafsani yang lain.
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Agus ddk. 2012. Makalah Psikoanalisis dalam Pandangan Islam. Bandung.
Hartati, Netty dkk. 2004. Islam & Psikologi. Jakarta. Raja Grafindo.
Husna, Faiqatul. 2018. Jurnal Aliran Psikoanalisis dalam Perspektif Islam. Jakarta. Diupload 12 Juli 2020.
Hall, Calvin S. Teori-teori psikodinamik (klinis). Yogyakarta: kanisius, 1993
Tidak ada komentar:
Posting Komentar