BAB
I
PENDAHULUAN
1.
Latar Belakang
Membesarkan dan mendidik anak
bukanlah perkara mudah. Kekeliruan orang tua dalam menerapkan pola asuh dapat
memengaruhi perilaku anak di kemudian hari. Oleh karena itu, penting bagi orang
tua untuk mempelajari prinsip parenting yang
benar agar bisa membentuk karakter positif pada anak.
Anak bagaikan kertas putih kosong yang bisa
dihiasi dengan coretan atau tulisan. Tulisan tersebut bisa membuat kertas
menjadi indah atau sebaliknya. Nah, semua itu tergantung pada
pola asuh yang orang tua terapkan kepada anak. Tabula rasa berasal
dari bahasa Latin, artinya kertas kosong. Tabula rasa merujuk pada teori yang
menyatakan bahwa anak-anak terlahir tanpa isi, dengan kata lain kosong. Teori
ini dipengaruhi oleh pemikiran John Locke, dari abad 17. Kita jadi tahu bahwa teori tabula rasa ini menjadi
salah satu asumsi dasar dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah ataupu di
rumah kita pada saat ini. Dengan asumsi bahwa anak adalah sebuah kertas kosong,
maka tugas utama guru atau orang tua dan proses pendidikan adalah mengisi
kertas kosong itu dengan informasi-informasi (pelajaran) yang penting bagi
anak-anak.
Dalam pandangan pribadiku, teori yang memandang anak-anak sebagai
sebuah kertas kosong adalah sangat reduktif. Hal ini mengakibatkan sentral
proses belajar (pendidikan) terletak pada orang dewasa dan anak-anak
dikondisikan pasif (karena mereka hanya sebuah kertas kosong yang harus diisi).
Pengetahuan tentang teori tabula rasa ini bagiku menjelaskan fenomena anak-anak
sekolah yang pasif dan kegiatan utama guru yang fokusnya mengajar (mengisi
kertas kosong). Keterlibatan anak tak dianggap terlalu penting, apalagi
pendapat dan inisiatif anak. Kalaupun ada, semua itu hanya bersifat suplemen
untuk kegiatan utama tadi, yaitu mengisi pada anak-anak.
Menurut Jerome Kagan (dalam Berns,
1997), beliau adalah seorang psikologi perkembangan, yang mendefinisikan
pengasuhan sebagai serangkaian keputusan tentang sosialisasi pada anak, yang
mencakup apa yang harus dilakukan oleh orangtua agar anak mampu bertanggung
jawab dan memberikan konstribusi sebagai anggota masyarakat. Jadi pengasuhan
disini bagaimana orangtua harus menjelaskan kepada anak bagaimana anak bisa
mempunyai tanggung jawab yang tinggi terhadap semua hal yang dilakukan.keluarga
harus selalu mendukung kegiatan yang dilakukan anak selagi itu merupak hal yang
baik untuk dilakukan. Banyak program parenting saat ini yang bisa diikuti oleh
orangtua. program parenting adalah salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas
pola asuh orangtua guna membangun karakter positif pada anak.
Parenting adalah bagaimana cara
mendidik orangtua terhadap anak baik secara langsung maupun tidak langsung.
Parenting menyangkut semua perilaku orangtua sehari-hari baik yang berhubungan
langsung dengan anak maupun tidak, yang dapat ditangkap maupun dilihat oleh
anak-anaknya, dengan harapan apa yang diberikan kepada anak (pengasuhan) akan
berdampak positif bagi kehidupannya terutama bagi agama, diri, bangsa, dan juga
negaranya. Tugas utama mencerdaskan anak tetaplah ada pada orangtua meskipun
anak telah dimasukkan ke sekolah agama. Peran orangtua dalam mendidik dan
mengasuh anak sangatlah penting dalam mengembangkan potensi anak.
2. Rumusan Masalah
A.
Pendidikan Karakter Teori
psikologi dan islam
1.
Menjadi panutan yang baik
bagi anak
2.
Jangan terlalu memanjakan
anak
3.
Tumbuhkan Sifat kemandirian
pada anak
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pendidikan Karakter
Pola asuh yang baik dapat membantu menumbuhkan rasa
kepedulian, kejujuran, kemandirian, dan keceriaan pada diri anak. Cara
pengasuhan yang baik juga dapat mendukung kecerdasan anak dan melindungi anak
dari rasa cemas, depresi, pergaulan bebas, serta penyalahgunaan alkohol dan
narkoba. Pola asuh yang baik juga dapat mengurangi risiko anak
mengalami gangguan perilaku.
Prinsip utama pola asuh yang baik adalah membesarkan dan
mendidik anak dengan penuh kasih sayang, sekaligus mendukung, membimbing, dan
menjadi teman yang menyenangkan.
Berikut
ini adalah beberapa prinsip pola asuh atau parenting yang
bisa Anda terapkan:
1. Menjadi panutan
yang baik bagi anak
Anak cenderung akan meniru apa yang orang
tuanya lakukan. Oleh karena itu, menjadi panutan yang baik bagi anak adalah
salah satu cara mendidik anak yang penting dilakukan oleh para
orang tua. Ketika Anda ingin menanamkan karakter positif pada anak, berilah
contoh pada mereka, misalnya dengan selalu berkata jujur, berperilaku baik dan
santun terhadap orang lain, serta membantu orang lain tanpa mengharap imbalan.
Dalam pembentukan karakter anak
dibahas dalam Teori Behaviorisme salah satunya Albert Bandura yang mengatakan,
bahwa prilaku manusia dikendalikan oleh stimulus dan penguatan merupakan
penjelasan yang lemah, dan bertentangan dengan kenyataan bahwa manusia memiliki
kepribadian yang mempengaruhi manusia secara konsisten dalam berinteraksi
dengan lingkungan.
Fungsi dan tujuan pendidikan karakter memiliki andil yang
sangat besar dalam menentukan arah dan sebagai pedoman internalisasi karakter.
Dengan fungsi dan tujuan tersebut diikhtiarkan terwujud insan kamil yang
mempunyai posisi mulia di sisi Allah SWT. Secara garis besar pendidikan
karakter merupakan jalan dalam mewujudkan masyarakat beriman dan bertaqwa yang
senantiasa berjalan di atas kebenaran dengan menjunjung tinggi nilai-nilai
keadilan, kebaikan, musyawarah, serta nilai-nilai humanisme yang mulia.
Lalu bagaimana peran agama islam dalam menyikapi
fenomena ini?
Sejak 14 abad yang lalu atau sejak pertama
Al-Qur’an diturunkan, Islam telah memberikan konsep-konsep tentang pendidikan
karakter.
Salah satu ayat yang menerangkan tentang pendidikan
karakter adalah Q.S Luqman ayat 12-24, Walaupun terdapat banyak ayat Al-Qur’an
yang memiliki keterkaitan dengan pendidikan karakter, namun Q.S Luqman ayat
12-14 karena ayat ini mewakili pembahasan ayat yang memiliki keterkaitan makna
paling dekat dengan konsep pendidikan karakter.
“Dan sesungguhnya telah Kami
berikan hikmah kepada Lukman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan
barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur
untuk dirinya sendiri; dan barang siapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya
Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji". Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata
kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku,
janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah)
adalah benar-benar kelaliman yang besar". Dan Kami perintahkan kepada
manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah
mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam
dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya
kepada-Kulah kembalimu”
Aspek personal Luqman Jika dilihat dalam perspektif pendidikan yaitu bahwa
kualitas manusia tidak dipandang dari sudut keturunan atau ras. Figur Luqman sebagai
seorang pendidik memiliki kelebihan dalam kualitas kepribadiannya bukan
kelebihan dalam bentuk kepemilikan berupa material maupun keturunan. Kelebihan
dalam konteks ini yaitu hikmah. Luqman dipandang sebagai figur pendidik yang
memiliki sifat dan perilaku yang menggambarkan hikmah. Dalam tafsir
Ath-Thabari, hikmah diartikan sebagai pemahaman dalam agama, kekuatan berfikir,
ketepatan dalam berbicara, dan pemahaman dalam Islam meskipun ia bukan nabi dan
tidak diwahyukan kepadanya.
Implikasi dari makna hikmah bagi figur pendidik
adalah bahwa seorang pendidik selain senantiasa berusaha meningkatkan kemampuan
akademiknya, ia pun berupaya menselaraskan dengan amalannya. Sebagaimana
dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam
kitabul ‘ilmi bab Al-Igtibat fil ‘ilmi wal hihmah.
Dari segi anak didik, ungkapan “la
tusyrik billah innassyirka lazhulmun azhim” (janganlah kamu mempersekutukan
Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang
besar) mengandung arti bahwa sesuatu yang tidak boleh dilakukan oleh anak didik
tidak hanya sebatas larangan, tetapi juga diberi argumentasi yang jelas mengapa
perbuatan itu dilarang. Anak didik diajak berdialog dengan menggunakan potensi
pikirnya agar potensi itu dapat berkembang dengan baik. Komunikasi efektif
antara Luqman dan anaknya mengisyaratkan bahwa hendaknya seorang pendidik
menempatkan anak didiknya sebagai objek yang memiliki potensi fikir.
Selain itu, tunjukkan kepada anak
bagaimana cara hidup sehat, misalnya mengonsumsi sayuran dan
buah-buahan setiap hari, menyikat gigi setelah makan dan menjelang tidur, serta
membuang sampah pada tempatnya.
2. Jangan terlalu memanjakan anak
Sebagai orang tua, Anda mungkin tidak sadar
bahwa selama ini Anda selalu menuruti kemauan si buah hati. Nah,
ini saatnya untuk menghentikan kebiasaan tersebut sekaligus memberi
pembelajaran pada anak agar ia tidak terlalu manja.
Sebagai contoh, jangan turuti kemauan anak
ketika dia menangis atau tantrum karena ingin menonton televisi saat waktunya
tidur malam, minta dibelikan sesuatu yang tidak ia butuhkan, atau ketika ia
merengek untuk bermain gadget. Mendisiplinkan anak merupakan salah satu bentuk kasih
sayang anak yang penting dilakukan orang tua dalam membentuk karakter yang baik
pada anak.
Meski demikian, jangan pula memarahinya atau
bahkan memukulnya ketika ia berbuat kesalahan. Cobalah menegurnya dengan lembut
namun tegas ketika ia berbuat salah dan berikan pemahaman kepadanya. Jangan
lupa juga berikan pujian ketika ia melakukan hal yang baik. Ini akan
memotivasinya untuk menjadi anak yang baik.
Disiplin dalam psikologi ialah suatu perbuatan
menghormati, menghargai, patuh, dan taat pada norma norma yang berlaku, baik
yang tertulis maupun tidak tertulis serta sanggup menjalankannya dan tidak
mengelak untuk menerima sanksi sanksinya apabila ia melanggar tugas dan
wewenang yang diberikan. Menurut Toto Asmara “Disiplin merupakan hasil belajar dan
mencakup aspek kognitif, afektif, dan behavioral.
Di antara ajaran mulia yang sangat ditekankan
dalam Islam adalah disiplin. Disiplin merupakan salah satu pintu meraih
kesuksesan. Kepakaran dalam bidang ilmu pengetahuan tidak akan
memiliki makna signifikan tanpa disertai sikap disiplin.
Tidak heran jika Allah memerintahkan kaum beriman untuk
membiasakan disiplin. Perintah itu, antara lain, tersirat
dalam Al-Qur’an surat Al-Jumuah ayat 9-10.
“Wahai orang-orang yang beriman,
apabila kalian diseru untuk menunaikan shalat
Jum’at, maka bersegeralah untukmengingat Allah dan tinggalkanlah
jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian jika
kalian mengetahui.Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah
kalian di muka bumi, dan carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah
banyak-banyak supaya kalian beruntung.” (QS Al-Jumuah: 9-10).
Disiplin yang dilakukan secara
seimbang antara urusan ibadah dan kerja, akhirat dan dunia, itulah
yang akan mengantarkan kaum beriman kepada kesuksesan.
Perintah untuk menyeimbangkan antara urusan akhirat dan dunia
juga dapat ditemukan dalam Al-Qur’an surat Al-Qashash ayat
77.
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu
kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan jatahmu
dari kenikmatan dunia, dan berbuat baiklah kamu kepada
orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu
berbuat kerusakan di muka bumi. Sungguh Allah tidak menyukai orang-orang
yang berbuat kerusakan.” (QS Al-Qashash: 77).
Shalat jamaah
jelas membutuhkan disiplin. Karena, umumnya shalat jamaah dikerjakan
bersama-sama di masjid atau langgar tidak lama setelah azan berkumandang yang
diikuti dengan iqamah. Dengan demikian, jika ingin mengikuti shalat
jamaah, maka kita harus segera meninggalkan kesibukan setelah
mendengar azan. Shalat jamaah di masjid atau
langgar itu dikerjakan tepat waktu. Kalau
kita masih saja ruwet dengan segala tetek
bengek dunia, sementara azan sudah
berkumandang, dipastikan kita akan ketinggalan, atau malah tidak
mendapati shalat jamaah sama sekali.
Belum lagi tradisi i’tikaf atau berdiam
diri ketika menunggu shalat jamaah dimulai. Ditambah tradisi berzikir setelah
shalat jamaah selesai. Tanpa disiplin waktu yang bagus, mustahil kita
dapat melakukan semua itu. Membiasakan disiplin dalam segala
urusan secara seimbang itulah yang akan menjadikan hidup
kita indah, tertata, dan diliputiberkah.
3. Tumbuhkan sifat kemandirian pada anak
Sikap mandiri adalah hal yang penting dimiliki setiap orang.
Agar terbiasa mandiri, sikap ini perlu dilatih dan dididik sejak masa
kanak-kanak. Bila tidak, maka anak bisa saja terus bergantung pada
orang tua atau orang di sekitarnya dan sulit beradaptasi dengan lingkungan
ketika dewasa.
Melatih anak agar mandiri dapat
ditanamkan dengan cara memberikan anak kepercayaan, kesempatan, dan apresiasi.
Misalnya, dengan mengajarkan anak untuk merapihkan mainan dan tempat tidurnya
sendiri atau sekedar membiasakan anak untuk menyiapkan bekal sekolahnya
sendiri.
Ada
beberapa cara yang bisa dilakukan untuk melatih kemandirian anak, yaitu:
v Mulailah dengan memberi tugas kecil
v Biarkan
anak menentukan pilihannya sendiri
v Jangan selalu membantu
v Berikan
lingkungan yang ramah anak
v Hargai
setiap usahanya
Hakikat
dari keberhasilan seorang anak dalam islam di dunia ini adalah ketika anak
tersebut sudah mampu melakukan ibadah sendiri tanpa dipaksa orang tuanya.
Contohnya anak sudah bisa sholat sendiri tanpa disuruh. Kewajibannya sebagai
hamba Allah Swt sudah tidak perlu diingatkan lagi, tanpa harus dipaksa lagi.
Jangan kita beranggapan bahwa anak yang mandiri hanya berpangku pada
keberhasilan dunia saja. Jangan kita menuntut kemandirian anak secara dunia,
mari kita tuntut anak mandiri secara akhirat agar menjadi anak yang soleh dan
solehah.
Al-Quran surat Al- Mudasir ayat 38 menyebutkan:
“tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang diperbuatnya”.
Selanjutnya dalam surat Al-Mukminun ayat 62
disebutkan:
“
kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada sisi
kami ada kitab yang berbicara benar, dan mereka telah dianiaya”.
Dari ayat tersebut menjelaskan bahwa individu tidak
akan mendapatkan suatu beban diatas kemampuannya sendiri tetapi Allah Maha Tahu
dengan tidak memberi beban individu melebihi batas kemampuan individu itu
sendiri. Karena itu individu dituntut untuk mandiri dalam menyelesaikan
persoalan dan pekerjaannya tanpa banyak tergantung pada orang lain. Abdullah
menuturkan beberapa contoh tentang inti pandangan Islam terhadap pendidikan
anak dengan didukung oleh berbagai bukti dan argumentasi. Beliau mengatakan
bahwa kemandirian dan kebebasan merupakan dua unsur yang menciptakan generasi
muda yang mandiri.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Setiap
anak yang tumbuh dan berkembang, sebelum ia mengalami proses pendidikan di
sekolah, sejatinya berasal dari rumah tempat ia menjalani hari-harinya bersama
keluarga. Karena itu orang tualah yang memegang peran yang sangat penting dalam
hal pendidikan anak, walaupun ada beberapa kondisi yang menyebabkan anak tidak
bisa mendapatkan pendidikan dari orang tuanya, seperti anak yatim piatu
semenjak lahir, anak yang dibuang oleh orang tuanya dan lain-lain. Tetapi dalam
kondisi normal, orang tua merupakan pendidik anak yang pertama dan utama.
Bahkan dalam Al-Qur’an serta Sunnah banyak sekali ditegaskan tentang pentingnya
mendidik anak bagi para orang tua. Anak yang terdidik dengan baik oleh orang
tuanya akan tumbuh menjadi anak yang pandai menjaga dirinya dari pengaruh buruk
lingkungan, karena ia telah dibekali oleh ilmu tentang hidup dan kehidupan yang
di dalamnya terdapat ilmu yang paling bermanfaat yaitu ilmu agama.
Banyak
sekali sekolah-sekolah yang memfasilitasi kita untuk menjadi seperti apa yang
kita cita-citakan walaupun tidak selalu terwujudkan, ingin menjadi dokter ada
sekolahnya, ingin menjadi guru juga ada sekolahnya begitupun dengan profesi
lain. Tetapi adakah sekolah untuk menjadi orang tua? Padahal setinggi apapun
karier kita dalam profesi tertentu, sejatinya kita akan tetap menjalani fitrah
yang sama yaitu menjadi orang tua, walaupun tidak semua orang ditakdirkan Allah
SWT untuk dapat memiliki anak, maka bersyukurlah bagi kita yang diamanahi Allah
SWT anak-anak yang menjadi penyejuk mata dan harapan di masa yang akan datang.
Setiap
orang tua harus senantiasa belajar tentang ilmu mendidik anak karena tidak ada
sekolah khusus untuk menjadi orang tua. Tetapi banyak sekali yang dapat
memfasilitasi hal itu jika kita bersungguh-sungguh ingin belajar menjadi orang
tua yang baik, terutama di zaman ini dimana perkembangan ilmu dan teknologi
begitu cepat dan mampu menembus ruang dan waktu. Orang tua yang memiliki bekal
ilmu dalam mendidik anak akan sadar tentang pentingnya pendidikan anak sejak
usia dini bahkan sejak anak masih berada di dalam rahim ibu, bahkan menurut
penelitian, kondisi ibu saat hamil sangat mempengaruhi akhlak anak, bila ibu
mampu menjaga diri dari makanan-makanan yang tidak halal dan juga
perilaku-perilaku yang tidak terpuji insya Allah anak yang lahir akan menjadi
anak yang sholeh. Karena tidak ada bayi yang terlahir kecuali suci, namun ia
mencontoh dari orang tua, tontonan televisi/media, guru dan lingkungan
pergaulannya.
Daftar
Pustaka
Alquran
Nulkarim, Terjemahan Depag
Nur
Aynun “Mendidik anak Pra Aqil Baligh, Kompas media ,jakarta’2018.
Neil
J.Salkind” Teori-Teori Perkembangan Manusia”2009
Ida
S. Widayanti” mendidik karakter dengan karakter” Jakarta 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar