BAB I
Pendahuluan
A. latar Belakang
Bahasa merupakan bagian dari keanekaragaman budaya. Bahasa dimiliki oleh setiap suku bangsa. Bahasa bersifat humanis dan menjadi ciri manusia. Setiap manusia membutuhkan bahasa untuk setiap kegiatan. Oleh karena itu, secara otomatis telah terjadi keanekaragaman bahasa yang terjadi dalam lingkungan masyarakat. Pandangan tersebut dapat diselaraskan dengan teori ragam bahasa yang dikemukakan oleh para pakar sosiolinguistik.
Ketika bahasa itu berada pada tataran fungsi bahasa ekspresi diri dan fungsi bahasa komunikasi, bahasa yang digunakan masuk ke dalam ragam bahasa dan laras bahasa. Ragam bahasa adalah variasi bahasa yang terbentuk karena pemakaian bahasa. Pemakaian bahasa itu dibedakan berdasarkan media yang digunakan topik pembicaraan, dan sikap pembicaranya. Di pihak lain, laras bahasa dimaksudnya kesesuaian antara bahasa dan fungsi pemakaiannya. Fungsi pemakaian bahasa lebih diutamakan dalam laras bahasa dari pada aspek lain dalam ragam bahasa. Selain itu, konsepsi antara ragam bahasa dan laras bahasa saling terkait dalam perwujudan aspek komunikasi bahasa. Laras bahasa apa pun akan memanfaatkan ragam bahasanya. Misalnya, laras bahasa lisan dan ragam bahasa tulis.
B. Rumusan Masalah
1. Perbedaan konsep antara Ragam Bahasa dengan Laras Bahasa;
2. Perihal Ragam Bahasa (dan khususnya Ragam Bahasa Indonesia);
• Definisi Ragam Bahasa;
• Klasifikasi Ragam Bahasa dari berbagai aspek;
• Paparan serba aneka contoh Ragam Bahasa dalam berbagai jenis dan bentuk untuk berbagai aspek klasifikasi ragam bahasa;
3. Perihal Laras Bahasa (khususnya Laras Bahasa (Indonesia) Ilmiah;
• Definisi Laras Bahasa;
• Klasifikasi Laras Bahasa dengan berbagai ciri dari berbagai aspek;
• Paparan serba aneka contoh Laras Bahasa dalam berbagai jenis dan bentuk untuk berbagai aspek klasifikasi Laras Bahasa;
C. Tujuan
1. Agar mahasiswa mampu memahami ragam bahasa dan laras bahasa.
2. Agar mahasiswa dapat menerapkan pemhaman tentang ragam dan laras bahasa indonesia kedalam bahasa rtulisan maupun bahasa lisan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Perbedaan Konsep antara Ragam Bahasa dan Laras Bahasa
Perkembangan bahasa akan semakin berlanjut dan akan tetap berlanjut. Untuk itu, sebagai warga negara Indonesia yang baik, sangat penting untuk mempelajari bahasa Indonesia secara utuh. Apalagi jika bahasa Indonesia nantinya resmi menjadi bahasa internasional. Mahasiswa perlu mempelajari untuk memahami bahasa Indonesia.
Bahasa digunakan untuk berbagai keperluan dan berbagai tujuan. Setiap keperluan dan tujuan penggunaan bahasa memiliki ciri khas penggunaannya. Untuk itu, satu bahasa memiliki beragam bentuk. Penggunaan bahasa Indonesia dapat dilakukan melalui berbagai cara. Cara-cara tersebut dimiliki oleh manusia dari lahir. Namun, keterampilan menggunakan cara berbahasa dapat dipalajari dan ditingkatkan.
Ragam bahasa atau istilah lain yang digunakan oleh pakar sosiolinguistik ialah variasi ahasa. Finozza (2009:5) menjelaskan bahwa ragam bahasa merupakan variasi bahasa yang terjadi akibat penggunaan bahasa. Hal senada juga dikemukakan Kridalaksana (2008:206) ragam bahasa merupakan variasi bahasa berdasarkan pemakaiannya. Penggunaan bahasa berbeda-beda menurut topik yang sedang dibicarakan, menurut hubungan penuturnya, lawan tuturnya, dan segala hal termasuk orang yang dibicarakan. Begitu juga dengan menurut medium pembicaraan. Semua hal itu berbeda satu sama lain. Pandangan Kridalaksana tersebut menegaskan bahwa ragam bahasa harus memperhatikan dalam konteks apa bahasa itu digunakan, misalnya bahasa orang yang sedang di lapangan sepak bola berbeda dengan bahasa orang yang sedang di ruang tunggu pesawat. Lebih jauh diketahui, gaya tuturan seseorang yang sedang di lapangan bola intonasinya tinggi bila dibandingkan dengan seseorang yang berada di ruang tunggu pesawat.
Sementara itu, ragam bahasa berimplikasi pula dengan topik pembicaraan dan siapa lawan bicara, karena hal itu ada keterkaitannya dengan pemilihan diksi bahasa yang digunakan. Misalnya, seorang anak ketika berbicara dengan orang tuanya akan memilih bahasa yang lebih sopan bila dibandingkan seorang anak yang berbicara dengan teman sebayanya. Demikian pula, seorang mahasiswa ketika berbicara dengan dosennya akan menentukan bahasa yang dipilihnya. Hal itu berbeda dengan gaya bahasa ketika ia berbicara dengan rekan mahasiswanya. Peristiwa tersebut yang disebut sebagai konsep keberagaman bahasa.
Pandangan di atas dapat disejajarakan dengan apa yang dikemukan oleh Lauder, dkk. (2005 : 47) bahwa konsep tentang keberagaman bahasa menjadi fokus pembicaraan ketika linguis mengaitkan bahasa dengan aspek kemasyarakatan. Bahasa dapat ditinjau sebagai media komunikasi yang selalu berubah-ubah, yang menyesuaikan aspek sosial menggunanya (the users) dan penggunaannya (the uses). Setidaknya keberagaman bahasa dilihat dari dua sisi, yaitu: sisi keberagaman menurut pemakainya dan sisi keberagaman bahasa menurut pemakaiannya.
Berbeda dengan laras bahasa laras sebagai adalah variasi bahasa yang berlainan berdasarkan fungsi. Laras akan senantiasa berubah mengikut situasi. Dia telah membuat penjenisan laras kepada tiga kategori yaitu: (1) tajuk wacana (field of discourse), (2) cara penyampaian wacana (mode of discourse); dan (3) gaya wacana (style of discourse). (Halliday (1968)
Menurut Nik Safiah Karim (1989), kajian terhadap laras bahasa perlu mempertimbangkan dua factor, yaitu: (1) ciri keperihalan peristiwa bahasa; dan (2) ciri linguistik yang wujud. Ciri keperihalan pula dibagidua aspek, yaitu situasi luaran dan situasi persekitaran. Setiap laras memiliki cirinya sendiri dan memiliki gaya tersendiri. Setiap laras dapat disampaikan secara lisan atau tulis dan dalam bentuk standar, semi standar, atau nonstandar.
Jadi perbedaan konsep Ragam bahasa adalah variasi penggunaan bahasa tergantung dari topik yang sedang di bicarakan dengan kawan bicara maupun pada saat situasi resmi. Sedangkan laras bahasa adalah kesesuaian bahasa dan fungsi pemakainya.
A. Ragam Bahasa
1. Defenisi Ragam Bahasa
Ragam bahasa atau istilah lain yang digunakan oleh pakar sosiolinguistik ialah variasi bahasa. Finozza (2009:5) menjelaskan bahwa ragam bahasa merupakan variasi bahasa yang terjadi akibat penggunaan bahasa. Hal senada juga dikemukakan Kridalaksana (2008:206) ragam bahasa merupakan variasi bahasa berdasarkan pemakaiannya. Penggunaan bahasa berbeda-beda menurut topik yang sedang dibicarakan, menurut hubungan penuturnya, lawan tuturnya, dan segala hal termasuk orang yang dibicarakan. Begitu juga dengan menurut medium pembicaraan. Semua hal itu berbeda satu sama lain.
Menurut (Bachman, 1990), Ragam Bahasa merupakan variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta menurut medium pembicara.Seiring dengan perkembangan zaman yang sekarang ini banyak masyarakat yang mengalami perubahan. Bahasa pun juga mengalami perubahan. Perubahan itu berupa variasi-variasi bahasa yang dipakai sesuai keperluannya.
Agar banyaknya variasi tidak mengurangi fungsi bahasa sebagai alat komunikasi yang efisien, dalam bahasa timbul mekanisme untuk memilih variasi tertentu yang cocok untuk keperluan tertentu yang disebut ragam standar (Subarianto, 2000). Menurut Dendy Sugono (1999: 9), bahwa sehubungan dengan pemakaian bahasa Indonesia, timbul dua masalah pokok, yaitu masalah penggunaan bahasa baku dan tak baku.
Dalam situasi resmi, seperti di sekolah, di kantor, atau di dalam pertemuan resmi digunakan bahasa baku. Sebaliknya dalam situasi tak resmi, seperti di rumah, di taman, di pasar, kita tidak dituntut menggunakan bahasa baku.
Penyebab Adanya Ragam Bahasa
Penyebab-penyebab adanya ragam bahasa Ragam bahasa disebabkan oleh tiga hal yaitu :
1. Perbedaan wilayah
Setiap daerah mempunyai perbedaan kultur atau daerah hidup yang berbeda seperti wilayah Jawa dan Papua dan beberapa wilayah Indonesia lainnya
2. Perbedaan demografi
Setiap daerah memiliki dataran yang berbeda seperti wilayah di daerah pantai, pegunungan yang biasanya cenderung mengunakan bahasa yang singkat jelas dan dengan intonasi volume suara yang besar. Berbeda dengan pada pemukiman padat penduduk yang menggunakan bahasa lisan yang panjang lebar dikarenakan lokasinya yang saling berdekatan dengan intonasi volume suara yang kecil.
3. Perbedaan adat istiadat
Setiap daerah mempunyai kebiasaan dan bahasa nenek moyang senderi sendiri dan berbeda beda.
1. Klasifikasi Ragam Bahasa dari berbagai Aspek
Terdapat berbagai jenis klasifikasi ragam bahasa, sebagai contoh antara lain:
• Berdasarkan pokok pembicaraan:
• Ragam bahasa undang-undang
• Ragam bahasa jurnalistik
• Ragam bahasa ilmiah
• Ragam bahasa sastra
• Berdasarkan media pembicaraan:
• Ragam lisan yang antara lain meliputi:
• Ragam bahasa cakapan
• Ragam bahasa pidato
• Ragam bahasa kuliah
• Ragam bahasa panggung
• Ragam tulis yang antara lain meliputi:
• Ragam bahasa teknis
• Ragam bahasa undang-undang
• Ragam bahasa catatan
• Ragam bahasa surat
• Berdasarkan hubungan sosial antarpembicara:
• Ragam bahasa resmi
• Ragam bahasa akrab
• Ragam bahasa agak resmi
• Ragam bahasa santai
• dan sebagainya.
• Macam-Macam Ragam Bahasa
Bila ditinjau dari media atau sarana yang digunakan untuk menghasilkan bahasa, ragam bahasa dibagi menjadi: (1) ragam bahasa lisan; (2) ragam bahasa tulis.
Bahasa yang dihasilkan melalui alat ucap (organ of speech) dengan fonem sebagai unsur dasar dinamakan ragam bahasa lisan, sedangkan bahasa yang dihasilkan dengan memanfaatkan tulisan dengan huruf sebagai unsur dasarnya, dinamakan ragam bahasa tulis. Jadi, dalam ragam bahasa lisan kita berurusan dengan lafal, dalam ragam bahasa tulis kita berurusan dengan tata cara penulisan atau ejaan. Selain itu aspek tata bahasa dan kosa kata dalam kedua jenis ragam itu memiliki hubungan yang erat. Ragam bahasa tulis yang unsur dasarnya huruf, melambangkan ragam bahasa lisan. Oleh karena itu, sering timbul kesan bahwa ragam bahasa lisan dan tulis itu sama. Padahal, kedua jenis ragam bahasa itu berkembang menjadi sistem bahasa yang memiliki seperangkat kaidah yang tidak identik benar walau ada pula kesamaannya. Meskipun ada keberimpitan aspek tata bahasa dan kosa kata, masing-masing memiliki seperangkat kaidah yang berbeda satu dari yang lain.
Contoh:
1. Ragam bahasa lisan.
• Zahra sedang baca surat kabar.
• Aqis mau nulis
• Tapi kau tak boleh nolak lamaran itu.
• Mereka tinggal di Mampang Prapatan.
• Jalan layang itu untuk mengatasi kemacetan lalu lintas.
• Saya akan tanyakan soal itu .
1. Ragam bahasa tulis.
• Zahra sedang membaca surat kabar.
• Aqis mau menulis
• Namun, engkau tidak boleh menolak lamaran itu.
• Mereka bertempat tinggal di Mampang Prapatan.
• Jalan layang itu dibangun untuk mengatasi kemacetan lalu lintas.
• Akan saya tanyakan soal itu.
Perbedaan ragam bahasa lisan dan ragam bahasa tulis dapat dilihat pada berikut ini.
Tabel 1
Perbedaan ragam bahasa lisan dan ragam bahasa tulis
No. | Ragam bahasa lisan | Ragam bahasa tulis |
1 | Tidak baku | Ragam ini menekankan penggunaan ragam bahasa baku, ejaan yang baku (sesuai PUEBI) |
2 | Kosakata lebih menekankan pilihan kata yang tidak baku. Contoh: a. Bini Pak Camat bina ibu-ibu bikin kerajinan dari bambu. b. Fadhil sedang bikin skripsi. | Kosakata menekankan pilihan kata baku. Contoh: a. Istri Pak Camat membina ibu-ibu memproduksi kerajinan tangan dari bambu. b. Fadhil sedang membuat skripsi. |
3 | Bentuk kata bahasa lisan cenderung tidak menggunakan imbuhan (awalan, akhiran). Contoh: a. Fadhil sedang tulis skripsi. b. Zahra sedang masak nasi. | Bentuk kata bahasa tulis berimbuhan. Contoh: a. Fadhil sedang menulis skripsi. b. Zahra sedang memasak nasi. |
4 | Kalimat cenderung tanpa unsur yang lengkap (tanpa subjek, predikat, atau objek). Kejelasan kalimat dipengaruhi oleh unsur-unsur situasi ketika kalimat tersebut diucapkan. Isi kalimat dapat dimengerti tetapi struktur kalimatnya salah. Misalnya, berupa anak kalimat, gabungan anak kalimat, tanpa subjek, dan tanpa predikat (objek). Contoh: a. Di sini akan membicarakan pertumbuhan ekonomi 2019. b. Untuk TKI yang akan dikirim ke luar negeri harus memiliki paspor. c. Di Jakarta memiliki Pusat Bahasa. | Kalimat dalam ragam bahasa tulis lengkap secara gramatikal. Contoh: a. Dalam seminar ini kita akan mengkaji pertumbuhan ekonomi 2019. b. TKI yang dikirim ke luar negeri harus memiliki paspor. c. Jakarta memiliki Pusat Bahasa. |
Ragam bahasa lisan adalah bahasa yang diujarkan oleh pemakai bahasa. Kita dapat menemukan ragam lisan yang standar, misalnya pada saat orang berpidato atau memberi sambutan, dalam situasi perkuliahan, ceramah; dan ragam lisan yang nonstandar, misalnya dalam percakapan antarteman, di pasar, atau dalam kesempatan nonformal lainnya. Ragam bahasa tulis adalah bahasa yang ditulis atau yang tercetak. Ragam tulis pun dapat berupa ragam tulis yang standar maupun nonstandar. Ragam tulis yang standar kita temukan dalam buku-buku pelajaran, teks, majalah, surat kabar, poster, iklan. Kita juga dapat menemukan ragam tulis nonstandar dalam majalah remaja, iklan, atau poster.
B. Ragam Bahasa Berdasarkan Latar Belakang Penutur
Berdasarkan latar belakang penutur, kita mengenal ragam daerah atau dialek yang berkaitan dengan asal penutur, ragam terpelajar dan tak terpelajar yang berkaitan dengan tingkat pendidikan penutur, serta ragam resmi dan tak resmi berkaitan dengan sikap penutur.
1. Ragam Dialek atau Ragam Daerah
Ragam dialek atau ragam daerah akan mencerminkan asal penutur. Beberapa kelompok suku bangsa di Indonesia memiliki kekhasan berujar. Orang Batak biasanya memiliki kesulitan untuk mengujarkan bunyi e pepet atau [∂]. Mereka melafalkan bunyi e pepet atau [∂] menjadi bunyi e taling atau [ӗ]. Contoh: kata /b∂b∂rapa/ dilafalkan menjadi /bӗbӗrapa/, kata /b∂k∂rja/ dilafalkan menjadi /bӗkӗrja/. Lain halnya dengan orang Jawa, mereka sering mengucapkan kata yang berawalan “b” seperti Bandung, Bali, dan Bantul akan dilafalkan dengan penambahan bunyi sengau “m” sehingga terdengar di telinga ucapan /mBandung/, /mBali/, dan /mBantul/. Bunyi-bunyi berat seperti bunyi [b], [d], dan [j] akan terdengar diucapkan /bh/, /dh/, dan /jh/. Contoh: /bhawa/, /dhudhuk/, dan /jhadhi/.
Ragam dialek juga dapat dikenali melalui penambahan kata tertentu yang biasa dikenal dalam bahasa asal mereka. Penambahan kata “orang” atau “sendiri” pada satu ujaran, misalnya “Orang saya lagi kerja diganggu”, “Orang dia baru datang”. Penambahan kata “orang” pada ujaran itu alih-alih kata “wong” dalam bahasa Jawa. Gejala ini memang tampak pada bahasa Indonesia dialek Jawa.
1. Ragam Terpelajar dan Tak Terpelajar
Ragam terpelajar dan tak terpelajar didasarkan pada tingkat pendidikan penutur. Ragam terpelajar dibedakan dengan ragam tak terpelajar. Penutur yang memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi relatif akan lebih terlatih dalam berbahasa dibandingkan dengan penutur yang tingkat pendidikannya lebih rendah. Hal ini disebabkan besarnya peluang penutur pendidikan lebih tinggi untuk belajar dan berlatih bahasa.
Terpelajar tidaknya penutur itu tampak dalam ujaran dan strukturnya. Ragam terpelajar, antara lain dapat dilihat dari terpenuhinya kaidah pemakaian bahasa baik yang menyangkut struktur yang benar maupun ujaran atau lafal yang benar. Ragam terpelajar, misalnya tampak pada cara ujaran yang mencerminkan kelengkapan bunyi bahasa yang didaftarkan dalam tata bunyi sebagaimana yang tertuang dalam Pedoman Umum Ejaan yang Disempurnakan.
Untuk lebih jelasnya, perhatikan tabel berikut.
Tabel 2
Cara Pelafalan Kata antara Ragam Terpelajar dan Ragam Tak Terpelajar
Ragam Terpelajar | Ragam Tak Terpelajar |
/mufakat/ | /mupakat/ |
/tafsir/ | /tapsir/ |
/fasilitas/ | /pasilitas/ |
/vokal/ | /pokal/ |
/pabrik/ | /tabrik/ |
/fungsi/ | /pungsi/ |
/kompleks/ | /komplek/ |
/vitamin ce/ | /pitamin se/ |
Bentuk kata juga dapat dijadikan ciri ragam terpelajar dan tak terpelajar. Contohnya terlihat pada tabel.
Tabel 3
Bentuk Kata antara Ragam Terpelajar dan Ragam Tak Terpelajar
Ragam Terpelajar | Ragam Tak Terpelajar |
mencari | nyari |
membukakan | bukain |
menyetor | nyetor |
membawakan | bawain |
Dari contoh di atas dapat dilihat perbedaan, bahwa ragam terpelajar lebih terpelihara dalam hal kaidah, sedangkan ragam tak terpelajar kurang Memperhatikan kaidah, baik menyangkut pilihan kata dan bentuk kata, maupun kelengkapan kalimat dan kelengkapan pelafalannya.
Dalam penggunaan ragam bahasa baku tulis makna kalimat yang diungkapkannya tidak ditunjang oleh situasi pemakaian, sedangkan ragam bahasa baku lisan makna kalimat yang diungkapkannya ditunjang oleh situasi pemakaian sehingga kemungkinan besar terjadi pelesapan unsur kalimat. Oleh karena itu, dalam penggunaan ragam bahasa baku tulis diperlukan kecermatan dan ketepatan di dalam pemilihan kata, penerapan kaidah ejaan, struktur bentuk kata dan struktur kalimat, serta kelengkapan unsur-unsur bahasa di dalam struktur kalimat.
1. Ragam Resmi dan Ragam Tak Resmi
Ragam resmi adalah bahasa yang digunakan dalam situasi resmi, seperti pertemuan-pertemuan, peraturan-peraturan, dan undangan-undangan. Ciri-ciri ragam bahasa resmi: 1) menggunakan unsur gramatikal secara eksplisit dan konsisten; 2) menggunakan imbuhan secara lengkap; 3) menggunakan kata ganti resmi; 4) menggunakan kata baku; 5) menggunakan EYD/EBI; dan 6) menghindari unsur kedaerahan.
Ragam tak resmi adalah bahasa yang digunakan dalam situasi tak resmi, seperti dalam pergaulan, dan percakapan pribadi, seperti dalam pergaulan, dan percakapan pribadi (Keraf, 1991: 6). Ciri- ciri ragam bahasa tidak resmi kebalikan dari ragam bahasa resmi. Ragam bahasa tidak resmi ini digunakan ketika kita berada dalam situasi yang tidak normal. Ragam bahasa resmi atau tak resmi ditentukan oleh tingkat keformalan bahasa yang digunakan. Semakin tinggi tingkat kebakuan suatu bahasa, berarti semakin resmi bahas yang digunakan. Sebaliknya semakin rendah pula tingkat keformalannya, makin rendah pula tingkat kebakuan bahasa yang digunakan (Sugono, 1998:12-13). Contoh: Bahasa yang digunakan oleh bawahan kepada atasan adalah bahas resmi sedangkan bahasa yang digunakan oleh anak muda adalah ragam bahasa santai/tak resmi.
1. Ragam Bahasa Standar, Semi Standar, dan Nonstandard
Bahasa ragam standar memiliki sifat kemantapan berupa kaidah dan aturan tetap. Akan tetapi, kemantapan itu tidak bersifat kaku. Ragam standar tetap luwes sehingga memungkinkan perubahan di bidang kosa kata, peristilahan, serta mengizinkan perkembangan berbagai jenis laras yang diperlukan dalam kehidupan modern (Alwi, 1998: 14).
Pembedaan antara ragam standar, nonstandar, dan semi standar dilakukan berdasarkan: (a) topik yang sedang dibahas; (b) hubungan antarpembicara; (c) medium yang digunakan; (d) lingkungan; atau (e) situasi saat pembicaraan terjadi.
Ciri yang membedakan antara ragam standar, semi standar dan nonstandar adalah: (a) penggunaan kata sapaan dan kata ganti; (b) penggunaan kata tertentu; (c) penggunaan imbuhan; (d) penggunaan kata sambung (konjungsi); dan (e) penggunaan fungsi yang lengkap.
Penggunaan kata sapaan dan kata ganti merupakan ciri pembeda ragam standar dan ragam nonstandar yang sangat menonjol. Kepada orang yang kita hormati, kita akan cenderung menyapa dengan menggunakan kata Bapak, Ibu, Saudara, Anda. Jika kita menyebut diri kita, dalam ragam standar kita akan menggunakan kata saya atau aku. Dalam ragam nonstandar, kita akan menggunakan kata gue. Penggunaan kata tertentu merupakan ciri lain yang sangat menandai perbedaan ragam standar dan ragam nonstandar. Dalam ragam standar, digunakan kata-kata yang merupakan bentuk baku atau istilah dan bidang ilmu tertentu. Penggunaan imbuhan adalah ciri lain. Dalam ragam standar, kita harus menggunakan imbuhan secara jelas dan teliti. Penggunaan kata sambung (konjungsi) dan kata depan (preposisi) merupakan ciri pembeda lain. Dalam ragam nonstandar, sering kali kata sambung dan kata depan dihilangkan. Kadang kala, kenyataan ini mengganggu kejelasan kalimat.
Contoh:
(1) Ayah mengatakan, kita akan pergi besok.
(1a) Ayah mengatakan bahwa kita akan pergi besok.
Pada contoh (1) merupakan ragam semi standar, dan pada contoh (1a) merupakan ragam standar.
Contoh:
(2) Mereka bekerja keras menyelesaikan pekerjaan itu.
(2a) Mereka bekerja keras untuk menyelesaikan pekerjaan itu.
Pada contoh (2) merupakan ragam semi standar, dan pada contoh (2a) merupakan ragam standar.
Kalimat (1) kehilangan kata sambung bahwa, sedangkan kalimat (2) kehilangan kata depan untuk. Dalam laras jurnalistik kedua kata ini sering dihilangkan. Hal ini menunjukkan bahwa laras jurnalistik termasuk ragam semi standar.
Kelengkapan fungsi merupakan ciri terakhir yang membedakan ragam standar dan nonstandar. Artinya, ada bagian dalam kalimat yang dihilangkan karena situasi sudah dianggap cukup mendukung pengertian. Dalam kalimat-kalimat yang nonstandar itu, predikat kalimat dihilangkan. Seringkali pelesapan fungsi terjadi jika kita menjawab pertanyaan orang. Misalnya, “Hai, Ida, mau ke mana?” “Pulang.” Sering kali juga kita menjawab “tau” untuk menyatakan ‘tidak tahu’. Pembedaan lain yang juga muncul tetapi tidak disebutkan di atas adalah intonasi. Masalahnya, pembeda intonasi ini hanya ditemukan dalam ragam lisan dan tidak terwujud dalam ragam tulis.
A. Laras Bahasa
1. Pengertian Laras Bahasa
Laras bahasa adalah ragam bahasa yang digunakan untuk suatu tujuan atau pada konteks sosial tertentu. Banyak sekali laras bahasa yang dapat diidentifikasi tanpa batasan yang jelas. Definisi laras bahasa menurut beberapa ahli linguistik, diantaranya Ure dan Ellis (1977) menganggap laras bahasa sebagai pola bahasa yang lazim digunakan mengikuti keadaan tertentu. Hal ini bermakna, sesuatu situasi akan menentukan bentuk bahasa yang digunakan oleh pengguna bahasa itu dan pemilihannya berdasarkan konvensi sosial masing-masing. Menurut Reid (1956) menyatakan seorang penutur dalam situasi berbeda-beda akan menggunakan laras mengikut situasi sosial yang berlainan yaitu istilah teknik untuk menyatakan perlakuan bahasa (linguistic behavior) seseorang individu.
Halliday (1968) menyebut bahwa laras sebagai variasi bahasa yang berlainan berdasarkan fungsi. Laras akan senantiasa berubah mengikut situasi. Dia telah membuat penjenisan laras kepada tiga kategori yaitu: (1) tajuk wacana (field of discourse), (2) cara penyampaian wacana (mode of discourse); dan (3) gaya wacana (style of discourse). Sedang Joos (1961) membagi lima laras bahasa menurut derajat keformalannya,
Jadi laras bahasa adalah” kesesuaian antara bahasa dan fungsi pemakaiannya. Laras bahasa terkait langsung dengan selingkung bidang (home style) dan keilmuan, sehingga dikenallah laras bahasa ilmiah dengan bagian sub-sublarasnya.
Perbedaan diantara sub-sublaras bahasa seperti dalam laras ilmiah itu dapat diamati dari :
• penggunaan kosakata dan bentukan kata,
• penyusunan frasa, klausa, dan kalimat,
• penggunaan istilah
• pembentukan paragraph,
• penampilan halteknis,
• penampilan kekhasan dalam wacana.
1. Klasifikasi Laras Bahasa
Definisi dan kategorisasi laras bahasa pun berbeda antara para ahli linguistik. Salah satu model pembagian laras bahasa yang paling terkemuka diajukan oleh Joos (1961) yang membagi lima laras bahasa menurut derajat keformalannya, yaitu ialah:
1. beku (frozen)
2. resmi (formal)
3. konsultatif (consultative)
4. santai (casual)
5. akrab (intimate).
Laras bahasa dapat digolongkan kepada dua golongan besar, yaitu laras biasa dan laras khusus. Laras biasa ialah laras khusus yang digunakan untuk masyarakat umum seperti bidang hiburan (laporan, berita ), pengetahuan dan peneranagan (rencana), pesan/ amanah dan promosi ( iklan ).
Laras khusus juga merujuk kepada kegunaan untuk khalayak khusus seperti ahli-ahli atau peminat dalam bidang tertentu dan pelajar-pelajar (perencanaan, laporan, buku).
Pembeda utama yang membedakan antara laras biasa dengan laras khsus ialah:
• Kosa kata
• Tata bahasa
• Gaya
1. Macam-macam Laras Bahasa
Pada saat digunakan sebagai alat komunikasi, bahasa masuk dalam berbagai laras sesuai dengan fung-si pemakaiannya. Jadi, laras bahasa adalah kesesuaian antara bahasa dan pemakaiannya.
Dalam hal ini kita mengenal iklan, laras ilmiah, laras ilmiah populer, laras feature, laras komik, laras sastra. Jadi, laras bahasa adalah ragam bahasa yang digunakan untuk suatu tujuan atau pada konteks sosial tertentu.
Banyak sekali laras bahasa yang dapat diidentifikasi tanpa batasan yang jelas di antara mereka. Definisi dan kategorisasi laras bahasa pun berbeda antara para ahli linguistik.
1. Laras Bahasa Biasa
Tidak melibatkan bidang tertentu, mudah difahami, tidak ada istilah teknikal, kurang kata pinjaman.
Laras biasa ialah laras bahasa yang yang digunakan untuk khalayak umum tentang berbagai bidang seperti bidang hiburan (laporan, berita), pengetahuan dan penerangan (rencana) dan pesan/ maklumat/ promosi ( iklan).
Laras Bahasa Perniagaan Mempengaruhi penguna untuk membentuk tanggapan tertentu, atau mengubah sikap dan melakukan tindkan.Digunakan dalam iklan, tender, laporan dan sebagainya , didukung pula dengan gambar, lukisan, grafik, ilustrasi dan sebagainya.
Iklan dapat dihasilkan dengan beberapa cara seperti berikut:
• Slogan: Kami Ada Cara
• Kaedah Pernyataan: Rumah Untuk Dijual/Disewa
• Perkaitan Konsep: Artis X dengan Tilam Jenama Y
• Perisytihran: Waja dengan Aksesori Lengkap
• Kaedah Umpan: Beli Satu, Percuma Satu
• Mesra: Keutamaan Kami Adalah Pelanggan.
• Bandingan: Bateri X Lebih Berkuasa dan Tahan Lama
• Kesan: Cepat! Cepat! Datanglah Beramai-ramai
• Pertanyaan: Sakit Pinggang? Sapulah Dengan Minyak Angin Z.
2. Laras Bahasa Akademik
Meliputi pelbagai bidang seperti sains, teknologi, komunikasi, matematik dan sebagainya yang terletak dalam ruang lingkup pendidikan.
Dalam penulisan ilmiah, misalnya penulisan thesis, penulis perlu mengikut formatif tertentu seperti perlu ada cattan bibiliografi (rujukan), nota kaki di bawah muka surat atau nota hujungan di penghujung setiap bab.
Menggunakan istilah-istilah yang khusus kepada bidang, dan biasanya perlu dihafal. Contohnya ialah fotosintesis, pecutan, mengawan, pendebungaan dan sebagainya.
3. Laras Bahasa Undang-Undang
Tidak ada gambar, grafik, metafora, simili, peribahasa, kiasan dan sebagainya. Mempunyai istilah sendiri seperti Argumantum ad baculum, habeas corpus dan sebagainya.
4. Laras Bahasa Media
Berita sebagai satu wacana mempunyai struktur teks yang tersendiri, tidak sama dengan struktur teks cereka, struktur teks esei dan karya ilmiah. Wartawan atau pengarang besar menggunakan bahasa untuk menjelaskan sesuatu menurut cara yang paling mudah diterima oleh masyarakat umum.
Tiga ciri penting yang harus ada dalam berita yang penting yaitu :
Pertama, bahasa yang digunakan mudah. kedua, gaya tulisan yang jelas dan ketiga, isi tulisan harus benar/ tepat. Karena berita akan dibaca oleh orang banyak/ masyarakat umum, maka bahasa media harus bahasa yang bisa diterima oleh yang mudah dipahami atau dimengerti.
Kalimat yang panjang, mengandungi beberapa klaausa, menggunakan petikan, metafora, kiasan, istilah teknik, dan sebagainya harus dihindari.
5. Laras Bahasa Sastra
Memperlihatkan gaya bahasa yang menarik dan kreatif. Bahasanya boleh dalam bentuk naratif, deskriptif, preskriptif, dramatik dan puitis.
Beberapa ciri bahasa sastra:
• Kreatif dan imaginatif.
• Mementingkan penyusunan, pengulangan, pemilihan kata.
• Puitis dan hidup: monolog, dialog, bunga-bunga bahasadan sebagainya.
• Menggunakan bahasa tersirat: perlambangan, kisan, perbandingan, peribahasa, metafora, simile, personifikasi, ilusi, ambiguiti dan sebagainya.
• Terdapat penyimpangan tata bahasa atau manipulasi bahasa.
6. Laras Bahasa Agama
Mengandungi istilah agama dari pada bahasa Arab Struktur ayatnya banyak dipengaruhi struktur bahasa Arab diselipkan dengan petikan dari pada Al-Quran dan Hadis.
7. Laras llmiah
Sebuah karya tulis ilmiah merupakan hasil rangkaian gagasan yang merupakan hasil pemikiran, fakta, peristiwa, gejala, dan pendapat.
Jadi, seorang penulis karya ilmiah menyusun kembali pelbagai bahan informasi menjadi sebuah karangan yang utuh. Oleh sebab itu, penyusun atau pembuat karya ilmiah tidak disebut pengarang melainkan disebut penulis (Soeseno, 1981: 1).
Dalam uraian di atas dibedakan antara pengertian realitas dan fakta. Seorang pengarang akan merangkaikan realita kehidupan dalam sebuah cerita, sedangkan seorang penulis akan merangkaikan berbagai fakta dalam sebuah tulisan. Realistis berarti bahwa peristiwa yang diceritakan merupakan hal yang benar dan dapat dengan mudah dibuktikan kebenarannya, tetapi tidak secara langsung dialami oleh penulis. Data realistis dapat berasal dan dokumen, surat keterangan, press release, surat kabar atau sumber bacaan lain, bahkan suatu peristiwa faktual. Faktual berarti bahwa rangkaian peristiwa atau percobaan yang diceritakan benar-benar dilihat, dirasakan, dan dialami oleh penulis (Marahimin, 1994: 378).
Karya ilmiah memiliki tujuan dan khalayak sasaran yang jelas. Meskipun demikian, dalam karya ilmiah, aspek komunikasi tetap memegang peranan utama. Oleh karenanya, berbagai kemungkinan untuk penyampaian yang komunikatif tetap harus dipikirkan. Penulisan karya ilmiah bukan hanya untuk mengekspresikan pikiran tetapi untuk menyampaikan hasil penelitian. Kita harus dapat meyakinkan pembaca akan kebenaran hasil yang kita temukan di lapangan. Dapat pula, kita menumbangkan sebuah teori berdasarkan hasil penelitian kita. Jadi, sebuah karya ilmiah tetap harus dapat secara jelas menyampaikan pesan kepada pembacanya.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Ragam Bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta menurut medium pembicara. Dalam konteks ini ragam bahasa meliputi bahasa lisan dan bahasa baku tulis.
Pada ragam bahasa baku tulis diharapkan para penulis mampu menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar serta menggunakan Ejaan bahasa yang telah Disempurnakan (EYD) atau Ejaan Bahasa Indonesia (EBI), sedangkan untuk ragam bahasa lisan diharapkan para warga negara Indonesia mampu mengucapkan dan memakai bahasa Indonesia dengan baik serta bertutur kata sopan sebagaimana pedoman yang ada.
Bahasa Indonesia yang baik adalah bahasa indonesia yang digunakan sesuai dengan sikon dan siapa teman bicara. Bahsa Indonesia yang benar adalah yang digunakan sesuai dengan kaidah/norma bahasa (diksi, ejaan, struktur). Bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah Bahasa indonesia yang yang baku.
Berbahasa Indonesia yang BAIK dan BENAR Bahasa Indonesia: BAIK nilai rasa tepat sesuai konteks situasi pemakaiannya BENAR menerapkan kaidah dengan konsisten.
B. Keterbatasan paparan makalah.
Dalam penulisan ini pemkalah menyadari banyak keterbatasan yang dimiliki pemakalah baik itu pemahaman materi dan buku rujukan yang dijadikan isi pembahsan dalam materi tersebut. Untuk itu kesempurnaan hanyalah milik Allah, atas kekurangannya saya mohon maaf.
Daftar Pustaka
Ridha Hasnul Ulya, M.Pd. Dra. Erni, M.Pd. Drs. Herwandi, M.Pd” Bahasa Indonesia: Dua Dalam Satu Dunia” Padang 2009. Penerbit: Suka Bina Press
Misbah Priagung Nursalim, S.S., M.Pd., Aryani, M.Pd., Eti Hayati, S.Pd., M.Pd “Bahasa Indonesia” Banten 2020. UNPAM Press.
http://dosen.stie-alanwar.ac.id/read/supriyadi/2017/09/15/36/RAGAM_DAN_LARAS_BAHASA
https://winarialubis.wordpress.com/2020/03/24/ragam-dan-laras-bahasa-indonesia/
https://makalahkumakalahmu.wordpress.com/2009/03/11/ragam-dan-laras-bahasa/
https://www.qoroa.id/2020/02/makalah-ragam-dan-laras-bahasa-indonesia.html
https://ikatandinas.com/laras-bahasa/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar