BAB I
INTRODUCTION
\ Ciri essential dari Dissociative Disorders adalah suatu gangguan pada fungsi gabungan dari kesadaran, memori, identitas atau persepsi.
Pada bagian akan di bahas empat ganguan disosiatif : amnesia disosiatif yaitu hilangnya memori setelah kejadian yang penuh stress, fugue disosiatif yaitu hilangnya memori yang disertai dengan meninggalkan rumah dan menciptakan identitas baru. Gangguan identitas disosiatif ( sebelumnya disebut gangguan kepribadian ganda) yaitu minimal dua kondisi ego yang berbeda-berganti- yang satu sama lain bertindak bebas, dan gangguan depersonalisasi yaitu mengalami bahwa dirinya berganti, atau merasa orang lain bukan dirinya.
Dissociative Disorder Not Otherwise Specified adalah termasuk dalam gangguan coding yang mana ciri utama adalah suatu symptom disosiatif, tetapi tidak bertemu dengan criteria yang spesifik dari gangguan disosiatif.
Dissociative Amnesia (amnesia disosiatif)
Seseorang yang menderita amnesia disosiatif tidak mampu mengingat informasi pribadi yang penting, biasanya setelah suatu episode yang penuh stress, itu terlalu luas untuk bisa dijelaskan dengan kelupaan biasa (Criterion A). Gangguan ini meliputi kerusakan ingatan yang mana ingatan pengalaman pribadi tidak dapat dimunculkan kembali dalam bentuk verbal. Gangguan tidak terjadi semata-mata selama bagian dari Dissociative Stress Disorder, atau Somatization Disorder, Acute Stress Disorder,atau Somatization Disorder dan bukan hak untuk pengaruh psikologikal secara langsung dari suatu hakekat atau suatu neurological atau kondisi umum medical yang lain.(Criterion B). Gejala harus disebabkan clinical distress yang signifikan atau perusakan dalam sosial, pekerjaan, atau area penting lainnya dari fungsi (Criterion C).
Beberapa tipe dari gangguan dari memori dijelaskan dalam Dissociative Amnesia. Dalam, localized amnesia, individu gagal untuk mengingat kejadian yang terjadi selama periode waktu yang terbatas, biasanya pada beberapa jam pertama di ikuti sutu kejadian yang sangat mengganggu. Dalam selective amnesia, seseorang bisa mengingat beberapa, tetapi tidak keseluruhan, dari kejadian selama periode waktu yang terbatas. Tiga jenis dari amnesia-generalized, continuous, dan systematized- adalah kurang bersamaan. Dalam generalized amnesia , kegagalan mengingat mencakup seluruh kehidupan seseorang. Continuous amnesia didefenisikan sebagai ketidakmampuan mengingat kejadian berikutnya untuk waktu yang spesifik dan termasuk sekarang. Systematized amnesia adalah kehilangan ingatan kategori pusat informasi seperti semua memori hubungan dengan salah satu keluarga atau seseorang yang khusus.
Associated Features and Disorders
Associated descriptive features and mental disorder. Beberapa individu dengan amnesia disosiatif laporan gejala depresif, kegelisahan,depersonalisasi, trance states, tanpa sakit, dan kemunduran usia secara spontan. Mereka mungkin menyediakan kira-kira jawaban yang tidak akurat terhadap jawaban sebagai syndrome Ganser.
Associated laboratory findings. Individu dengan amnesia dissoaktif sering menunjukkan hipnosizabiliti tinggi sebagai ukuran tes yang standar.
Specific Age Features
Amnesia Dissosiatif adalah terutama sulit untuk menilai anak-anak remaja, karena mungkin menjadi keliru dengan kurang perhatian, kegelisahan, perilaku berlawanan, gangguan belajar, psychotic disturbances, dan developmentally appropriate childhood amnesia.
Prevance
Dalam tahun-tahun belakangan, ada pertambahan laporan kasus amnesia dissosiatif yang meliputi trauma awal pada anak-anak sebelumnya. Pertambahan ini menjadi subjek interpretasi yang sangat berbeda. Kontras, yang lain percaya bahwa menjadi syndrome diagnose berlebihan dalam individu yang sangat mudah dipengaruhi.
Course
Amnesia Dissosiatif dapat sekarang ini dalam beberapa grup usia, dari anak-anak sampai dewasa. Manifestasi utama dalam kebanyakan individu adalah suatu celah yang berhubungan dengan waktu dahulu dalam memori. Durasi laporan dari beberapa kejadian yang mungkin amnesia beberapa menit atau tahunan. Hanya satu episode dari amnesia yang dilaporkan, meskipun dua atau lebih episode juga sering dijelaskan.
Fitur yang paling mendasar pada dissosiatif disorder biasanya menyerang fungsi dari consciousness, memory, identity, atau persepsi. Beberapa yang termasuk dari dissosiatif disorder adalah:
Amnesia Dissosiatif
Amnesia Dissosiatif adalah hilangnya memori setelah kejadian yang penuh stress. Seseorang yang menderita amnesia dissosiatif ini tidak mampu mengingat informasi pribadi yang penting, itu biasanya terjadi setelah mengalami suatu kejadian yang penuh stress. Informasi-informasi itu tidak hilang secara permanen, tetapi tidak dapat diingat kembali saat kejadian atau episode amnesia, ini dikarenakan akibat lubang-lubang yang terdapat didalam memori terlalu lebar untuk dapat dijelaskan sebagai kelupaan biasa.
Biasanya memori yang hilang itu mencakup semua peristiwa selama kurun waktu tertentu setelah suatu kejadian traumatic, seperti melihat kematian orang yang dicintai. Selama periode amnesia perilaku orang yang mengalaminya biasa-biasa saja, kecuali jika hilangnya memori dapat menebabkan disorientasi atau berpergian tanpa tujuan. Pada kasus amnesia total seorang pasien tidak mengenali keluarga dan teman-temannya, tetapi tetap memiliki bakat dan pengetahuan tentang dunia yang telah diperoleh sebelumnya dan bagaimana dia mampu hidup didunia.
Episode amnesik dapat berlangsung selama beberapa jam atau beberapa tahun, episode tersebut biasanya hilang secara mendadak sebagaimana terjadinya. Apabila sudah terjadi kepulihan total maka hanya terdapat kemungkinan kecil untuk terjadi kembali amnesia tersebut.
Hilangya memori juga merupakan hal umum yang biasa terjadi didalan kehudupan sehari-hari, biasanya terjadi akibat gangguan otak. Amnesia dan hilangnya memori dapat yang disebabkan oleh gangguan otak dapat dibedakan menjadi dua. Dalam gangguan otak degeneratif, memori menghilang secara lambat seiring dengan berjalanya waktu, ini tidak terkait dengan stress kehidupan yang terjadi dan disertai dengan deficit kognitif lain seperti katidak mampuan untuk mempelajari informasi baru. Sedangkan hilangnya memori yang terjadi setelah cedera otak yang disebabkan trauma seperti kecelakan mobil.
Fugue Disosiatif
Fugue Disosiatif, berasal dari bahasa latin yaitu fugere yang berarti “melarikan diri” jadi Fugue Disosiatif adalah hilangnya memori yang disertai dengan meninggalkan rumah dan menciptakan identitas baru. Hilangnya memori yang terjadi didalam fugue ini ternyata lebih besar dibandingkan dalam amnesia disosiatif. Seseorang yang mengalami Fugue Disosiatif ini tidak hanya mengalami amnesia total saja namun ia bias tiba-tiba meninggalkan rumah dan bekerja dengan menggunakan identits baru. Kadangkala orang tersebut mempunyai nama baru, rumah baru, pekerjaan baru dan bahkan serangkaian karakteristik kepribadian baru. Orang tersebut bahkan dapat meraih keberhasilan dalam membentuk kehidupan social yang baru, walaupun demikian lebih sering kehidupan baru tersebut tidak terbentuk sampai sejauh itu dan fugue terjadi dalam jangka waktu yang lebih singkat.
Fugue Disosiatif umumnya terjadi setelah seseorang mengalami stress berat, seperti pertengkaran suami istri, penolakan diri, masalah keuangan atau pekerjaan, bertugas dalam peperangan, bencana alam dll. Seseorang yang mengalaminya ini memerlukan waktu yang lamanya bervariasi untuk bisa sembuh, tetapi biasanya orang yang mengalaminya ini dapat pulih secara total. Seseorang yang mengalami itu tidak dapat mengingat apa yang terjadi selama ia mengalami amnesia.
Depersonalization Disorder
Yaitu gangguan yang dimana persepsi atau pengalaman seseorang terhadap diri sendiri berubah secara menyedihkan dan mengganggu. Dalam Depersonalization Disorder, tidak terdapat gangguan memori yang merupakan cirri khusus dari gangguan disosiatif lainya. Dalam gangguan depersonalisasi yang biasanya dipicu oleh stress, individu biasanya merasa kehilangan diri mereka. Mereka mengalami gangguan sensori yang tidak seperti biasa, misalnya: ukuran tangan dan suara mereka bisa berubah bagi mereka sendiri. Mereka merasa ada di luar tubuhnya dan merasa bahwa mereka bergerak di dunia yang tidak nyata. Hal-hal seperti ini juga bisa terjadi pada skizofrenia, panic attack, posttraumatic stress disorder, dan borderline personality disorder. Biasanya gangguan ini terjadi pada masa remaja dan dalam jangka waktu yang lama. Gangguan ini juga sering terjadi seperti halnya kecemasan dan depresi.
Dissociative Identity Disorder
Menurut DSM-IV-TR, diagnosa dissociative identity disorder dapat dilakukan bila terdapat minimal dua ego yang berbeda. Biasanya akan terjadi modus yang berbeda dalam hal kendali, perasaan dan tindakan satu dengan yang lainya tidak saling mempengaruhi dan memegang kendali pada waktu yang berbeda. Kesenjangan memori juga umum terjadi karena antara satu kepribadian tidak memiliki kontak dengan yang lainya. Gangguan ini biasanya disertai dengan ssakit kepala, penyalahgunaan zat, fobia, halosinasi, upaya bunuh diri, disfungsi seksual, melukai diri sendiri dan simtom-simtom lain seperti amnesia dan depersonalisasi. Biasanya gangguan ini lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan dengan laki-laki dan biasanya berawal pada masa kanak-kanak, namun jarang didiagnosa hingga dewasa.
Berbgai Kontroversi dalam Diagnosa Gangguan Identitas Disosiatif (GID)
Meskipun GID secara resmi dikenal sebgai diagnosis karena terdaftar dalam DSM-IV-TR, namun pencamtuman diagnosis banyak mengundang berbagai kontroversi. Seperti dalam suatu survey terhadap psikolog bersertifikat, hanya sepertiga dari mereka yang tidak keberatan bahwa GID dicantumkan dalam DSM. Satu orang dalam sejuta biasanya mengalami GID.
Pada 30 tahun belakangan, kasus GID kembali muncul karena dicantumkann dalam buku DSM-III. Tetapi, seiring semakin populernya kasus skizofrenia, diagnosa GID mulai salah didiagnosis sebagai skizofrenia. Factor lainya yang relevan dengan peningkatan GID adalah kasus Sybil pada tahun 1973 yang menampilkan 16 kepribadian. Karena kasus ini, banyak psikolog yang mengarahkan pasienya menderita GID. Terapi yang digunakan dalam gangguan ini bertujuan untuk menyatukan seluruh kepribadian menjadi satu kepribadian tunggal.
BAB II
KRITERIA DIAGNOSA DAN ONSET
Untuk mendiagnosa apakah seseorang mengalami gangguan dissociative amnesia, dissociative fugue, dissociative identity disorder, dan depersonalization disorder, maka kita perlu mengetahui diagnosa kriteria dari gangguan tersebut. Adapun kriteria diagnosanya adalah sebagai berikut:
Diagnostic Criteria for Dissociative Amnesia
· Gangguan utama dalam Dissociative Amnesia, adalah ketidakmampuan dalam me-recall informasi personal yang penting sebanyak satu atau lebih periode, biasanya disebabkan oleh trauma atau stress, secara luas hal ini disebut dengan penyakit lupa yang biasa.
· Gangguan tidak terjadi semata-mata selama rangkaian dari Dissociative Identity Disorder, Dissociative Fugue, Postraumatic Stress Dissorder, Acute Stress Disorder atau Somatization Disorder dan tidak secara langsung berpengaruh secara psikologi ( seperti, penyalahgunaan obat-obatan, pengobatan), neurological ataupun kondisi medis yang lainnya.
· Penyebab gejala secara klinis signifikan pada distress ataupun social impairment, pekerjaan, atau fungsi area penting lainnya.
Onset Dissociative Amnesia
Dissociative amnesia dapat muncul pada beberapa kelompok usia, dari anak-anak hingga dewasa. Manisfestasi utama pada kebanyakan individu adalah retrospective gap pada memori. durasi yang dilaporkan dimana terdapat amnesia berkisar antara beberapa menit hingga tahunan. Hanya single amnesia yang dapat dilaporkan, meskipun dua atau lebih episode juga biasanya digambarkan.
Individu yang pernah mengalami satu episode dissociative amnesia memilliki kemungkinan mengalami gangguan traumatik yang berikutnya. Amnesia akut dapat bertahan secara spontan setelah individu dibebaskan dari gangguan traumatic yang berhubungan dengan amnesia.
Beberapa individu dengan amnesia kronik secara berangsur-angsur dapat mengingat kembali dissociated memory. Individu lainnya dapat mengalami bentuk kronis dari amnesia.
Diagnostic Criteria for Dissociative Fugue
Gangguan tama terjadi secara tiba-tiba, perjalanan jauh dari rumah yang tidak terduga atau tempat kerja biasa seseorang, dengan kemampuan mengingat kembali masa lalunya.
Keraguan terhadap identitas personal atau asumsi terhadap identitas baru (sebagian atau penuh).
gangguan tidak terjadi semata-mata selama waktu Dissociative Identity Disorder berlangsung dan tidak mengarah pada efek psikologis ( seperti penyalahgunaan obat-obatan, dan proses pengobatan) atau kondisi medis secara umum (seperti epilepsi temporal lobe).
Gejala yang menyebabkan distress secara significant atau ketidakmampuan dalam lingkungan sosial, pekerjaan, atau fungsi berbagai area penting lainnya.
Onset Dissociative Fugue
Onset dari Dissociative Fugue biasanya berhubungan dengan peristiwa traumatic, Stressful ataupun meliputi peristiwa-peristiwa dalam kehidupan. Kebanyakan kasus Dissocciative Fugue terjadi pada masa adult(dewasa). dalam satu episode Dissociative Fugue bisa terjadi selama beberapa jam bahkan sampai berbulan-bulan. Penyembuhan pada Dissociative Fugue biasanya cepat, tetapi sukar pada DissociativeAmnesia pada beberapa kasus.
Diagnostic Criteria Dissociative Identity Disorder
Kehadiran dua identitas yang jelas atau lebih atau tingkatan kepribadian (yang masing-masing terjadi bersamaan dengan pola pertahanan relatife, dan berfikir tentang lingkungan dan didri sendiri.
Sedikitny a ada dua identitas ataupun kkepribadian yang secara berulang mengontrol perilaku seseorang.
Ketidakmampuan untuk me-recall informasi personal yang penting secara luas dijelaskan dengan penyakit lupa yang biasa.
Gangguan yang tidak secara langsung mempengaruhi psikologi seseorang ( misalnya: penggelapan atau perilaku yang semeraut yang disebabkan oleh minuman yang berakohol) atau kondisi medis yang umum ( misalnya: complex partial seizures)
Onset Identity Disorder
Individu denganDissociative Identity Disorder lebih sering melaporkan pengalaman kekerasan fisik, sexsual abuse, spesial pada usia anak-anak. Kontroversi meliputi laporan yang akurat, karena mmori anak-anak lebih sabjektive, mudah mengalami distorsi. Bagaimanapun, individu dengan Dissociative Identity Disorder memiliki sejarah kehidupan yang berhubungan dengan kekrasan fisik dan kekerasan sexsual. Selanjutnya, individu responsibility untuk melakukan tindakan kekerasan fisik dan kekerasan sexsual dengan mudah untuk menolak atau men-distorsi perilaku mereka. Individu dengan Dissociative Identity Disorder biasanya mengalami postrauma symptom (misalnya; nightmares, flashbacks, dan startle responses) atau Post Traumatic Dissorder. Self mutilation, kasus bunuh diri dan perialku aggresif bisa saja terjadi. beberapa individu mengulang pola dan hubungan yang meliputi kekerasan fisik dan kekerasan sexual. Individu dengan gangguan ini juga mengalami ganguan pada saat makan, tidur, hal-hal yang berhubungan dengan sexsual dan Mood.
Diagnostic Criteria Depersonalization Disorder
Secara terus-menerus atau pengalaman yang berulang terasa terpecah dari, dan seperti seseorang adalah observer dari proses mentalnya atau tubuhnya sendiri dari sisi luar.
Selama berlangsungnya pengalaman depersonalizattion pegujian pertanyaan tetap utuh.
Depersonalization menyebabkan distress yang significant atau ketidakmampuan dalam lingkungan sosial, pekerjaan atau fungsi area-area penting lainnya.
Pengalaman Depersonalization tidak terjadi semata-mata selama berlangsungnya mental disorder lainnya seperti schizoprenia, panic disorder, acute stress disorder , atau dissociative dissorder lainnya dan tidak mengarah pada afek psikologis langsung dari penggunaan obat-obatan. (Seperti:penyalahgunaan obat-obatan atau proses pengobatan atau kondisi medis umum (seperti epilepsi temporal lobe).
Onset Depresonalization dissorder
Individu dengan depresonalization disorder biasanya mengikuti untuk pengobatan pada masa remaja atau dewasa. Meskipun penyakit tersebut memiliki onset yang tidak terdeteksi pada masa anak-anak. Umur rata-rata pada onset sekitar 16 tahun. Karena depersonalization tidak selalu berupa komplain yang ditunjukkan, individu dengan depersonalization yang kambuh terkadangmuncul dengan simtom lainnya seperti anxiety, panik, atau depresi. Durasi episode depersonalization dapat berkisar antara beberapa detik hingga tahunan. Depersonalization berulang pada situasi yang mengancam hidup (seperti perang militer, kecelakaan traumatik, menjadi korban kejahatan) biasanya seketika mengingatkan pada trauma yang berhubungan dengan penyakit ini. penyakit ini biasanya berlangsung kronis dan terkadang episodik.
BAB III
DIAGNOSA PEMBANDING
Untuk lebih memahami tentang kriteria – kriteria tersebut, maka disediakan diagnosa pembanding dari keempat gangguan tersebut.
Amnesia Disorder Due to a General Medical Condition | Amnesia Disorder Due to a Brain Injury |
Konsekuensi fisiologis langsung dari kondisi saraf khusus dankondisi medis umum lainnya | Yang berkaitan dengan kerusakan otak, gangguan dalam proses recall terjadi dalam dua hal, Retrograde dan anterogred. Gangguan amnesia yang banyak terjadi adalah anterograde |
Seizure Disorder | Delirium dan Dementia |
Kerusakan memori karena serangan tiba-tiba | Kehilangan memori mengenai diri karena memburuknya proses kognitif, linguistik, affective, attentional, perceptual, dan behavioral disturbances |
Substance Induced Perissting Amnestic Disorder | Substence Intoxication |
Kehilangan memori dalam beberapa menit karena penggunaan obat-obat terlarang, mengakibatkan rusaknya short term memory | Kehilangan memori secara tiba-tiba yang di sebabkan kegirangan hati maupun depresi yang abnormal |
Dissosiative Fugue | Dissosiative Identity Disorder | Depersonalization Disorder |
Mengalami amnesia total. Seperti meninggalkan rumah, mengubah cara hidupnya dalam beberapa kasus juga mengubah pekerjaannya. | Mengalami gangguan padaidentitasnya | Dimana seseorang mengalami/merasakan dirinya tidak nyata (pengalaman sensori yang tidak nyata) |
Posttraumatic Stress Disorder | Acute Stress Disorder |
Mengalami stres setelah peristiwa traumatis | Mengalami stres tingkat tinggi pada suatu peristiwa |
Dissociative Fugue | direct physiological consequence of a specific general medical condition |
- Epileptic fugue biasanya dapat ditandai karena individu akan terlihat dari aura, ketidakabnomalan, prilaku stereotip, perubahan persepsi, postical state dan ketidakabnormalan dalam EEG pada individu.
- tidak didiagnosa sebagai mental disorder not otherwise specified due to a general medical condition | - Individu dengan complex partial seizures di nyatakan yaitu dalam melakukan prilaku yang semipurpose selama postictal states yang selanjutnya amnesia
- didiagnosa sebagai mental disorder not otherwise specified due to a general medical condition - cth: sakit kepala |
Dissociative Fugue | Dissociative amnesia dan depersonalization disorder |
Jika symptom – symptom fugue hanya terjadi selama the course of dissociative identity disorder, dissociative fugue seharusnya didiagnosa secara terpisah. | Dissociative amnesia dan depersonalization disorder seharusnya tidak didiagnosa secara terpisah jika symptom – symptom amnesia dan depersonalization terjadi hanya selama the course of a dissociative fugue. |
Dissociative Fugue | manic episode |
pada dissociative fugue, individu pada manic episode akan amnesia pada beberapa periode dalam hidupnya, secara khusus untuk prilaku yang terjadi selama euthymic atau ketika depresi | pada manic episode, hal ini di hubungkan dengan hal-hal yang besar dan symptom – symptom manic lainnyadan individu sering menganggap diri mereka dengan prilaku yang appropriate. |
Dissociative Fugue | Schizophrenia |
individu dengan dissociative fugue secara umum tidak menunjukkan psikopatologi yang berhubungan dengan schizophrenia.(seperti delusi, simptom negatif). | Memori tentang kejadian-kejadian selama wandering episode pada individu dengan schizophrenia mungkin sulit untuk ditentukan karena bicara individu yang tidak terstruktu |
Dissociative Fugue | Malingered fugue states |
Dissociative Fugue juga ditandai dengan individu yang berusaha lari dari situasi yang sebenarnya, masalah keuangan, kesulitan kepribadian, seperti tentara yang berusaha untuk mencegah perkelahian atau tugas-tugas militer yang tidak mneyenangkan namun hanya dalam keadaan hipnotis. | pada individu yang berusaha lari dari situasi yang sebenarnya, masalah keuangan, kesulitan kepribadian, seperti tentara yang berusaha untuk mencegah perkelahian atau tugas-tugas militer yang tidak mneyenangkan. |
Dissociative Identity Disorder | direct physiological effects of a general medical condition |
- Pelajar EEG, mengutamakan tidur sangat kekurangan dan dengan nasopharyngeal antaran, boleh membantu memperjelas hasil diagnosa yang berbeda. - Diagnosis pada Dissosiative Identity Disorder membuat hak yang paling tinggi dengan Dissosiative Amnesia, Disssosiative Fugue, Depersonalization Disorder. - Perbedaan diagnosis antara Dissosiative Identity Disorder dan varietas mental disorder lainnya ( mencakup Schizophhrenia dan Psychotic Disorder, Bipolar Disorder, dengan Rapid Cycling, Anxiety Disorder, Somatization Disorder, dan Personality Disorder) - Malingering dalam situasi mungkin ada finansial atau keuntungan forensik dan dari Factitious Disorder di mana mungkin ada suatu pola teladan help-seeking perilaku. | - Penentuan ini didasarkan sejarah, menemukan laboratory atau pengujian physical. - Symptomnya disebabkandirect pshysilogical effect of a substance - Cth: ( obat/racun penyalahgunaan atau suatu pengobatan) - Di diagnosis sebagai Dissosiative Disorder Not Otherwise Specified
|
Depersonalization | physiological consequence of a specific general medical condition |
- Depersonalization Disorder tidak seharusnya di diagnosis secara tepisah ketika symptom terjadi hanya Panic Attack bagian dari Panic Disorder, Social atau Specific Phobia, atau Posttraumatic atau Acute Stress Disorders. - Cth: Schizophrenia | - Depersonalization disebabkan oleh direct pshysilogical effect of a substance. - obat/racun penyalahgunaan atau suatu pengobatan |
Diffreential diagnosis
Identitas dissosiative seharusnya yang membedakan dari symptom yang mengarahkan pada efek psychological untuk kondisi medical yang umum. Penentuan ini didasarkan sejarah, menemukan laboratory atau pengujian physical. Disorder seharusnya yang membedakan dari syimptom dissosiative yang berkaitan dengan perampasan complex partial, walaupun 2 gangguan boleh terjadi.
Episode perampasannya adalah meringkas yang umum (30 detik samapi 5 menit) dan tidak melibatkan kompleks dan structur identitas yang kronis dan tipikal perilaku ditemukan dalam Dissosiative identity disorder. Juga, seatu sejarah fisik dan penyalahgunaan seksual adalah lebih sedikit individu umum dengan perampasan parsial kompleks. Pelajar EEG, mengutamakan tidur sangat kekurangan dan dengan nasopharyngeal antaran, boleh membantu memperjelas hasil diagnosa yang berbeda.
Symptom disebabkan oleh direct pshysilogical effect of a substance seharusnya yang mebedakan dari Dissosiative identity disorder pada fakta suatu unsur ( obat/racun penyalahgunaan atau suatu pengobatan) dihakimi untuk menjadi etiologically dihubungkan dengan gangguan itu.
Diagnosis pada Dissosiative Identity Disorder membuat hak yang paling tinggi dengan Dissosiative Amnesia, Dissosiative Fugue, Depersonalization Disorder. Individual dengan Dissosiative Identity Disorder seharusnya yang membedakan dari ini dengan trance.
Perbedaan diagnosis antara Dissosiative Identity Disorder dan varietas mental disorder lainnya ( mencakup Schizophhrenia dan Psychotic Disorder, Bipolar Disorder, dengan Rapid Cycling, Anxiety Disorder, Somatization Disorder, dan Personality Disorder) adalah komplikasi olehyang oleh overlap presentasi gejala.
Dissosiative Identity Disorder seharusnya yang membedakan dari Malingering dalam situasi dimana mungkin ada finansial atau keuntungan forensik dan dari Factitious Disorder di mana mungkin ada suatu pola teladan help-seeking perilaku.
Differential Diagnosis
Depersonalization Disorder seharusnya yang membedakan dari symptom dari gejala adalah dalam kaitan dengan konsekwensi physiological suatu kondisi medis umum yang spesifik.penentuan ini didasarkan sejarah, menemukan laboratory atau pengujian physical. Depersonalization disebabkan oleh direct pshysilogical effect of a substance seharusnya yang mebedakan dari Depesonalization disorder pada fakta suatu unsur ( obat/racun penyalahgunaan atau suatu pengobatan) dihakimi untuk menjadi etiologically dihubungkan dengan depersonalization. Acute Intoxication o Withdrawal dari alkohol dan varietas dari unsur lain yang mendapatkan hasil dari depersonalization.
Depersonalization Disorder tidak seharusnya di diagnosis secara tepisah ketika symptom terjadi hanya Panic Attack bagian dari Panic Disorder, Social atau Specific Phobia, atau Posttraumatic atau Acute Stress Disorders. Dalam kontras pada Schizophrenia, tesnya tetap utuh di rawat Depersonalization Disorder. .
BAB IV
ETIOLOGI DAN TERAPI
Etiologi Gangguan Disosiatif
Istilah gangguan disosiatif merujuk pada mekanisme, dissosiasi, yang diduga menjadi penyebabnya. Dalam sejarahnya, konsep ini berasal dari tulisan karya Pierre Janet, neurolog berkebangsaan Prancis. Pemikiran dasarnya adalah kesadaran biasanya merupakan kesatuan pengalaman, termasuk kognisi, emosi, dan motivasi. Namun dalam kondisi stress, memori trauma dapat disimpan dengan suatu cara sehingga dikemudian hari tidak dapat diakses oleh kesadaran seiring dengan kembali normalnya kondisi orang yang bersangkutan (Kihlstrom, Tataryn & Holt, 1993). Kemungkinan akibatnya adalah amnesia atau fugue.
Secara umum para teoris behavioral menganggap dissosiasi sebagai respons menghindar yang melindungi seseorang dari berbagai kejadian yang penuh stress dan ingatan akan kejadian tersebut.
Sebuah masalah dalam semua teori, baik psikoanalisis ataupun behavioral, yang beranggapan bahwa berbagai kenangan traumatis dilupakan atau dissosiasikan karena sifatnya yang menyakitkan. Ini merupakan suatu hal yang dapat ditemukan pada gangguan stress pascatrauma, dimana seseorang terkadang dikuasai oleh berbagai citra yang mengganggu dan berulang tentang kejadian traumatik dimasa lalu. Namun respon pada kritik ini adalah bahwa gangguan dissosiatif relatif cukup jarang terjadi dibandingkan dengan frekuensi trauma yang dialami oleh banyak orang. Dengan kata lain, memang demikianlah adanya, sebagaimana pendapat Shobe dan Kihlstrom (1997), bahwa respon uum terhadap trauma adalah menguatnya memori, namun kita tidak berbicara mengenai cara merespons yang umum bila menyangkut gangguan dissosiatif.
Etiologi Dissosiative Identity Disorder(DID)
Terdapat dua teori besar mengenai DID. Salah satu teori berasumsi bahwa DID berawal pada masa kanak-kanak yang diakibatkan oleh penyiksaan berat secara fisik atau seksual. Penyiksaan tersebut mengakibatkan dissosiasi dan terbentuknya berbagai kepribadian lain sebagai suatu cara untuk mengatasi trauma (Gleaves, 1996). Memang terdapat bukti empiris bahwa penyiksaan anak mempunyai kaitan dengan perkembangan simtom-simtom dissosiatif (Chu dkk, 2000). Namun, karena tidak semua orang yang mengalami penyiksaan pada masa kecilnya menderita DID, ada pendapat bahwa terdapat di athesis diantara mereka yang menderita DID. Salah satu pemikiran adalah bahwa kondisi sangat mudah dihipnotis memfasilitasi terbentuknya berbagai kepribadian melaui hipnotis diri sendiri (Bliss, 1983). Diathesis lain yang diajukan adalah orang-orang yang menderita DID memiliki kecendrungan tinggi untuk berfantasi (Lynn dkk, 1988).
Teori lain beranggapan bahwa DID merupakan pelaksanaan peran sosial yang dipelajari. Berbagai kepribadian yang muncul pada masa dewasa, umumnya karena berbagai sugesti yang diberikan terapis (Lilienfeld dkk, 1999; Spanos, 1994). Dalam teori ini DID tidak dianggap sebagai penyimpangan kesadaran , masalahnya tidak terletak pada DID benar-benar dialami atau tidak, namun bagaimana DID terjadi dan menetap.
Spanos (1994) merupakan pendukung utama pemikiran bahwa DID pada dasarnya merupakan permaianan peran. Dia mengungkapkan, contohnya bahwa sejumlah kecil ahli klinis memberikan kontribusi terbesar terhadap diagnosis DID. Spanos dkk, berpendapat bahwa beberapa orang yang tampil sebagai orang yang memiliki banyak kepribadian dapat memiliki sangat banyak fantasi kehidupan dan sering berlatih membayangkan bahwa mereka adalah orang lain. Walaupun demikian, harus diingat bahwa penjelasan diatas hanya menunjukkan bahwa permainan peran semacam itu merupakan hal yang mungkin sama sekali tidak menunjukkan bahwa kasus-kasus kepribadian ganda memiliki ciri-ciri semacam itu. Terlebih lagi dampak berbagai studi permainan peran semacam itu tergantung seberapa menyakinkan permaianan peran tersebut sebagai analogi DID.
Bukti-bukti penting mengenai dua teori tersebut adalah apakah seseorang benar-benar menderita DID pada masa kanak-kanak sebelum menjalani terapi dan apakah hal itu terkait dengan penyiksaan yang dialami. Ketika para pasien penderita DID menjalani terapi, umumnya mereka tidak menyadari adanya kepribadian lain. Namun, seiring berjalannya terapi kepribadian-kepribadian tersebut muncul dan pasien menuturkan bahwa kepribadian tersebut bermula pada masa kanak-kanak. Walaupun demikian, umumnya tidak ada bukti-bukti yang menguatkan hal ini.
Walaupun demikian, salah satu studi cukup dapat memberikan data yang lebih jelas mengenai terjadinya gangguan pada masa kanak-kanak dan penyiksaan dalam kasus-kasus DID walupun menuai kritik dari para pendukung teori pelaksanaan peran (Lilienfeld dkk, 1999). Studi tersebut yang berlangsung selama lebih dari dua dekade, meneliti 150 orang terdakwa kasus pembunuhan secara rinci (Lewis dkk, 1997). Ditemukan 14 kasus DID studi tersebut penting dilakukan terhadap para terdakwa kasus pembunuhan karena dalam situasi ini mengambil peran sebagai penderita DID akan memberikan manfaat yang nyata. Namun bukti-bukti menunjukkan bahwa 12 dari 14 kasus telah mengalami simtom-simtom DID jauh sebelum mereka dipenjara; 8 orng pernah mengalami trance pada masa kanak-kanak, 9 orang mengalami halusinasi pendengaran dan 10 orang memiliki teman-teman imajiner. Setiap simtom diperkuat oleh sekurang-kurangnya tiga sumber dari luar (wawancara dengan keluarga, guru, petugas pembebasan bersyarat). Terlebih lagi, beberapa kasus menunjukkan gaya tulisan tangan yang sangat berbeda jauh sebelum mereka melakukan kejahatan tersebut.
Hal yang juga penting dalam studi ini adalah dokumentasi penyiksaan fisik atau seksual pada masa kanak-kanak. Sekali lagi, hal tersebut dikonfirmasi oleh sumber-sumber luar dan bukti-bukti fisik seperti bekas luka. Memang penulis mengistilahkan sebagai “abuse” tidak cukup tepat menggambarkan perlakuan salah yang diterima para individu tersebut istilah yang tepat adalah “torture”
Terapi Untuk Gangguan Dissosiatif
Dalam tiga gangguan dissosiatif amnesia, fugue, dan gangguan identitas dissosiatif para penderita menunjukkan perilaku yang secara sangat menyakinkan menunjukkan bahwa mereka tidak dapat mengakses berbagai bagian kehidupan pada masa lalu yang terlupakan. Dan karena pada saat yang sama mereka tidak menyadari bahwa mereka lupa akan bagian dari masa lalu mereka, hipotesis bahwa terdapat bagian besar dalam kehidupan mereka yang direpres atau didissosiasi merupakan hipotesis yang menyakinkan (MacGregor, 1996).
Konsekuensinya, terapi psikoanalisis mungkin lebih banyak dipilih untuk gangguan dissosiatif dibanding masalah-masalah psikologis lain. Tujuan untuk mengangkat represi menjadi hukum sehari-hari, dicapai melalui penggunaan berbagai teknik psikoanalitik dasar.
Karena gangguan dissosiatif secara luas diyakini muncul akibat kejadian traumatis yang berusaha dihambat dari kesadaran orang yang bersangkutan, terdapat keterkaitan antara terapi untuk gangguan ini dan terapi untuk gangguan stress pascatrauma. Selama bertahun-tahun para praktisi menggunakan hipnotis bagi para pasien yang didiagnosis menderita gangguan disosiatif untuk membantu mereka mengakses bagian kepribadian yang tersembunyi-akses ke identitas yang hilang atau serangkaian kejadian yang memicu atau berasal dari suatu trauma.
Seperti disebutkan sebelumnya, para pasien DID sangat mudah dihipnotis, dan diyakini bahwa mudahnya mereka dihipnotis dimanfaatkan oleh mereka (tanpa disadari) untuk mengatasi stress dengan menciptakan kondisi disosiatif yang mirip dengan trance untuk mencegah munculnya ingatan yang menakutkan tentang berbagai kejadian traumatis (Butler dkk, 1996). Karena alasan ini, hipnotis umum digunakan dalam penanganan DID (Putnam, 1993). Secara umum pemikirannya adalah pemulihan kenangan menyakitkan direpres akan difasilitasi dengan menciptakan kembali situasi penyiksaan yang diasumsikan dialami pasien, sebuah hipotesis yang konsisten dengan penelitian mengenai pembelajaran yang tergantung pada keadaan (Bower, 1981; Eich, 1995). Ironis bahwa intervensi berbasis keluarga dibahas tidak sesering terapi individual dalam literatur penanganan DID, karena DID diyakini secara luas diakibatkan oleh hubungan keluarga yang bermasalah, khususnya penyiksaan fisik dan seksual dimasa kanak-kanak pasien (Simon,1998). Terdapat beberapa prinsip yang disepakati secara luas dalam penanganan gangguan identitas disosiatif, terlepas dari orientasi ahli klinis (Bower dkk, 1971; Caddy, 1985; Kluft, 1985, 1999; Ross, 1989).
1. Tujuannya adalah integrasi beberapa kepribadian
2. Setiap kepribadian harus dibantu untuk memahami bahwa dia adalah bagian dari satu orang dan kepribadian-kepribadian tersebut dimunculkan oleh diri sendiri.
3. Terapis harus menggunakan nama setiap kepribadian hanya untuk kenyamanan, bukan sebagai cara untuk menegaskan eksistensi kepribadian yang terpisah dan otonom yang tidak memiliki tanggung jawab secara keseluruhan atas berbagai tindakan orang yang bersangkutan secara keseluruhan.
4. Seluruh kepribadian harus diperlakukan dengan adil dan empati.
5. Terapis harus mendorong empati dan kerja sama diantara berbagai kepribadian.
6. Diperlukan kelembutan dan dukungan berkaitan dengan trauma masa kanak-kanak yang mungkin telah memicu berbagai kepribadian.
Tujuan setiap pendekatan terhadap DID haruslah untuk meyakinkan penderita bahwa memecahkan diri menjadi beberapa kepribadian yang berbeda tidak diperlukan lagi untuk menghadapi berbagai trauma, baik trauma di masa lalu yang memicu dissosiasi awal atau trauma di masa kini atau yang akan dihadapi di masa mendatang. Selain itu, dengan asumsi bahwa DID dan gangguan dissosiatif lain dalam beberapa hal merupakan respon pelarian dari stres yang sangat berat, penanganan dapat ditingkatkan dengan mengajarkan pada pasien untuk mengahadapi berbagai tantangan masa kini dengan lebih baik. Semakin banyak jumlah kepribadian, semakin lama penanganan yang diperlukan (putnam dkk, 1986); secara umum, terapi memerlukan waktu selama hampir selama 2 tahun dan lebih dari 500 jam per pasien.
DAFTAR PUSTAKA
Davidson, C. Gerald, Neale, M. John & Kring, M. Ann. (2004). “Abnormal Psychology”. United States Of America: John Wiley & Sons, inc.
American Psychiatric Association(2000). “Diagnostic And Statistical Manual Of Mental Disorders”.
KELOMPOK 3
CUT RAHMI PUTRIANTARI 07-005
MUFIDAH RANGKUTI 07-010
FITRI SUSANTI 07-018
SEPTRIANI 07-020
IRMA AULIAH 07-027
PUTRI LIA RAHMAN 07-033
AHMAD JUNAEDI 07-074
ARMEN JENRANLI 07-057
DIDIER SINAGA 07-049
NONI LARA SESTIA 07-092
MUTHIA SHEILA AYU 07-094
FARHANI INESYA PUTRI 07-106
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar